Bela Negara Bukan Wajib Militer

Editor: Satmoko Budi Santoso

227

MALANG – Selama ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bela negara sama dengan wajib militer. Meskipun pada kenyataannya anggapan tersebut tidak tepat dan tidak benar.

Hal tersebut disampaikan Kolonel Edy Indrayana dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, di hadapan ribuan peserta Kemah Bhakti Pemuda (KBP), Sabtu (30/6/2018).

Dalam perkembangannya, menurut Edy, selain ancaman militer ternyata juga terdapat beberapa ancaman non-militer. Masyarakat harus siap menghadapi melalui konsep pertahanan bela negara.

Kolonel Edy Indrayana dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, di hadapan ribuan peserta Kemah Bhakti Pemuda, Sabtu (30/6/2018). Foto Agus Nurchaliq

“Negara lain menganut wajib militer sebagai konsep pertahanan. Berbeda dengan konsep kekuatan pertahanan di negara Indonesia, yakni melalui bela negara yang merupakan bagian dari pertahanan guna mengubah sikap dan perilaku seluruh warga negara. Agar ikut dalam pertahanan negara sesuai dengan kondisi mereka masing-masing,” ucapnya.

Bela negara tidak mengenal organisasinya apa, politiknya apa. Tapi yang dikenal dalam bela negara hanyalah warga negara Indonesia.

“Jadi bela negara bukan wajib militer, tapi bagaimana caranya menanamkan nilai-nilai bela negara terhadap sikap dan perilaku seluruh warga Indonesia sesuai dengan profesi. Karena memang Indonesia tidak menganut wajib militer,” sebutnya.

Lebih lanjut, Edy menyebutkan, ada tiga prinsip bela negara, yakni menjaga kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah, dan menjaga keselamatan bangsa.

Tiga prinsip tersebut juga bisa diterapkan dengan cara melestarikan dan mencintai lingkungan hidup. Memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa, menjaga nama baik bangsa dan negara serta bangga sebagai bangsa Indonesia.

Sementara itu, Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad, Mayjen TNI Marga Taufiq mengatakan, kegiatan kemah bhakti pemuda merupakan ajang kemanunggalan TNI, pemuda dan seluruh komponen bangsa.

Panglima Divisi Infanteri 2 Kostrad, Mayjen TNI Marga Taufiq – Foto Agus Nurchaliq

“Kegiatan KBP sebagai upaya pembentukan karakter pemuda sebagai aset bangsa, agar nanti para pemuda memiliki semangat gotong royong, cinta tanah air dan memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungan. Kami ingin menyelesaikan masalah terlebih dulu dari hulu bukan dari hilir,” ujarnya.

Mudah-mudahan dengan memberikan berbagai kegiatan positif ini bisa menjadi pondasi bagi mereka untuk masa depan, tandasnya.

Disebutkan, selain dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (POLRI), peserta KBP juga melibatkan ribuan komponen bangsa mulai dari perwakilan mahasiswa, sekolah-sekolah, Ormas dan Pramuka.

Kegiatan Kemah Bhakti Pemuda juga diramaikan dengan program penghijauan, pembersihan sumber mata air, pembersihan sungai dan irigasi, donor darah, anjangsana, out bond, sunatan massal, orientasi satuan, pameran alutsista serta rehab rumah tidak layak huni.

Lihat juga...

Isi komentar yuk