Film ‘Insya Allah Sah 2’, Beri Pesan Nadzar Harus Dibayar

Editor: Koko Triarko

330
JAKARTA – Siapa pun jika dalam keadaan sangat kepepet, tentu akan melakukan apa saja, meski harus bernadzar untuk melakukan sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan dirinya.
Demikian mengemuka dari film ‘Insya Allah Sah 2’. Sebuah film sekuel dari ‘Insya Allah Sah’ yang fokus ceritanya pada tokoh Raka, seorang pria lugu, jenaka dan religius.
Film ini diawali dengan adegan aksi kejar-kejaran antara Raka (Pandji Pragiwaksono) dan Gani (Donny Alamsyah), dengan sekelompok orang bersenjata anak buah Freddy Coughar (Ray Sahetapy).
Dalam adegan aksi kejar-kejaran ini, Gani minta bantuan Raka, agar bisa terhindar dari sekelompok orang bersenjata anak buah Freddy Coughar. Raka mau membantu Gani dengan syarat Gani mau bernadzar.
Karena dalam keadaan sangat kepepet, Gani tentu saja mau bernadzar untuk insaf dan bertobat meninggalkan perbuatan jahat dan kembali ke jalan yang benar.
Raka bersedia membantu Gani, tapi apa yang dilakukan Raka sungguh di luar dugaan, yaitu membuang uang jutaan di jalanan yang membuat orang-orang berebut untuk dapat meraup uang jutaan itu, sehingga sekelompok orang bersenjata anak buah Freddy Coughar jadi keteteran dan tidak bisa lagi mengejar Gani.
Kemudian, adegan berganti dengan flashback beberapa bulan sebelum aksi kejar-kejaran itu. Mulai dari Raka yang orang kampung berpamitan pada orang tuanya untuk merantau ke Jakarta.
Diceritakan, Raka dikenal oleh seluruh penduduk desanya, sehingga saat Raka hendak merantau, banyak orang bersimpati sehingga memberi bekal Raka dengan berbagai barang maupun tanaman, hingga ada yang membekalinya dengan seekor kambing.
Sedangkan, Gani tampak mendekam di penjara. Para napi digambarkan begitu banyaknya membuat kerusuhan, sehingga petugas lapas kerepotan menanganinya.
Pada saat itulah, Gani dan beberapa napi lainnya menggunakan kesempatan dalam kesempitan itu untuk kabur dari penjara. Petugas Lapas pun berusaha mengejar Gani.
Raka yang pergi merantau, kini sudah tiba di Jakarta dan menggunakan jasa mobil online. Raka sangat menikmati mobil online itu, hingga mengantuk sampai ketiduran.
Sopir mobil online yang kebelet buang air kecil, menghentikan mobilnya dan kemudian mencari tempat yang aman untuk buang air kecil. Pada saat itulah, Gani yang buron dikejar petugas Lapas, mengambil alih mobil online untuk pergi sejauh-jauhnya dari kejaran petugas Lapas.
Selesai buang air kecil, sopir mobil online kaget, karena mobilnya dibawa lari Gani. Sedangkan, Raka begitu bangun juga kaget, karena sopirnya bukan sopir awal dirinya naik mobil online.
Lebih kaget lagi, mobil online-nya dalam kejaran sekelompok orang bersenjata. Dari sini adegan kembali ke awal film ini dengan aksi kejar-kejaran.
Adegan kembali diulang, Gani meminta bantuan Raka untuk bisa lolos dari baku tembak. Raka setuju akan membantu dengan syarat Gani harus bernadzar akan bertaubat.
Dalam keadaan sangat kepepet, terpaksa Gani menyetujui syarat Raka dan berkat bantuan Raka, Gani pun bisa lolos dari bahaya. Namun, keadaan jadi berbalik, niat baik Raka malah menjadikan dirinya masuk dalam acaman Gani.
Gani yang punya tabiat keras, memaksa Raka untuk selalu mengikutinya ke mana pun pergi. Raka pun menjadi teman seiring Gani. Walaupun dalam tekanan Gani, Raka terus mengingatkan Gani akan nadzarnya dan dengan berbagai alasan, Gani tak menurutinya, ia berjanji bertaubat setelah urusannya selesai.
Urusan paling utama bagi Gani adalah mencari sahabatnya bernama Yoga (Miller Khan), yang telah mengkianatinya hingga Gani sampai di penjara. Soal lainnya adalah tentang Mutia (Luna Maya) yang hamil karena sahabatnya yang tak bertanggung jawab, dan Gani yang memang cinta pada Mutia yang rela akan menikahinya.
Perjalanan Raka bersama Gani penuh aksi dan komedi, bahkan kadang belum pernah dialami oleh Raka dalam hidupnya.
Film produksi MD Pictures ini cukup menghibur. Anggy Umbara berkolaborasi dengan Bounty Umbara menyutradarai film ini dengan cukup baik. Ada unsur aksi pada genre film ini, yang tidak hanya drama dan komedi.
Anggy memang ahlinya dalam mengemas dua genre, yakni drama dan komedi yang dibumbui aksi.
Akting Pandji Pragiwaksono kian matang dalam membawakan karakter Raka yang lugu, jenaka dan religius. Karakter yang mengingatkan kita pada karakter Cecep yang diperankan Anjasmara dalam sinetron ‘Si Cecep’.
Pandji yang berangkat dari berbagai profesi sebagai aktor, penyiar radio, presenter televisi, penulis buku, penyanyi rap, dan stand up comedy-an tentu cukup bekal dalam kejenakaan.
Sedangkan untuk pemain lainnya, seperti Donny Alamsyah dengan karakter Gani yang keras menjadi warna tersendiri dalam film ini. Begitu juga dengan Ray Sahetapy, dengan karakter Freddy Coughar yang sama kerasnya. Keduanya memang diceritakan sebagai musuh bebuyutan yang beberapa kali melakukan aksi kejar-kejaran.
Luna Maya menjadi bintang dalam film ini. Karakter Mutia yang hamil dan kemudian melahirkan dalam keadaan darurat dapat dilakoninya dengan baik. Luna tampak tak sungkan memerankan karakter orang hamil.
Ada pun para pemain lainnya, Nirina Zubir, Miller Khan, Tanta Ginting, Meriam Belina, dan Dewi Yull. Meski porsi adegannya kecil, tapi cukup memperkuat film ini. Mereka memang sangat berpengalaman dalam dunia perfilman.
Sebuah film memang tak hanya tontonan semata, tapi juga bisa menjadi tuntunan. Ada pesan moral yang disampaikan film ini, bahwa nadzar ibarat utang yang harus dilunasi, dan nadzar kalau sudah diucapkan memang harus ditepati.
Raka yang lugu dan jenaka selalu mengingatkan Gani untuk menepati nadzarnya bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
Baca Juga
Lihat juga...