Arus Mudik dan Balik, Berkah Tukang Pijat

Editor: Makmun Hidayat

272

LAMPUNG — Arus mudik dan balik lebaran atau Idul Fitri melalui Pelabuhan Bakauheni menjadi berkah bagi sejumlah pelaku usaha. Termasuk di antarannya jasa pijat.

Beberapa pedagang oleh-oleh khas Lampung seperti keripik, kemplang dan minuman ringan mendapatkan omzet ratusan ribu perhari lebih tinggi dibanding hari biasa. Berkah arus mudik dan balik juga dirasakan oleh Rohim (24), salah satu pemuda warga Desa Hatta Kecamatan Bakauheni yang memiliki keahlian memijat.

Pemuda tamatan SMP yang tidak melanjutkan sekolah tersebut mengaku kerap mangkal di area terminal antarmoda Pelabuhan Bakauheni. Hampir semua orang di area Pelabuhan Bakauheni mengenalnya sebagai pemuda yang kerap menawarkan jasa pijat berbekal minyak urut.

Ia kerap bisa ditemui di dekat lokasi parkir kendaraan travel, bus bahkan di depan loket pembelian tiket pejalan kaki. Rohim menyebut sudah memiliki keahlian memijat semenjak dirinya lulus dari SMP beberapa tahun silam.

Keterbatasan ekonomi dan keinginan membantu orangtua disebut Rohim membuat dirinya memutuskan mengais rejeki di area terminal antarmoda pelabuhan Bakauheni dengan menawarkan jasa pijat.

Rohim memijat salah satu pelanggan – Foto: Henk Widi

Beberapa pekerja pelabuhan seperti penyedia jasa mencari penumpang, sopir bus, sopir travel bahkan sejumlah pedagang asongan pernah dipijatnya.

“Kalau hari biasa kerap saya memijat para pengemudi bus jurusan Bakauheni ke Rajabasa yang istirahat dan sopir travel, tapi jumlahnya sedikit, saat mudik dan balik lebaran semakin banyak orang yang bisa saya pijat,” terang Rohim saat ditemui Cendana News tengah memijat salah satu warga yang berada di area terminal antarmoda Pelabuhan Bakauheni, Minggu malam (17/6/2018).

Pada hari biasa Rohim menyebut bisa memijat beberapa orang dengan kesepakatan tarif sebelum proses memijat. Setiap setengah jam pemijatan atau kesepakatan waktu dan bagian pemijatan tertentu pada bagian tubuh.

Rohim kerap diberi upah Rp20.000 bahkan hingga Rp50.000. Rohim bahkan menyebut kerap tidak menentukan tarif yang pasti meski ia mengaku untuk setiap pelanggan yang dipijat memberinya uang minimal Rp20.000.

“Pelanggan yang saya pijat diantaranya buruh angkut pelabuhan,tukang tambat kapal hingga sopir yang bekerja dengan tenaga fisik,” papar Rohim.

Pada hari biasa, Rohim mengaku kerap hanya bisa memijat sekitar 10 orang dengan rata-rata tarif Rp20.000, dirinya bisa membawa pulang Rp200ribu perhari. Kehidupan di area pelabuhan dengan waktu 24 jam sehari membuat Rohim kerap tidur di area kedatangan penumpang dan di dekat para pedagang oleh-oleh.

Namun selama arus mudik dan balik lebaran dengan kenaikan jumlah penumpang yang meningkat memberi dampak positif bagi dirinya. Sejumlah pengemudi kendaraan yang bertambah, pedagang musiman dan kehadiran sejumlah petugas keamanan membuat Rohim menerima tambahan order pijat.

Pijat yang dilakukan Rohim disebutnya bukan pijat pada umumnya dengan menggunakan tempat khusus. Pelanggan bahkan bisa duduk di dekat loket pejalan kaki, area terminal bahkan di dekat parkir kendaraan.

Area pelabuhan pada terminal antarmoda menjadi lokasi Rohim memijat pengemudi dan orang yang menggunakan jasa pijatnya – Foto: Henk Widi

Peningkatan jumlah permintaan orang yang ingin dipijat diakui Rohim membuat dirinya bisa memperoleh uang lebih banyak. Pada arus mudik dan balik Rohim mengaku dalam dua hari rata-rata bisa memijat sekitar 20 orang dengan rata rata diberi upah memijat Rp20.000 dirinya bisa mendapatkan uang Rp400ribu perhari.

Hasil tersebut diakuinya ditabung dan dipergunakan untuk membantu orangtua yang berjualan oleh-oleh di area Pelabuhan Bakauheni.

“Awalnya dilarang orangtua memijat tapi karena saya ingin mencari uang sendiri dengan cara halal, sehingga bertahan sampai sekarang,” tegas Rohim.

Sebagian orang yang dipijat pada arus mudik dan balik lebaran terutama sejumlah sopir bahkan kerap memberi lebih. Selain keuntungan dari hasil menarik penumpang yang banyak saat lebaran, uang yang diberikan kepada Rohim menjadi THR lebaran sembari mendapat pelayanan pijat.

Pijat bagian kaki, tangan dan kepala menjadi ciri khas Rohim yang membuat pelanggan yang dipijat terasa segar. Sapta, salah satu pelanggan yang dipijat di depan loket penjualan tiket menyebut kerap meminta jasa Rohim untuk memijat.

Pemijatan pada bagian kaki, tangan dan kepala menggunakan minyak urut membuat ia bisa merasakan badan pegal menjadi lebih enteng. Meski kerap menawarkan pijat selama setengah jam dengan biaya Rp20.000, namun Sapta tak sayang memberikan uang lebih saat badan terasa enteng setelah dipijat.

Awalnya Sapta yang merasa kram pada bagian kaki lebih nyaman setelah dipijat oleh Rohim. Sesuai rekomendasi darinya sejumlah kawan diantaranya petugas security, pengemudi bahkan meminta untuk dipijat.

Paska mendapat pijatan dengan minyak urut bagin tubuh yang pegal kerap lebih enteng sehingga Rohim semakin dikenal di Terminal Bakauheni sebagai tukang pijat keliling. Tanpa memasang plang nama, ia sudah dikenal sebagai penyedia jasa pijat pegal dan menghilangkan pusing bagian kepala.

Lihat juga...

Isi komentar yuk