hut

Dua Napi Kasus Teroris Tak Mau Mencoblos

Pilkada, ilustrasi -Dok: CDN

MAGELANG – Dua narapidana kasus teroris yang berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kota Magelang, Jawa Tengah, tidak mau mencoblos pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2018.

Ketua KPPS Khusus Lapas Magelang Yudi Winardi mengatakan, sejak awal keduanya sudah menyatakan tidak mau berpartisipasi pada Pilkada serentak 2018. Keduanya memegang ideologi tidak mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sejak awal sudah tidak mau, sudah diberi sosialisasi dan sebagainya. Mereka tidak mengakui NKRI, selama di sini mereka tidak kooperatif, tidak mau ikut apel, upacara, dan sebagainya,” ungkap Yudi, Rabu (27/6/2018).

Ke-dua narapidana kasus teroris tersebut adalah, GK terpidana kasus pemboman di Surakarta pada 2016 dan TS pelaku upaya penyerangan roket ke Singapura pada 2016. Masing-masing diganjar hukuman penjara 4 tahun 6 bulan dan 3 tahun. TPS 15 merupakan TPS khusus yang difasilitasi KPU Kota Magelang untuk memberi kesempatan Napi asal Jateng menyalurkan hak pilihnya pada Pilkada 2018.

TPS ini masuk wilayah Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah. Jumlah DPT di TPS ini 508 orang, terdiri atas DPT C6 sebanyak 378 orang, DPT tambahan 90 orang, dan pemilih yang menggunakan surat keterangan 42 orang. Tercatat, antusiasme para narapidana untuk mencoblos cukup tinggi, mereka berbondong-bondong datang ke TPS sejak pagi. “Partisipasi pemilih di lapas biasanya mencapai 90 persen lebih. Kali ini kelihatannya sama,” tambahnya.

Seorang narapidana Seno Wicaksono (22) menyebut, senang bisa menyalurkan hak politiknya sebagai warga negara Indonesia meskipun sedang menjalani hukuman di Lapas. Narapidana kasus narkoba tersebut berharap pemimpin yang terpilih akan membawa perubahan Jawa Tengah ke arah yang lebih baik. (Ant)

Lihat juga...