Arus Balik Lebaran, Keuntungan Menggiurkan Pedagang Musiman

Editor: Satmoko Budi Santoso

241

LAMPUNG – Hari raya Idul Fitri dengan tradisi mudik dan balik menjadi peluang usaha bagi warga yang tinggal di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Peluang usaha yang dilirik oleh warga Desa Hatta Kecamatan Bakauheni di antaranya berjualan oleh-oleh khas Lampung.

Susanto (30), salah satu warga menyebut, tahun ini merupakan tahun kesembilan dirinya memanfaatkan arus angkutan Lebaran untuk berjualan. Arus mudik dan balik disebutnya memberi keuntungan sebagai pedagang oleh-oleh musiman.

Susanto menyebut, beberapa barang yang dijual di antaranya kopi bubuk, keripik, kerupuk kemplan panggang, minuman ringan hingga buah segar khas Lampung seperti sirsak, pisang, nangka.

Lokasi berjualan oleh-oleh pedagang musiman tak jauh dari Pelabuhan Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Oleh-oleh khas tersebut sudah dijual pedagang musiman sejak arus mudik H-7 (8/6) dengan lokasi di sisi kiri bahu Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dari Bakauheni arah Bandarlampung. Sebaliknya pada hari Lebaran kedua hingga H+7 dirinya beralih di sisi kanan bahu Jalinsum.

Perubahan lokasi berjualan tersebut menyesuaikan dengan arus kedatangan pemudik asal Jawa ke Sumatera. Pada arus mudik, Susanto bersama ratusan pedagang musiman lain sengaja menyiapkan lapak dadakan terbuat dari bambu, kayu beratapkan terpal.

Meski sederhana, ia menyebut, tempat berjualan dadakan tersebut bisa menghasilkan keuntungan Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari. Hasil tersebut diakuinya diperoleh saat Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) belum dioperasikan dengan jalan utama menggunakan Jalinsum.

“Saya bersama istri memiliki warung di rumah. Saat angkutan Lebaran sengaja memanfaatkan peluang untuk berjualan di sepanjang Jalinsum dengan harapan mendapatkan pembeli banyak,” terang Susanto, salah satu warga yang memanfaatkan arus balik untuk berjualan oleh-oleh saat ditemui Cendana News di dekat rest area Bakauheni, Sabtu (16/6/2018).

Pembeli memilih oleh-oleh sebelum membeli tiket di Pelabuhan Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Susanto menyebut, pada dua tahun sebelumnya, pada arus mudik dan balik dalam satu kali berjualan dirinya bisa memperoleh omzet sekitar Rp3 juta saat arus mudik dan Rp5 juta saat arus balik.

Omzet yang meningkat tersebut diakuinya diperoleh dengan adanya faktor kendaraan roda dua dan roda empat yang kerap mampir di KM 01 Bakauheni. Saat arus mudik pemudik asal Pulau Jawa yang melintas bahkan memilih mampir di lokasi tempat berjualan oleh-oleh untuk membeli minuman ringan dan oleh-oleh.

Keuntungan menjanjikan tersebut hanya diperoleh saat arus mudik hingga arus balik. Saat hari biasa ia menyebut hanya berjualan di warung miliknya dengan omzet sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari.

Saat angkutan mudik dan balik Lebaran ia sengaja membeli kerupuk kemplang, keripik dan oleh-oleh lain dari produsen di wilayah Sidomulyo, Bakauheni. Sistem kulakan disebutnya dilakukan sepekan sebelum arus mudik dan arus balik.

“Kami pesan jauh hari agar mendapat barang untuk dijual karena saat arus Lebaran banyak warga yang mencoba peruntungan sebagai pedagang musiman,” terang Susanto.

Rest area giant letter Bakauheni menjadi lokasi berjualan oleh-oleh [Foto: Henk Widi]
Omzet sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta dengan keuntungan bersih sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta diakui Susanto hanya diperoleh saat angkutan Lebaran. Harga oleh-oleh di antaranya kerupuk kemplang dengan harga berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000  dijual bersama dengan beberapa minuman ringan yang dijual Rp5.000 hingga Rp8.000 per botol.

Pedagang lain bernama Zainudin (30) sehari-hari bekerja sebagai pengurus jasa penyeberangan truk ekspedisi. Saat kendaraan truk nonsembako dilarang melintas pada arus mudik, dirinya memilih mencoba peruntungan dengan berjualan oleh-oleh.

Setiap angkutan Lebaran dengan keuntungan menjanjikan, Zainudin memilih area bahu jalan untuk berjualan. Sebelumnya, lokasi berjualan hingga pintu masuk pelabuhan bisa dipergunakan tapi satu tahun terakhir ada larangan diberlakukan guna mengurangi kemacetan.

“Dua tahun ini lokasi berjualan diperbolehkan sekitar satu kilometer dari Pelabuhan Bakauheni untuk atasi kemacetan,” beber Zainudin.

Meski berjualan musiman cukup menjanjikan, Zainudin justru mengalami penurunan omzet berjualan dua tahun terakhir. Faktor semakin sedikitnya kendaraan roda empat melintas di Jalinsum dan memilih jalan tol Sumatera menjadi penyebab menurunnya pendapatan.

Ia bahkan biasa menjual sekitar tiga ball kerupuk kemplang ukuran kecil berisi 20 bungkus kerupuk, kini hanya bisa menjual dua ball.

Meski mengalami penurunan omzet, ia menyebut, berdagang musiman masih tetap menjanjikan. Selain memiliki warung di rumah ia mengaku peluang saat angkutan mudik Lebaran menjadi sumber penghasilan alternatif.

Dibanding penghasilan berjualan di warung, penjualan dengan sistem musiman memberi penghasilan lebih besar dibandingkan berjualan di warung.

Baca Juga
Lihat juga...