Ibu, Kenapa Burung Dara Itu tak Terbang?

CERPEN UMI SALAMAH

446

MUSIM semi di Korea Selatan, begitu indah dinikmati. Bunga sakura berwarna merah muda bermekaran berebut menghias dahan pohon. Keanggunan fenomena alam ini mengantarkan sebuah cikal bakal.

Musim ini dianggap sebagai permulaan yang baik untuk melakukan sesuatu. Musim semi biasanya selalu bertepatan dengan pendaftaran masuk ke sekolah dan perguruan tinggi.

Keira, salah satu dosen di universitas ternama di Korea Selatan menatap hamparan bunga sakura. Langit jingga senja di belakang hamparan bunga sakura menambah kegemerlapan alam yang mempesona. Hanya saja, wajah teduh milik Keira berbanding terbalik dengan kesempurnaan ciptaan Sang Maha Pencipta.

Sendu. Hanya itu yang dapat ditangkap dari ekspresi Keira. Musim pendaftaran mahasiswa baru tahun sekarang memang lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Tetapi bukan itu yang menggundahkan pikirannya. Hatinya merongrong akan tanah kelahirannya.

Satu jam yang lalu, untuk ke sekian kalinya Hendra, kakak tertuanya menelepon. Biasanya Keira akan menanggapi telepon kakak lelakinya dengan malas. Bahkan sering dia mengabaikan telepon dari kakaknya. Karena Keira hapal betul setiap ucapan kakaknya. Permintaan untuk pulang. Ya, sejak enam bulan yang lalu, hanya itu yang diinginkan kakaknya.

Keira selama ini memang acuh tak acuh pada keluarganya. Bukan hanya kepada kakak tertuanya, tetapi juga pada kedua kakaknya yang lain. Selama lima tahun tinggal di Korea Selatan, mereka bertiga bergiliran menelepon Keira. Tetapi baru kali ini, dia peduli dengan ucapan kakaknya.

Keira menengadahkan kepalanya ke atas. Matanya terasa buram oleh cairan dari dalam tubuhnya. Seiring dengan kalimat terakhir kakaknya yang berputar di kepalanya.

“Kei, kakak mohon pulanglah. Ibu telah dipanggil Sang Pencipta.”

Dada Keira bergemuruh sesak. Dia menekan batinnya, menyugesti kalau perasaan yang menyelimutinya sekarang adalah salah. Dia tidak menyesal.

“Keira, ini yang kau inginkan, bukan? Kau sangat ingin Ibu meninggal,” ucap Keira murka.

Kembali Keira mengingat respon yang dia berikan terhadap kabar duka itu. Dia menolak permintaan kakaknya untuk pulang. Baginya, kehidupannya sekarang dan di masa depan adalah di sini. Dia tidak akan kembali ke tanah kelahirannya.

“Tapi kenapa kau menangis, Keira? Dia bukan Ibumu lagi,” gumam Keira lirih.

Seiring dengan tenggelamnya senja, bunga sakura meredup keanggunannya. Kecantikannya hanya tertopang pada sinar lampu jalan. Merobek kegundahan hati Keira.
***
TAKSI yang ditumpangi Keira berhenti di depan rumah mewah. Keira keluar dari dalam taksi dengan koper di tangannya. Pada akhirnya, dia memutuskan kegundahannya.

Dia memilih pulang. Tanpa memberitahu kakaknya. Walaupun sebelumnya dia menolak mentah-mentah permintaan pulang darinya.

Keira mendekati pintu gerbang rumah di hadapannya yang penuh dengan karangan bunga ucapan duka di pinggirnya. Satpam berkumis tebal segera membuka gerbang begitu tahu keberadaan Keira.

“Mbak Keira pulang juga. Mereka semua menantikan kepulangan Mbak Keira.”
Keira tersenyum tipis. “Semua kakakku ada di sini?”

“Iya. Mereka akan berada di sini sampai malam ketujuh.”

Keira mengangguk. Dia melanjutkan berjalan. Dia menelusuri taman depan rumahnya. Taman yang telah ditinggalkan selama lima tahun, tetapi tetap sama saat dia pergi dari tempat ini.

Rumah pohon itu masih ada. Juga pohon-pohon mangga kesukaannya.
Keira sampai di depan pintu. Dia memilih untuk langsung masuk. Kebetulan pintunya terbuka. Satu langkah kaki Keira menapaki rumah itu, dia bergeming.

Isi dalam rumah ini juga sama. Ruang tamu yang penuh dengan lukisan pohon mangga. Sofa putih dengan motif buah mangga. Buah mangga adalah kesukaannya.

Tubuh Keira menggigil karena perasaan berdebam di hatinya. Dia menyingkirkan perasaan itu dengan lebih dalam memasuki rumah itu. Dia tiba di ruang tengah. Ruang keluarga yang lebih luas dibandingkan ruang tamu. Satpam itu berkata benar. Ketiga kakaknya ada di sini. Beserta istri dan anaknya.

“Keira,” panggil Hendra, sesaat setelah menyadari kehadirannya.

Hangat setelahnya. Hanya ada pelukan yang mereka berikan pada Keira. Sesuatu yang selama lima tahun tidak didapatkannya.

“Kau harusnya memberitahu kami dulu kalau mau pulang. Kami akan menjemputmu,” ucap Hendra.

“Aku memang tidak berniat pulang.”

“Kau ini. Kenapa masih sama seperti dulu? Keras kepala.”

Keira tertawa pelan. Dia mengakui memiliki sifat keras kepala. Buktinya dia sama sekali tidak pulang selama lima tahun ke Indonesia. Alasannya karena seseorang.
Hendra mengantar Keira ke kamarnya.

Kamar yang ternyata masih sama seperti dulu. Ranjangnya yang bermotif buah mangga. Sekaligus dinding kamar bernuansa bunga mangga. Kenapa seisi rumah ini masih sama?

“Istirahatlah dulu. Kau pasti masih merasakan jet leg,” ucap Hendra.

“Aku tidak akan lama di sini. Setelah mengunjungi makam, aku akan kembali ke Korea Selatan.”

Hendra menghela napas. “Keira, kau masih dendam pada Ibu?”

“Memang.”

“Ibu tidak seperti yang kau pikirkan selama ini. Dia sangat menyayangimu.”

“Sayang? Hingga dia mengikat ketiga anak lelakinya sesuai keinginannya?” sindir Keira.

Hendra menepuk lembut pipi Keira. “Istirahatlah dulu. Kita bicarakan ini setelah pikiranmu tenang.”

Setelah itu, Hendra keluar dari kamar Keira. Meninggalkan Keira yang termenung seorang diri. Dia merebahkan diri di ranjang. Kepalanya ditolehkan ke kiri. Tatapannya memerangkap bingkai foto. Foto dirinya dengan Ibu.

Ada yang aneh dengan bingkai foto tersebut. Lima tahun yang lalu, dia membanting bingkai itu sebelum pergi. Tetapi sekarang bingkai itu utuh. Pasti ada yang menggantinya.

Dulu, Keira membanting bingkai foto dirinya dengan ibu karena marah. Dia sangat membenci ibunya. Karena ibunya dia pergi meninggalkan Indonesia dan memilih tinggal di Korea Selatan. Dia punya alasan yang kuat untuk melakukannya.

Ibu, sosok yang seharusnya selalu mendukung keputusan anaknya malah menjadi monster penghalang. Menghancurkan mimpi-mimpi yang dibangun oleh ketiga anaknya.

Ibunya memang orang yang keras. Sejak dia menggantikan posisi kepala rumah tangga. Ketiga anak lelakinya telah menjadi korbannya. Ibunya sedari awal telah memilihkan tempat sekolah, kuliah, pekerjaan, dan pasangan hidup. Segalanya diatur sesuai keinginan ibunya.

Keira yang melihat betapa ketiga kakaknya menderita karena harus mengikuti kemauan ibunya, akhirnya melawan. Dia punya mimpi sendiri. Ingin menjadi seorang dosen dibandingkan harus mengurus perusahaan. Dia tidak menyukai dunia bisnis. Ibunya marah, tentu saja. Tetapi Keira tidak ingin seperti ketiga kakaknya.

Dalam hati kecil Keira, dia memaklumi sikap ibunya. Ibu bukan seorang yang keras dulu. Dia penuh kasih sayang. Sebelum dia menggantikan posisi sebagai kepala rumah tangga. Mengharuskan dia kehilangan cita-citanya untuk menjadi pemahat patung. Kesibukan mengurus perusahaan, menggerus kecintaannya pada seni pahat.

Alasan itu yang membuat Keira marah. Dia menyalahkan ibunya yang seakan menyalurkan dukanya pada anak-anaknya. Keira menganggap ibunya ingin anak-anaknya seperti dirinya. Kesepian karena kehilangan mimpi.

Keira bertengkar hebat dengan ibunya yang berujung kepergiannya. Saat itu, ibunya memasukkannya ke universitas ekonomi. Bahkan telah memilihkan calon pendamping hidup. Keira muak dengan sikap ibunya. Dia memutuskan untuk pergi dari rumah.

Sejak saat itu, Keira hidup mandiri di negeri orang. Bekerja paruh waktu sembari kuliah. Setelah menamatkan kuliahnya, dia juga bekerja di sana. Tidak terbersit dalam pikirannya untuk kembali pulang. Hingga enam bulan terakhir, kakaknya mengabarkan perihal kesehatan ibu yang menurun. Ibu divonis mengidap kanker paru-paru.

“Ibu sakit karena terlalu keras memikirkanmu. Kau tidak ingin pulang?” tanya Hendra suatu hari.

Kata-kata itu menusuk kalbu Keira. Dia tidak mau pulang karena mimpinya. Jika dia pulang, itu artinya dia harus menyerahkan mimpi yang selama ini diperjuangkan.

“Tapi benarkah Ibu menyesali perbuatannya?” gumam Keira.

Keira mengusik kegundahannya. Dia keluar dari kamar. Menghampiri kamar ibunya yang berada di samping kamarnya. Di dalam kamar inilah, dia melihat jati diri ibunya. Kamar ini mengungkapkan kecintaan ibunya akan seni pahat. Kamar ini penuh dengan pahatan patung buatan ibunya. Semua patung di sini adalah patung burung. Didominasi oleh burung garuda.

Keira menyusuri setiap pahatan patung. Dirinya berlabuh pada pahatan patung burung dara. Inilah patung yang sangat istimewa bagi ibunya. Patung yang dipahat dari permintaan neneknya. Keira memperhatikan setiap detail pahatan patung ini.

Sepasang burung dara yang hendak terbang. Salah satu di antaranya mengepakkan sayapnya. Sedangkan burung satunya menutup sayapnya seakan tidak ingin terbang.

“Ibu, kenapa burung dara itu tidak terbang?” tanya Keira kala itu.

Satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh ibunya. Bahkan sampai sekarang, dia tidak tahu makna dari pahatan patung ini. Tetapi ibu selalu mengatakan, patung ini sangat istimewa.

Lima tahun yang lalu, Keira menyimpulkan, patung itu adalah lambang keluarganya. Burung dara yang hendak terbang, menyiratkan keinginan untuk bebas. Sedangkan pada kenyataannya, keluarga ini terkungkung seperti burung dara yang diam menutup sayapnya.

Apakah saat itu, neneknya dapat membaca masa depan dari penerusnya? Mata Keira menangkap sepucuk amplop di bawah patung itu. Dia mengambilnya. Tertulis di amplop itu, surat untuk dirinya dari ibu.

Keira gemetar untuk membacanya. Tampaknya ini adalah surat yang ditulis ibunya sebelum meninggal. Keira menduga, ketiga kakaknya belum tahu karena surat itu masih tersegel.

Untuk putri tersayangku, Keira. Saat kamu membaca surat ini, Ibu mungkin sudah tiada. Ibu tidak dapat menulis lebih panjang lagi. Ibu sangat menyayangimu. Ibu hanya ingin bertemu denganmu. Ibu ingin melihat wajahmu. Memelukmu dengan penuh sayang seperti dulu.

Ibu ingin kamu pulang, Nak. Ibu menyesal. Ibu akan memberitahu rahasia dari patung sepasang burung dara ini. Burung dara yang diam menutup sayapnya bukan karena dia tidak dapat terbang. Melainkan karena kakinya yang terluka. Mengharuskan dia untuk beristirahat dan merelakan burung yang lain untuk terbang meninggalkannya.

Nenekmu ingin Ibu seperti burung yang terluka itu. Beristirahat sejenak dari kesibukan dunia. Meminta Ibu untuk tidak khawatir dengan perusahaan. Ibu menyesal karena baru menyadarinya setelah kamu pergi. Ibu menyesal telah memaksa kalian. Pulanglah, Keira.

Keira menangis pilu. Dadanya tertikam oleh benda kasat mata yang tajam. Ibunya memintanya pulang. Tetapi apa yang telah dia lakukan selama ini? Acuh tak acuh pada permintaan yang dianggap main-main olehnya.

Keira mengaku sekarang. Dia pergi bukan untuk mengejar cita-citanya. Melainkan untuk ego dan balas dendam. Ingin membuktikan pada ibunya kalau dirinya baik-baik saja tanpa dirinya. Dia sangat menyesal sekarang karena tidak dapat menemani ibunya di saat sakit.

Sambil memeluk surat pemberian ibunya, Keira menemui Hendra. Kakaknya panik dengan kondisi Keira yang menangis. Keira menggeleng lemah mengatakan dirinya tidak baik-baik saja.

“Kakak, antarkan Keira ke makam Ibu,” pinta Keira. ***

Kebumen, 7 Juni 2018

Umi Salamah lahir di Kebumen, 21 April 1996. Menulis novel, cerpen, puisi, dan artikel. Karyanya termuat dalam berbagai antologi cerpen dan puisi dan di berbagai media cetak. Buku terbarunya Because You Are My Star (novel remaja kontemporer, Alra Media, 2017).

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Naskah cerpen orisinil, belum pernah tayang di media lain dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan karya beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan

Baca Juga
Lihat juga...