Angkutan Lebaran, Puluhan Ton Sampah Diangkut dari Kapal Roro Setiap Hari

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

242

LAMPUNG — Antisipasi dibuang ke laut di lintasan Selat Sunda setiap kapal yang berlayar dari pelabuhan Bakauhen ke Banten diberi fasilitas kantong sampah.

Selama hari biasa, petugas kebersihan di kapal mengumpulkan sekitar 15 hingga 20 kantong dengan rata-rata berat 20 kilogram diangkut dari kapal. Jumlah tersebut meningkat saat angkutan lebaran berjumlah 100 kantong per kapal per hari atau sebanyak 2 ton per hari dalam satu trip.

Hendra (30), petugas kebersihan di KMP Duta Banten menyebutkan, meski ada imbauan baik tertulis maupun melalui pengeras suara, sejumlah penumpang masih kedapatan membuang sampah bekas minuman dan makanan instan ke laut.

“Sampah yang terbuang ke laut  kerap terbawa arus dan mengganggu arus pelayaran. Hal tersebut ikut mengganggu proses masuk dan keluar kapal,” terang Hendra salah satu petugas kebersihan di KMP Duta Banten saat ditemui Cendana News, Rabu (20/6/2018).

Disebutkan, kantong plastik yang penuh akan diangkut ke titik pengumpulan pada ruang dek kendaraan. Selanjutnya akan diambil oleh mobil sampah yang dikelola oleh Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap).

Proses pengangkutan dengan cepat dilakukan menyesuaikan dengan waktu pelayanan kapal hingga 45 menit, agar mobil sampah bisa dengan cepat keluar dari dek kendaraan.

Sampah
Proses pemilahan sampah dilakukan untuk memisahkan sampah yang tidak bisa dipakai dan sampah bisa dijual [Foto: Henk Widi]
Ujang (40) salah satu petugas mobil sampah bersiaga saat kapal sandar di sebanyak enam dermaga. Ia harus cepat bersiap di dekat pintu kapal (ramdoor).

Kendaraan pengangkut saat hari biasa dioperasikan sebanyak 3 unit dan dilakukan penambahan tiga unit menyesuaikan volume sampah. Saat hari biasa ia memastikan hanya mengangkut maksimal 15 kantong plastik dan saat lebaran bisa 100 kantong plastik.

“Meningkatnya volume sampah di kantong plastik berarti kesadaran penumpang untuk menjaga kebersihan laut sangat tinggi,”beber Ujang.

Pada hari biasa Ujang mobil bisa penuh setelah lima hingga enam kapal sandar. Namun saat arus lebaran dari dua hingga tiga kapal sudah penuh dan dibuang ke tempat pembuangan akhir di dusun Gubuk Seng.

Sebagai petugas, Artiya menyebut digaji Rp5 juta per bulan dibagi untuk kernet Rp1,2 juta dan Rp3,8juta. Gaji tersebut cukup menjanjikan karena ia masih bisa melakukan kegiatan pengumpulan sampah bernilai jual seperti botol bekas air mineral.

Lihat juga...

Isi komentar yuk