Hadiri Muhasabah, Tommy Soeharto Ajak Peduli Politik

Editor: Satmoko Budi Santoso

3.328

YOGYAKARTA – Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra atau akrab pula disapa Tommy Soeharto, meminta umat Muslim agar peduli dan tidak acuh dengan dunia politik.

Hal itu diperlukan agar Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim tidak dipimpin oleh pemimpin yang tidak peduli dengan umat Muslim.

Hal itu disampaikan Tommy Soeharto saat menghadiri pengajian Muhasabah di Pondok Pesantren Ora Aji pimpinan Gus Miftah Habiburrahman di Dusun Tundan, Purwomartani, Kalasan Sleman, Sabtu (30/6/2018).

Tommy Soeharto sendiri tampak hadir ke ponpes Ora Aji bersama kedua kakaknya Siti Hediati Hariyadi SE atau Titiek Soeharto dan Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto. Hadir pula sejumlah pengurus Partai Berkarya baik pusat maupun daerah.

Pimpinan Ponpes Ora Aji Gus Miftah – Foto Jatmika H Kusmargana

“Umat Islam harus peduli dengan politik. Kalau tidak kita akan dipimpin oleh pemimpin yang tidak peduli dengan Islam. Karena itu kita harus berjuang dengan konstitusi yang ada. Yakni melalui pemilu,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Tommy Soeharto mengaku prihatin dengan kondisi bangsa dan negara saat ini. Ia mengkritisi sejumlah hal, mulai dari naiknya berbagai harga kebutuhan pokok, membengkaknya hutang negara, semakin hilangnya petani, korupsi yang merajalela hingga reformasi yang belum membawa kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

“Saya prihatin dengan kondisi bangsa kita saat ini. Karena itu saya ingin mengajak untuk bersama-sama memperbaiki kondisi. Yakni dengan cara konstitusional melalui pemilu,” ujarnya.

Ketua Umum Partai Berkarya Tommy Soeharto (kedua dari kanan), Titiek Soeharto (kedua dari kiri), dan Mamiek Soeharto (ujung kiri) menghadiri acara muhasabah di Ponpes Ora Aji Kalasan Sleman pimpinan Gus Miftah – Foto Jatmika H Kusmargana

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Ora Aji, Gus Miftah, mengatakan, rusaknya negara disebabkan karena banyaknya pemimpin yang rusak. Sedangkan rusaknya para pemimpin disebabkan karena banyaknya ulama yang rusak. Sementara rusaknya ulama terjadi karena mereka terlalu cinta akan jabatan dan harta.

“Hidup itu ibarat membuat sebuah cerita. Dan waktu untuk membuat cerita itu sangat singkat. Karena itu kita harus bisa meninggalkan cerita yang baik selama hidup. Pak Harto meninggalkan cerita dengan hasil pembangunannya. Maka pertanyaannya, cerita apa yang kita tinggalkan untuk anak-cucu,” ujarnya.

Baca Juga
Lihat juga...