Dengan Solder, Heru Ciptakan Lukisan Bernilai Seni Tinggi

Editor: Mahadeva WS

995

YOGYAKARTA – Seorang warga Yogyakarta bernama Heru Notodirjo, mampu menciptakan sebuah lukisan dengan menggunakan media kayu dibakar. Karya dari warga Kampung Joyonegaran, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta tersebut memiliki nilai seni yang tinggi.

Heru membuat karya seni yang biasa disebut Pirografi dengan bahan sederhana yang mudah didapat dan murah. “Di luar negri, Pirografi dibuat dengan alat khusus. Tapi di Indonesia alat itu susah didapat. Harus impor. Harganya pun mahal. Mencapai Rp5juta lebih. Karena itu saya berinovasi dengan menggunakan solder yang murah,” katanya Selasa (26/6/2018).

Heru juga memanfaatkan barang tak terpakai yaitu limbah peti kemas sebagai media lukis-nya. Dari kreatifitasnya, Heru mampu membuat karya lukisan yang memiliki nilai seni tinggi dan banyak disukai. “Pirografi ini sering disebut lukisan bakar. Medianya bisa dari kayu atau kulit. Selain memiliki warna natural, lukisan Pirografi juga memiliki kelebihan lebih awet karena prosesnya dibakar,” jelasnya.

Salah satu lukisan Pirografi berhambar Titiek Soeharto karya Heru – Foto: Jatmika H Kusmargana

Heru mulai menekuni seni Pirografi sejak 2017 lalu. Berawal dari rasa keinginannya mencari kreasi seni lukis baru yang belum banyak dijumpai dan berbeda dari biasanya. “Sebelumnya saya menekuni seni lukis bordir selama 15 tahun lebih. Karena jenuh saya akhirnya mencoba hal baru. Karena seni lukis dengan media kanvas dan cat sudah banyak, maka saya akhirnya memilih seni Pirografi,” tuturnya.

Menerima banyak pesanan, Heru kini memilih memfokuskan diri melukis wajah dengan gaya klasik dan natural. Ia biasa menerima pesanan melukis wajah seseorang, baik tokoh, keluarga maupun pasangan. Dalam seminggu Heru mampu menerima lima hingga tujuh pesanan lukisan. Satu lukisan bisa diselesaikan satu hingga tiga hari. Harga lukisan dimulai dari Rp100 ribu untuk ukuran kecil, hingga Rp350ribu perwajah untuk lukisan besar.

“Selain menerima pesanan lukis wajah dengan media kayu, saya juga terima lukis dengan menggunakan media telenan. Biasanya gambar wayang, untuk souvenir atau hiasan. Ada juga pesanan mahar dengan lukisan pengantin,” katanya.

Memasarkan karyanya melalui pameran mapun secara online, Heru menyebut, salah satu kendala usaha kreatifnya adalah, belum diakuinya Pirografi sebagai seni lukis murni. Sehingga ia sulit masuk ke pameran lukisan, karena dianggap karyanya lebih sebagai kerajinan. “Sedangkan kalau dianggap kerajinan, harganya kan terlalu mahal. Jadi sulit laku. Karena itu saya sementara ini menjual dengan harga tidak terlalu mahal, untuk mengenalkan seni Pirografi itu sendiri,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...