Bincang Malam Bersama Pak Harto di Sumberrejo, Berbuah P4

Oleh: Mahpudi, MT

1.068
Catatan Redaksi:
Dalam catatan Incognito Pak Harto seri18 ini, Redaksi Cendana News  selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012.
Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK, terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, Subianto (teknisikendaraanpadasaat incognito dilaksanakan).
Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) sertaEkspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013), namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.
Selamat Membaca,
Selepas dari peninjauan Candi Borobudur, pada 21 Juli 1970, Pak Harto melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Saat itu, di daerah Garisan yang masuk wilayah Banyurejo, Tempel, perbatasan Magelang-Yogyakarta, tengah dibangun proyek irigasi.
Sebagaimana di daerah-daerah lainnya, Pak Harto secara khusus melakukan pemantauan jalannya proyek-proyek irigasi yang kelak digunakan untuk mendukung program penyediaan pangan bagi rakyatnya.
Hari sudah jatuh sore, ketika Pak Harto tiba di daerah ini. Ia bersama rombongan incognito pun memutuskan untuk menginap. Kali ini, yang dipilih Pak Harto sebagai tempat bermalam adalah rumah Kepala Desa Sumberrejo, Mertoyudan, Magelang.
Sayangnya, hari sudah larut malam ketika kami bersama tim Ekspedisi tiba di daerah ini pada 5 Juni 2012. Kami pun tak mungkin mencari penginapan di daerah itu. Setelah berunding dengan semua anggota, maka diputuskan, Tim Ekspedisi menginap di kota Yogyakarta dan kembali ke Sumberrejo pada keesokan harinya.
Desa Sumberrejo termasuk daerah subur, dengan persawahan yang luas mengitari perkampungan. Keesokan harinya, kami singgah terlebih dulu ke Balai Desa Sumberrejo untuk mencari tahu alamat rumah mantan kepala desa yang dimaksud.
Pak Harto dan rombongan Incognito tiba di rumah Kepala Desa Sumberrejo, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, (21 Juli 1970), untuk bermalam dan berbincang dengan warga setempat dan tokoh masyarakat.
Kami bersyukur, petugas setempat dengan ramah memberi informasi rumah tujuan kami. Lokasinya berada di dalam perkampungan yang masih asri. Halaman rumahnya masih cukup luas dan ditanami pohon melinjo. Kami masih sempat menyaksikan, penduduk setempat memanjat pohon melinjo tinggi, memanen buahnya untuk dijadikan emping.
Bangunan rumah khas Jawa, masih seperti yang terlihat pada foto dokumentasi yang kami bawa. Kami disambut hangat oleh keluarga Pak Kepala Desa, yang telah wafat beberapa tahun silam.
Muhadi, demikian nama salah seorang putra kepala desa itu, menyambut ramah kedatangan tim ekspedisi. Ia juga mengizinkan kami untuk melihat-lihat ruangan bagian dalam rumah.
Meski jarak peristiwa Pak Harto menginap lebih dari 40 tahun, namun sangat terasa, suasana di dalam rumah, seakan baru saja disinggahi Pak Harto beberapa waktu lalu.
Sejumlah kursi yang sudah kuno berada tepat di ruang tengah. Di ruang tengah itulah, Pak Harto berbincang-bincang menghabiskan malam. Menariknya, sebuah foto resmi Presiden Soeharto masih terpasang di dinding rumah.
Kami juga diizinkan untuk melihat kamar yang digunakan Pak Harto beristirahat. Hanya saja, ruangan itu sudah tidak digunakan lagi dan sudah dipenuhi barang-barang.
Sebagaimana juga dilakukan di tempat-tempat persinggahan sebelumnya, Pak Harto memanfaatkan waktu istirahat pada malam hari untuk berbincang dengan penduduk, serta tokoh masyarakat setempat.
Pak Harto menikmati jamuan makan malam ala kadarnya dari tuan rumah (paling kiri) ketika bermalam di rumah Kepala Desa Sumberrejo.
Konon, ada hal menarik saat itu; ada sejumlah tokoh masyarakat yang datang dari kota Yogyakarta. Mereka adalah para akademisi dari Universitas Gadjah Mada. Malam itu, mereka bergabung dengan sejumlah tokoh masyarakat dan berbincang hangat dengan Pak Harto.
Satu hal yang diingat Muhadi dari perbincangan saat itu; membahas cara/strategi agar masyarakat tidak terpengaruh lagi oleh ajaran komunisme, dan agar masyarakat tidak terhasut lagi oleh PKI. Konon, dalam perbincangan itu, muncul gagasan agar pemerintah perlu memberikan pengajaran tentang Pancasila kepada warganya, dalam bentuk penataran-penataran.
Rombongan Tim Ekspedisi menyempatkan foto bersama dengan keluarga Mantan Kepala Desa Sumberrejo. Muhadi, salah satu putra beliau mengenakan batik (ketiga dari kiri) banyak berkisah tentang keberadaan Pak Harto selama menginap di sini.
Kelak, gagasan yang muncul dari perbincangan malam itu, kemudian ditindaklanjuti oleh Pak Harto dalam wujud program Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).***
Baca Juga
Lihat juga...