Dosen UIN Malang Dorong Pemimpin Muslim yang Amanah untuk ‘Tampil’

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

306

MALANG — “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya,”. Hadist Bukhari tersebut disampaikan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Malang DR. H. Triyo Suprianto saat memberikan Khutbah Idulfitri di Masjid Manarul Islam dengan tema Momentum Kesadaran Kepemimpin yang Amanah.

Menurutnya, tanggung jawab pemimpin tidaklah mudah dan sederhana. Ia harus bertanggung jawab lahir dan batin atas kepemimpinannya.

“Sandang, pangan dan papan masyarakat harus dapatdicukupi. Keamanan terjamin, tidak ada teror, tidak ancaman, tidak ada yang menakut-nakuti, aman, nyaman dan damai, itulah tugas pemimpin,” ucapnya, Jumat (15/6/2018).

Jika belum punya kesanggupan untuk mewujudkan masyarakat yang aman, nyaman dan damai, jangan coba-coba mengikuti kontestasi Pilkada, Pilgub dan Pilpres. Karena jabatan itu adalah amanah dan pertanggung jawabannya sangat berat di dunia dan akhirat, tandasnya.

Suasana shalat Idul Fitri di Masjid Manarul Islam. Foto: Agus Nurchaliq

Sebaliknya, kepada para pemimpin dan calon pemimpin yang amanah dan mempunyai kesanggupan profesional untuk memimpin secara adil, jangan sembunyi dan jangan berdiam diri.

“Kita harus mendorong pemimpin muslim yang amanah untuk tampil memimpin Indonesia agar lebih adil dan sejahtera. Betapa banyak pemimpin muslim yang bersih, amanah, terampil dan kompeten untuk memimpin Indonesia,” ujarnya.

Silahkan mencalonkan diri menjadi pemimpin jika sudah yakin bisa berbuat amanah dan adil kepada rakyat. Karena Allah telah menjamin masuk surga para pemimpin yang adil.

“Rasulullah saw bersabda bahwa ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah. Salah satu golongan tersebut adalah pemimpin yang adil,” ungkapnya.

Pemimpin yang adil tentu tidak akan membiarkan satu orang menguasai 5 juta hektar tanah, sementara jutaan rakyat tidak memiliki sejengkal tanahpun untuk berteduh dan mendirikan rumah. Pemimpin yang adil tentu tidak akan melegalisasi penggusuran rumah-rumah rakyat miskin, apapun alasannya kecuali untuk menyejahterakannya.

Menurut Suprianto, problem Indonesia saat ini adalah kesenjangan sosial yang semakin jauh jarak antara yang kaya dan yang miskin. Rasio ini sangat memprihatinkan.

“Yang kaya semaki kaya dan yang miskin semakin terlunta. Jika kita cinta NKRI mari kita atasi masalah ini,” pintanya.

Ritual ibadah memang penting, menjadi sholeh secara individual dan sosial juga penting. Tapi peduli terhadap proses kepemimpinan politik juga tidak kalah penting. Jangan sampai orang-orang sholih hanya puas menjadi penonton. Karena Indonesia diwariskan oleh para ulama yang telah berjuang memperebutkan kemerdekaan negeri ini atas nama jihad fi sabilillah para pendiri bangsa.

“Mari kita jaga marwah dan harga diri sebagai muslim. Jangan pernah sedikitpun melakukan korupsi karena perbuatan tersebut hina dan merugikan rakyat banyak,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...