Angkutan Lebaran Berkah Bagi Porter Pelabuhan Bakauheni

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

235

LAMPUNG — Permintaan jasa porter di pelabuhan Bakauheni mengalami peningkatan pada angkutan lebaran 2018. Hal tersebut juga berdampak kepada pemasukan kuli angkut barang yang sedianya mencari nafkah di jalur penyeberangan antarpulau Sumatera-Jawa.

Kenaikan permintaan tersebut diakui oleh Suhendar (30) warga Kalianda yang sudah menjadi porter sejak lima tahun terakhir. Ia menilai, saat ini banyak pemudik yang pulang dengan menenteng barang bawaan.

Pemudik dengan membawa tas, kardus berisi oleh-oleh, barang elektronik dan lainnya bahkan pernah menggunakan jasanya. Pada hari normal, penghasilan hanya berkisar Rp300 ribu. Saat libur panjang dan angkutan lebaran mencapai Rp800ribu per hari bahkan lebih.

Selain itu, sistem shift disebutnya dilakukan untuk semua porter di pelabuhan Bakauheni dengan jumlah 70 orang.

“Para porter pelabuhan memiliki dua shift kerja saat siang dan pagi untuk meminimalisir penumpukan jumlah penyedia jasa angkut barang,” terang Suhendar salah satu porter di pelabuhan Bakauheni Lampung saat ditemui Cendana News di pelabuhan Bakauheni Lampung, Senin (11/6/2018).

Menggunakan seragam warna merah dengan nomor di bagian dada membuat para porter kerap disebut ”si baju merah”. Selain memudahkan para penumpang kapal, porter juga kerap membantu penumpang di terminal antarmoda pelabuhan Bakauheni. Sebagian penumpang yang membawa barang bawaan untuk dibawa ke kapal setelah turun dari kendaraan dari beberapa jurusan di Lampung.

Selama angkutan lebaran ia menyebut dari total sebanyak 70 orang porter yang terdaftar sebagian bekerja siang hari. Mereka mulai bekerja sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. Saat malam hari sebagian porter bekerja mulai pukul 21.00 hingga pukul 05.00. Dengan waktu kerja dua shift diakuinya tidak ditentukan jumlahnya menyesuaikan kemampuan tenaga setiap porter.

Para porter disebutnya mengandalkan tenaga untuk mengangkut barang bawaan milik penumpang pejalan kaki. Selain tenaga dirinya bahkan masih mengandalkan tali terbuat dari kain untuk memudahkan merangkai barang bawaan sekaligus. Terkait ongkos untuk pengangkutan barang tergantung kesepakatan antara pemilik barang dan porter.

“Sebagian besar pemudik sudah bisa memperkirakan tarif jasa angkut sehingga pemudik dan porter tidak dirugikan,” cetus Suhendar.

Eko Sujadi
Eko Sujadi, salah satu porter pelabuhan Bakauheni yang memanfaatkan momen lebaran Idul Fitri 2018 [Foto: Henk Widi]
Tarif yang ditentukan biasanya memperhitungkan jumlah barang bawaan mulai dari Rp30.000 hingga Rp50.000 bahkan bisa lebih. Berdasarkan pengalaman sejumlah pemudik kerap memberinya tips tambahan.

“Sebagian pemudik memberi uang lebih saat arus mudik lebaran,” sebutnya.

Porter pelabuhan lain, Eko Sujadi (27) warga Kalianda mengaku saat angkutan lebaran dirinya bisa memperoleh penghasilan besar. Selain jumlah pemudik pejalan kaki dari Pulau Jawa yang meningkat, kedatangan calon penumpang pengguna kapal dari Pulau Sumatera juga memberi dampak positif. Eko Sujadi menyebut sengaja memilih shift siang karena sebagian pemudik enggan mengangkut barang bawaan terutama para wanita.

“Pengguna jasa porter umumnya merupakan wanita yang tidak kuat membawa barang bawaan dan juga orangtua yang juga membawa serta anak saat mudik,” beber Eko Sujadi.

Jasa porter disebutnya kerap harus membawa barang dengan jarak berkisar 100 meter hingga 300 meter. Jarak terdekat mengangkut barang diakuinya mulai dari terminal antarmoda saat penumpang turun dari kendaraan menuju dermaga dua.

“Jarak terjauh ditempuh dari loket pembelian tiket menuju ke dermaga satu dan dermaga tiga dengan jarak sekitar 300 meter melalui gangway,” tambahnya.

Baca Juga
Lihat juga...