Aplikasi Buatan Mahasiswa UB Ini Diminati Malaysia

Editor: Mahadeva WS

371
Anjas Pramono Sukamto, menunjukkan aplikasi Difodeaf - Foto Agus Nurchaliq

MALANG – Aplikasi Dictionary for Deaf (Difodeaf) buatan tiga mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer (Filkom), Universitas Brawijaya (UB) meraih medali perak dalam ajang Interansional Crown International Invention, Innovation and Articulation (I-IDEA 2018 CROWN) yang diselenggarakan di Universiti Teknologi MARA, Malaysia. 

Tidak hanya memperoleh medali, aplikasi buatan Anjas Pramono Sukamto, Avisenna Abdillah Alwi dan Jauhar Bariq Rachmadi tersebut juga diminati salah satu dosen di Malaysia untuk dijadikan sebagai jurnal Internasional.

Ketua tim Anjas Pramono Sukamto menjelaskan, Difodeaf merupakan aplikasi untuk memudahkan masyarakat dalam berkomunikasi dengan penyandang tunarungu dan tunawicara. “Difodeaf merupakan aplikasi kamus yang mampu mengubah kata atau kalimat bahasa Inggris atau bahasa Indonesia menjadi gambar ilustrasi dalam bahasa isyarat,” jelasnya.

Dasar yang digunakan dalam penerjemahan pada aplikasi Difodeaf adalah American Sign Language (ASL). Sehingga bahasa isyarat dalam Difodeaf dapat digunakan untuk skala internasional. Oleh karenanya, program tersebut tidak terbatas untuk penggunaan di lokal Indonesia saja.

Pemerintah sebenarnya sudah memiliki kamus bahasa Isyarat, hanya saja masih berupa buku atau hard cover. Dan ketiga mahasiswa tersebut mencoba untuk merubahnya menjadi kamus elektronik atau digital. Hal itu untuk memudahkan penggunaanyan. “Saat ini Difodeaf sudah tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sehingga bisa digunakan siapa saja,” imbuhnya.

Pembuatan aplikasi Difodeaf dilatarbelakangi, banyaknya mahasiswa Filkom yang menjadi penyandang Disabilitas. Setidaknya saat ini di Filkom UB ada hampir 20 mahasiswa penyandang disabilitas terutama tunarungu dan tunawicara.

Para penyandang disabilitas tersebut disebut Anjas seolah-olah terinkubasi oleh sosial yang disebabkan permasalahan kesulitan dalam berkomunikasi. Hal itu yang mendorong untuk melakukan riset. Hasilnya, mayoritas manusia yang terlahir normal tidak bisa memahami bahasa isyarat. Sementara penyandang tunarungu dan wicara untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Tampilan Aplikasi Difodeaf – Foto Agus Nurchaliq

“Oleh karen itu kami berinisiatif bagaimana caranya mengedukasi masyarakat tentang apa itu Disabilitas dan apa itu bahasa isyarat. Karena saya adalah anak Informatika, akhirnya saya berinisiatif membuat kamus untuk mempermudah masyarakat agar lebih mudah berkomunikasi dengan teman-teman tunawicara dan wicara,” terangnya.

Harapannya, Difodeaf dapat menjadikan masyarakat bisa menggunakan bahasa isyarat, sehingga kasus bulying kepada penyandang disabilitas dapat dikurangi atau bahkan dihindarkan. Meskipun masih dalam bentuk prototipe, Difodeaf sudah bisa digunakan namun kendati belum maksimal. “Kita juga akan segera mematenkan aplikasi Difodeaf, tandasnya.

Anjas berharap, pemerintah dalam hal ini Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dapat memberikan perhatian kepada aplikasi Difodeaf. “Saya rela memberikan hibah secara cuma-cuma kepada Kemenristekdikti asalkan mereka mau mengembangkan aplikasi tersebut dan digunakan untuk proyek sosial terutama dibidang pendidikan bagi teman-teman disabilitas,” tandasnya.

Hanya saja, hingga kemarin, belum ada tanggapan dari Kemenristekdikti. Padahal, saat timnya mengikuti lomba di Malaysia, sudah ada salah satu dosen di Malaysia yang mengaku tertarik untuk mengangkat aplikasi Difodeaf menjadi jurnal internasional. “Tetapi sampai sekarang saya masih enggan untuk melakukan MoU karena saya masih percaya bahwa suatu saat nanti pemerintah akan melirik aplikasi ini dan mengembangkannya,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.