Garap Film ‘Kuntilanak’, Rizal Mantovani Berfantasi

Editor: Koko Triarko

368
Rizal Mantovani. -Foto: Akhmad Sekhu.
JAKARTA – Rizal Mantovani, Sutradara andal yang sangat terkenal dengan film-film horor fenomenal, seperti film ‘Jelangkung’ yang digarap bareng Jose Poernomo. Film ini booming pada 1999.
Ia juga termasuk sutradara produktif yang telah mengerjakan hampir 200 video klip dan beberapa iklan televisi, serta menyutradarai banyak film.
Kini, Rizal menggarap film horor ‘Kuntilanak’ yang sangat berbeda dengan film-film sebelumnya, karena kali ini melibatkan anak-anak yang menjadi pemeran utamanya. Ia menggarapnya dengan pendekatan fantasi, bukan pada mistiknya, karena menurutnya fantasi memantik penonton berimajinasi dan berpikir kreatif.
“Menyutradarai anak-anak tentu tidak bisa memaksakan, tapi perlu penanganan tersendiri dibanding menyutradarai orang-orang dewasa,“ kata Rizal Mantovani, kepada Cendana News dalam acara press screening film horor ‘Kuntilanak’ di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018) malam.
Lelaki kelahiran Jakarta, 12 Agustus 1967, itu merasa tenang ketika tahu anak-anak yang dilibatkan dalam film terbarunya sudah terbiasa main secara profesional.
“Saya sudah pernah membuat video klip dan iklan yang melibatkan anak-anak, masalahnya ada yang tiba-tiba mengaku capek, jadi terpaksa syuting dihentikan karena kita memang tidak bisa memaksakan anak-anak berakting kalau sudah merasa capek,“ ungkapnya.
Menurut Rizal, anak-anak digembleng selama tiga mingguan, bahkan mereka diajak ke Dufan bareng untuk mendekatkan satu sama lainnya.
“Dalam membuat film, saya tidak kerja sendiri, tapi kerja dalam tim dengan produser, penulis skenario, koordinator casting, acting court, dan lain-lain,“ beber alumni Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Trisakti, Jakarta ini.
Rizal menyampaikan tidak bisa bicara pesan yang disampaikan dalam film yang digarapnya itu, dan membiarkan penonton yang akan menilainya. “Pokoknya dalam film ‘Kuntilanak’ ini melibatkan tv, dan di depan tv ada sesuatu,“ paparnya.
Rizal juga mengatakan, film horor di Indonesia genre-nya fantasi, karena Indonesia tidak punya alien, frankenstein, drakula dan lain-lain. “Inilah film horor kita yang memang sebaiknya pendekatan lebih pada fantasi, bukan pada mistik, karena kalau fantasi akan memantik penonton berimajinasi dan berpikir kreatif,“ tegasnya.
Dalam film horor itu ia memberikan ruang pada penonton untuk berimajinasi sendiri. “Penampakannya sengaja dibuat tidak terlalu jelas. Kesannya samar-samar, agar penonton akan mikir sendiri dengan imajinasinya sendiri, daripada jelas banget akan terlihat make up-nya, jadi menggarap film horor memang pendekatannya pada fantasi,“ tandasnya.
Baca Juga
Lihat juga...