Buah Ramadan Lahirkan Kemuliaan Perilaku

Editor: Satmoko Budi Santoso

241
Ustad M. Ihsan Wahab pengurus Muhammadiyah cabang Sikka. Foto: Ebed de Rosary

MAUMERE – Umat Muslim yang sukses puasanya, tentu mampu menunjukkan kebajikan kolektif sebagai buah dari kebajikan individual berbasis kesalehan. Apalagi di zaman sekarang yang penuh dengan godaan.

“Di tengah kehidupan yang sarat godaan seperti kekerasan, anarkisme, terorisme, korupsi dan demoralisasi sosial, maka sungguh diperlukan contoh teladan dari umat Islam dalam menampilkan perilaku utama,” papar Ustad M. Ihsan Wahab, pengurus Muhammadiyah cabang Sikka, Sabtu (16/6/2018).

Ibarat oase di gurun sahara, puasa harus menjadi kanopi ajaran kebaikan serba utama. Demikian pula ketika media sosial semakin liar dan membuat orang mudah menyebar dusta, hoax, kebencian, permusuhan dan segala keburukan lainnya yang membuat orang beragama pun sering menjadi kehilangan keadaban publik.

“Umat Islam pasca-Ramadan ini penting untuk mempelopori gerakan keadaban di ruang publik. Tunjukkanlah perilaku ihsan dalam seluruh interaksi sosial kita, termasuk dalam menggunakan media sosial, sebagai bukti kesuksesan puasa Ramadan dan Idul Fitri dalam perangai takwa di dunia nyata,” pesannya.

Kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan saat ini juga memerlukan nilai mulia ihsan. Perbedaan agama, suku, ras, golongan serta kepentingan politik tidak boleh menghilangkan nilai dan sikap kasih sayang, toleransi, kebaikan serta perbuatan adil dan ihsan dari kaum muslimin terhadap siapa pun.

“Menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan penuh berkat, bulan Ramadan hendaknya melahirkan aneka kebajikan sebagai buah dari puasa di antaranya kemuliaan perilaku,” harapnya.

Menurutnya, buah puasa hendaknya melahirkan perilaku seperti lapang hati, sabar, toleran, penyantun dan segala bentuk perilaku terpuji lainnya. Contohnya, manakala orang berbuat buruk, maka balaslah dengan kebaikan.

“Memang terasa berat berbuat kebaikan seperti itu, tetapi itulah perangai yang utama jika setiap umat Muslim ingin sukses dari puasa. Keutamaan itu melampaui raga atau fisik manusia, dia menembus nurani terdalam berupa perilaku makrifat,” jelasnya.

Kebajikan utama hasil puasa, tegas Ihsan, dimulai dari kemampuan diri mengendalikan hawa nafsu. Sebagaimana dalam sebuah hadis Nabi Muhamad bersabda yang artinya puasa itu perisai dari perbuatan buruk dan bodoh. Manakala ada orang yang mengajak bertengkar atau berseteru, katakanlah aku sedang berpuasa.

Sementara itu, Plt. Bupati Sikka Drs. Paolus Nong Susar juga mengucapkan selamat merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1439 H, dan semoga di hari raya yang penuh keberkahan semakin mempererat silaturahmi antarsesama warga untuk bersatu hati dalam menjaga kerukunan.

“Mari semua menjaga dan terus memupuk silaturahmi antarumat beragama agar menciptakan suasana yang lebih aman, damai dan adil dalam membangun kehidupan beragama dalam masyarakat dan bernegara. Untuk menjalin persatuan sesuai visi bersama Satu Sikka yang Mandiri dan Sejahtera,” ungkapnya.

 

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.