Cuaca Kurang Bersahabat, Nelayan Ubah Pola Tangkap Ikan

Editor: Mahadeva WS

321

LAMPUNG – Kondisi cuaca perairan di Selat Sunda saat ini kurang bersahabat. Kondisi cuaca berupa angin kencang, gelombang tinggi membuat nelayan memutuskan tidak melaut.

Kasim (30), salah satu nelayan di Muara Piluk Kecamatan Bakauheni menyebut, sudah tidak melaut sejak sepekan terakhir. Selain kondisi cuaca yang kurang mendukung, waktu jelang terang bulan membuat ikan susah diperoleh. Nelayan tradisional pengguna perahu kasko tersebut sengaja tidak mencari ikan menghindari risiko kecelakaan di laut.

Nelayan melaut di sekitar perairan Selat Sunda untuk mencari ikan dasar seperti kerapu, baronang, simba dan kuniran. Pencarian ikan dilakukan dengan pancing rawe dasar.

Mengantisipasi kerugian akibat tidak melaut, Kasim melakukan proses pemasangan bubu kawat yang dipasang di sekitar pantai. “Kami sengaja tidak melaut karena cuaca tidak bersahabat selama dua pekan terakhir dan bahkan hingga akhir bulan ini musim terang bulan gelombang cukup tinggi,” terang Kasim yang saat ditemui Cendana News tengah memasang bubu kawat di pantai Muara Piluk, Jumat (22/6/2018).

Pilihan tidak melaut dilakukan, setelah melihat prakiraan cuaca wilayah perairan dari BMKG maritim Lampung. Kegiatan melaut dilakukan dengan memperhitungkan kondisi perairan secara langsung.

Perubahan pola tangkap ikan dari semula menggunakan pancing rawe dasar,  dan kini menggunakan bubu, dilakukan untuk tetap memperoleh penghasilan. Penangkapan dengan sistem bubu, bisa mendapatkan tangkapan jenis lobster, kepiting dan rajungan. Umpan lele segar dipasang pada bagian bubu terbuat dari kawat dan senar.

Jusman mendapatkan tangkapan ikan lele dengan sistem jaring tepi [Foto: Henk Widi]
Sebanyak 30 bubu dipasang dan sering memperoleh kepiting bakau dan lobster yang bersembunyi di sekitar karang dermaga. Kondisi cuaca perairan yang kurang mendukung proses penangkapan ikan juga diakui oleh Jusman (40) nelayan tradisional jenis ketinting.

Mempergunakan perahu ketinting, Jusman menangkap ikan menggunakan pancing rawe dasar, tapi kini Jusman memilih mempergunakan jaring tepi. Jaring tepi dipergunakan untuk menangkap ikan dari tepi pantai untuk memperoleh ikan karang yang menepi akibat cuaca kurang bersahabat.

“Jaring tepi kerap dipergunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan tepi pantai selama cuaca kurang bersahabat sehingga kami tetap memperoleh penghasilan,” terang Jusman.

Hasil tangkapan dengan jaring tepi bisa mendapatkan ikan kuniran, lele laut serta jenis ikan tepian. Hasil tangkapan dijual ke pemilik usaha rumah makan. Proses menjaring ikan selama kondisi cuaca tidak membaik bisa membantu ekonomi keluarga dari hasil penjualan ikan sistem tangkap.

Di perairan pesisir Bakauheni, proses menangkap ikan menggunakan jaring bisa memperoleh 10 hingga 20 kilogram ikan. Hasil tangkapan ikan menjadi pengganti kegiatan melaut yang kerap dilakukan di perairan Selat Sunda mempergunakan perahu ketinting.

Kondisi cuaca perairan yang belum membaik diketahui Jusman dari informasi prakiraan cuaca laman resmi BMKG maritim Lampung. Informasi bisa diakses melalui telepon pintar. Ia menyebut sesuai dengan kondisi cuaca wilayah perairan diantaranya di perairan Barat Lampung arah angin dari Timur-Tenggara, kecepatan angin 6-28 knot dan ketinggian gelombang 1,25-3 meter.

Baca Juga
Lihat juga...