Gendis Setuangan, Tradisi Lebaran di Tegal

Editor: Satmoko Budi Santoso

383

TEGAL – Dalam tradisi lebaran di daerah Tegal, kalau silaturahmi ke sanak saudara dan handai taulan selalu membawa gula dan teh beserta kue atau jajanan yang dikatakan sebagai gendis setuangan (gula sekali tuang). Sebuah frase pemanis yang acap kali diucapkan tamu sambil menyerahkan bawaannya pada tuan rumah yang dikunjunginya.

Gula dan teh menjadi esensi bawaan sebagaimana yang dikatakan Sumarno, pengamat budaya Tegal, bahwa tradisi lebaran di daerah Tegal, kalau silaturahmi ke sanak saudara dan handai taulan memang harus membawa gula dan teh tersebut.

“Kalau tidak bawa gula dan teh atau tangan hampa tentu tak elok rasanya,“ kata Sumarno, pengamat budaya Tegal, kepada Cendana News, Minggu (17/6/2018).

Sumarno membeberkan esensi gula dan teh. “Sesuai dengan rasa gula yang manis. Sedangkan teh Tegal dikenal wasgitel yaitu wangi aromanya, sepet rasa pekat legi (manis) rasa yang disukai banyak orang dan kentel yang dimaknai hubungan antarmanusia yang sangat lekat,“ bebernya.

Sumarno, pengamat budaya Tegal (Foto Istimewa)

Esensi gula dan teh, kata Sumarno, tentu tetap bisa menjadi bahan renungan bagi masyarakat.

Sumarno menyampaikan bahwa pada sebagian orang tradisi minum teh barangkali merupakan hal biasa yang tidak memiliki keistimewaan.

“Lain halnya di Tegal, tradisi minum teh memiliki kekhasan dan keistimewaan karena terkait momentum lebaran yang mengandung berbagai dimensi, baik ekonomi, sosial, budaya, dan spiritual,“ ungkapnya.

Sumarno tak tahu persis sejarah awal barang bawaan ketika bersilaturahim pada saat lebaran adalah bingkisan gula (putih) dan teh. Kenapa sampai menjadi semacam bawaan wajib. Sedangkan kue atau jajanan hanya pelengkap saja.

Tradisi membawa gula dan teh ketika bertamu, sebenarnya bukan hanya milik masyarakat Tegal. Tapi juga masyarakat berbagai daerah di Jawa.

“Yang membuat tradisi gula dan teh ala Tegal lebih membumi serta khas, boleh dibilang menjadi trade mark-nya Tegal, karena tradisi minum teh bukan hanya saat lebaran, melainkan sepanjang tahun. Bahkan teh termasuk salah satu sektor industri andalan di Tegal, terbukti dengan banyaknya pabrik teh di Tegal,“ paparnya.

Di Tegal juga terdapat pabrik gula pasir yang merupakan peninggalan kolonial Belanda.

“Tegal juga merupakan daerah pantai utara (pantura) sebagai penghasil bunga melati yang dijadikan bahan campuran teh sehingga dapat mengandung aroma yang memikat,“ tegasnya.

Sumarno menyebut, muncul pula fanatisme masyarakat Tegal terhadap minum teh dengan menggunakan poci yang dikenal dengan istilah ‘moci’. Warung-warung di Tegal banyak menyediakan minuman teh poci. Jadi dapat dibayangkan, dari segi ekonomi betapa sangat besar perputaran komoditi yang dibangun dari tradisi minum teh ini.

“Tradisi minum teh bahkan digandrungi kaum muda daerah Tegal yang kalau begadang dengan minum teh poci sebagai teman sejati. Hal itu tentu ada sisi positifnya. Minum teh poci yang relatif murah bisa berfungsi menjauhkan kaum muda dari minum minuman keras atau narkoba,“ tandasnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk