Dikelola Swadaya, Pengembangan Wisata Bukit Cendana Terhambat

Editor: Mahadeva WS

378

YOGYAKARTA – Sebagai salah satu kota tujuan wisata, Yogyakarta dikenal memiliki begitu banyak lokasi wisata baru yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat. 

Seolah tak ada habisnya, lokasi wisata baru dengan memanfaatkan potensi alam sekitar terus bermunculan. Semua itu tak lepas dari kreativitas dan inovasi masyarakat setempat. Meski begitu, pengembangan lokasi wisata secara swadaya oleh masyarakat bukan tanpa kendala.

Minimnya dukungan dana investasi serta pengelolaan dan hanya mengandalkan gotong-royong warga menjadi masalah tersendiri. Seperti halnya yang dialami warga yang tergabung dalam Pokdawis Dusun Tegiri II, Hargowilis, Kokap, Kulonprogo yang mengelola lokasi wisata baru, Bukit Cendana.

Berdiri sejak dua tahun lalu, lokasi wisata yang menawarkan panorama keindahan alam dari atas bukit ini tak seramai lokasi wisata baru lain di Kulonprogo seperti Kalibiru atau Pule Payung.

Edi Susanto, salah seorang pengelola Bukit Cendana – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Karena Bukit Cendana ini dikelola secara swadaya, memang dana pengembangannya terbatas. Tidak seperti Kalibiru atau Pule Payung yang dikelola swasta, sehingga dananya melimpah,” ujar Edi Susanto, salah seorang pengelola kepada Cendana News, Kamis (21/6/2018).

Edi menyebut, pihaknya selama ini telah mengeluarkan dana Rp150juta untuk pengembangan lokasi wisata Bukit Cendana. Diantaranya membangun pendopo aula pertemuan, toilet, gazebo, hingga berbagai wahana spot foto. “Meski telah mengeluarkan dana swadaya mencapai Rp150juta, sampai saat ini kita baru mendapat pemasukan sekitar Rp15juta. Jadi masih jauh untuk bisa balik modal,” jelasnya.

Salah satu kendala terhambatnya pengembangan Bukit Cendana disebabkan karena akses jalan menuju lokasi yang belum beraspal. Sementara, jalan menuju lokasi berupa tanjakan curam berbatu yang menyulitkan kendaraan melintas. “Kalau kita mau mengaspal jalan kita tidak mampu. Tidak memiliki dana. Padahal akses jalan masuk sangat vital mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan,” tandasnya.

Rata-rata kunjungan ke Bukit Cendana pada hari biasa mencapai puluhan orang per hari. Saat liburan, jumlah kunjungan meningkat meski tak terlalu signifikan. Pada libur lebaran terakhir, jumlah pengunjung yang datang mencapai 500 orang selama seminggu terakhir. “Dari jumlah kunjungan memang kalah jauh dibandingkan lokasi wisata lain seperti Kalibiru atau Pule Payung. Maklum karena kita kan swadaya,” katanya.

Dari sisi tenaga pengelola, Bukit Cendana juga hanya ditangani oleh remaja desa yang tergabung dalam kelompok sadar wisata. Mereka tidak mendapatkan gaji, kecuali bagi hasil dari total pemasukan pada hari tersebut. “Jadi kalau kita jaga, tapi tidak ada pengunjung, ya kita tidak dapat hasil. Beda dengan lokasi wisata lain yang dikelola swasta. Mereka digaji per bulan,” ujarnya.

Diharapkan, pemerintah desa dapat membantu pengembangan lokasi wisata Bukit Cendana dengan membangun akses jalan yang lebih baik. Keberadaan lokasi wisata baru tersebut terbukti mampu mendorong perekonomian warga desa sekitar.

“Sebenarnya banyak manfaat yang didapat. Selain dapat menumbuhkan ekonomi warga, adanya wisata Bukit Cendana ini juga bisa memberi pemasukan bagi kas desa. Karena itu kita akan terus berupanya mengembangkan,” ujarnya.

Baca Juga
Lihat juga...