Asyiknya Pondok Ramadan Siswa SLB B Pawestri Karanganyar

Editor: Mahadeva WS

462

SOLO – Berkebutuhan khusus tidak menghambat puluhan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) B Pawestri, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, untuk tetap menjalankan puasa selama bulan suci Ramadan. Bahkan, di tengah menjalankan puasa, para siswa tetap asyik mengikuti agenda pondok Ramadan yang diselenggarakan sekolah. 

Merekapun mengikuti satu persatu kegiatan yang dihadirkan untuk mengisi waktu sebelum libur panjang lebaran dan akhir tahun tiba. Ada yang belajar membaca iqro, peragaan wudhu, dan peragaan sholat. Bahkan puluhan siswa tuna rungu tersebut seakan lupa jika mereka tengah puasa karena saking asyiknya bermain sambil belajar di lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah SLB B Pawestri Karanganyar, Putut Kus Darwanto. – Foto Harun Alrosid

Kepala Sekolah SLB B Pawestri Karanganyar, Putut Kus Darwanto mengatakan, semangat anak-anak yang rata-rata masih berusia dibawah belasan tahun tersebut sangat luar biasa. Bukan hanya semangat untuk belajar, namun semangat untuk berkreativitas juga tak kalah bagusnya.

“Mereka sangat luar biasa. Mungkin ini yang membuat puluhan guru juga ikut semangat dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi mereka yang notabene kurang sempurna,” ujarnya saat ditemui Cendana News di lingkungan SLB B Pawestri, Kamis (7/6/2018).

Di  SLB B Pawestri, ada sekitar 57 siswa tuna rungu. Seluruhnya mengikuti pondok Ramadan yang tahun ini digelar selama satu hari. Materi yang diajarkan adalah membaca iqro, tata cara berwudhu, urutan sholat beserta bacaanya, serta game-game yang menarik.

“Pondok Ramadan dikemas dengan kegiatan ringan di luar kelas. Mereka bisa belajar sekaligus memahami ajaran agama Islam tanpa terbebani. Meskipun ada keterbatasan, para siswa berusaha untuk bisa melaksanakan tuntunan agama sesuai dengan syariat islam,” ungkap Putut.

Selama mengikuti Pondok Ramadan, para siswa terlihat kompak menyelesaikan game yang diberikan oleh pengasuh. Meski agak kesulitan berucap, semangat mereka luar biasa. “Kalau disuruh mengucap memang kesulitan. Misal baca iqro’ atau atau bacaan sholat, mereka bisa dengan tertatih-tatih, tapi semangat untuk belajar mereka luar biasa,”  terang dia.

57 siswa yang mengikuti pesantren kilat berasal daerah di sekitar Karanganyar, seperti Sukoharjo, Solo, maupun Wonogiri. Mereka terbagi mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hebatnya, para siswa berkebutuhan khusus ini untuk belajar di sekolah ini setiap hari harus bolak-balik dari rumah ke sekolah.

“Jadi mereka setiap hari antar jemput. Ini yang memang menjadi modal awal bagi keluarga karena semangatnya tinggi,”  urai Putut yang mengelola SLB Pawestri sejak 2005 lalu.

Untuk membuat suasana ringan di tengah menjalankan puasa, pihak sekolah mengemas materi pesantren kilat dengan game yang menarik. Seperti mengurutkan gambar tata cara wudhu sesuai dengan rukunnya. Membuat huruf hijaiyah serta mengurutkan secara berkelompok, serta mengurutkan tata cara sholat.

“Selain materi pondok Ramadan, mereka juga dilatih hafalan surat-surat pendek, zakat dan puasa itu sendiri. Para siswa ini juga kita ajak belajar dengan game mengenal huruf hijaiyah, dan menyusun gambar,”  tandasnya.

Salah satu siswa Nuraini mengaku antusias mengikuti kegiatan pondok Ramadan. Siswa sekolah dasar itu lebih senang belajar di luar ruangan daripada harus duduk di dalam kelas. “Senang karena bisa belajar sambil bermain dengan teman-teman. Apalagi kalau belajar di alam bebas, bisa lebih menyenangkan,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.