Ihwal Yao Min dan Gagak Air Terjun Lamuran

CERPEN EKO SETYAWAN

606

JIKA saja segala hal di dunia ini bisa ditebak atau bisa dikehendaki sesuai dengan keinginan, maka sudah pasti sifat serakah manusia akan terlihat jelas. Serupa air terjun yang menghunjam dasar sungai, maka segalanya akan berjalan begitu tergesa dan tentu saja akan menyebabkan tanda yang begitu khas.

Yakni lubang yang teramat dalam serta buih-buih yang bergerombol dan meletup seketika. Sifat manusia yang semena-mena itu akan tampak jelas. Manusia keras kepala dan ingin menang sendiri.

Tetapi sebelum segalanya terjadi, gagak-gagak akan datang. Menghentikan dan memperingatkan manusia. Begitulah yang terjadi. Hewan bersayap yang berwarna hitam serupa jelaga itu akan menjaga sifat manusia dari pengaruh buruk dan tindakan-tindakan tercela.

Mungkin kau tak akan percaya jika gagak-gagak itu yang akan mengingatkan segala keserakahan manusia. Sebab, burung gagak selalu identik dengan kekelaman, begitulah pikiran-pikiran yang selalu ditanamkan orang tua kita.

Sungguh cerita murahan yang mereka bangun karena kebencian mereka pada suara-suara gagak.

Aku akan memulai cerita perihal gagak-gagak di air terjun Lamuran. Simak dengan seksama agar kau tak lagi membenci burung yang teramat baik itu, juga kau tak serakah seperti manusia yang lain.

Simaklah dengan seksama dan dalam tempo yang sekhusyuk-khuyuknya:
Negara ini sedang tidak baik-baik saja. Setelah bertahun-tahun merdeka, negara ini kembali gempar. Peperangan terus berlangsung tak henti-henti karena penjajah-penjajah tak lekas pergi.

Alasannya jelas, mereka tak rela meninggalkan negara yang amat makmur ini. Yao Min, seorang keturunan kerajaan yang berdiri di tanah Lampung, atau nama sebenarnya adalah Yahmin, seorang keturunan perpaduan Jawa dan Lampung.

Tetapi karena ia menikah dengan putri Tiongkok, sehingga namanya disamarkan dalam pelarian. Ia sedang bertarung melawan pasukan gerilya Inggris yang begitu gencar ingin menduduki dan menguasai Lampung.

Dalam pelarian Yao Min selepas memimpin gerilya dan pasukannya banyak yang berguguran, ia berusaha menjauhi kota dan masuk ke pedalaman. Ia memasuki hutan dan berusaha untuk tetap bertahan hidup.

Sebab, nyawanya menjadi incaran penjajah, karena ia adalah seorang pemimpin pasukan adat yang tak rela jika negara yang sudah merdeka ini dicampuri oleh orang asing. Tak rela jika kemerdekaan yang sudah di genggaman tangan akan tercerabut kembali.

Yao Min tahu, jika segalanya terjadi, maka harga dirinya sebagai pemimpin akan tumbang. Selain itu, rasa cintanya pada tanah leluhur dan negara sudah teramat besar. Ia tak rela jika negara yang sudah merdeka ini akan jatuh lagi ke tangan penjajah. Segalanya dirasa cukup.

Penderitaan puluhan hingga ratusan tahun yang disebabkan karena kedatangan orang-orang dari seberang itu telah membunuh dan merampas hak-hak orang di tanah kelahirannya. Banyak orang nyawanya terangkat dengan sia-sia di tanah Lampung karena dipaksa bekerja dan sebagian besar mati karena melawan.

“Harga diri manusia tak bisa dibeli dengan apa pun, apalagi hanya dengan sepucuk senjata dan berondongan granat yang sewaktu-waktu dapat membunuh suatu kebenaran dan pengorbanan yang panjang.”

Begitulah kalimat yang selalu meluncur deras dari mulut Yao Min ketika memimpin pasukan adat.

Tentu saja semua warga yang ikut dalam pasukan itu akan terbakar. Mereka akan bergelora serupa kembang api. Pasukan itu adalah kembang api, sementara Yao Min adalah korek yang menyulut lalu membakarnya.

Mereka akan berpijar bersama-sama menjadi bunga-bunga api yang memercik. Hal itulah yang membuat perlawanan semakin gencar.

Tetapi dalam pelariannya ke dalam hutan, Yao Min mengalami masalah. Sebab ia tak membawa bekal. Ia seorang diri memasuki kehidupan yang begitu hening, menyatu dengan alam tanpa membawa perlengkapan apa pun. Termasuk makanan yang menjadi kebutuhan utama menyambung hidup manusia.

Pelarian Yao Min selama berhari-hari membawanya sampai ke lereng gunung Tanggamus. Ia berhasil mencapai lereng gunung berkat kakinya yang selalu melangkah dan tak tidur berhari-hari. Juga tak memakan ap apun. Tubuhnya lunglai, lemas serupa tumbuhan yang tak terguyur air hujan selama berbulan-bulan. Tak ada harapan lagi.

Ia menyandarkan tubuhnya di bawah rindangnya pohon yang berukuran lima kali bentangan tangan manusia dewasa. Di tempat itulah ia memejamkan mata. Ia menahan haus dan lapar. Sebab selama pelariannya, ia sama sekali tak menemukan air dan makanan.

Negara sedang memanas. Begitu juga udara yang begitu menyengat, begitu lembab. Sudah beberapa bulan tak turun hujan. Menyebabkan diri Yao Min kehilangan kekuatan.

Sesaat setelah memejamkan mata, suara gagak-gagak gaduh di ranting-ranting pohon. Yao Min membuka matanya lantas menatap lekat ke atas pohon. Ada kawanan gagak di atasnya. Berwarna hitam legam.

Mereka berwujud mengerikan. Bukan karena bentuk mereka yang menyeramkan atau pun suara-suara yang melengking, namun semua telah diturunkan oleh orang-orang tua yakni tentang mengerikannya stigma gagak. Serupa doktin yang dipaksakan oleh pimpinan penjajah pada pribumi.

“Jika Tuan hendak membutuhkan bantuan, kami akan menolong. Tapi bersikaplah selayaknya orang yang meminta tolong,” ucap salah satu gagak, cakarnya mencengkram erat ranting. Yao Min tergeragap, ia kaget bukan kepalang. Ia tak percaya jika gagak itu bisa berbicara.

“Maksudmu? Sungguhkah kau yang mengatakan itu tadi wahai gagak hitam?” tanya Yao Min sembari mendongkakkan kepalanya. Ia menatap lekat pada segerombolan gagak yang telah mengagetkannya.

Angin bertiup perlahan. Menggugurkan beberapa helai daun kering yang ada di lereng gunung Tanggamus. Tubuh Yao Min tersapu lembut. Semilir angin menabrak tubuhnya. Ada udara dari surga yang ditiupkan Tuhan melalui utusannya.

Baca Juga

Yao Min menarik napas agak dalam dan perlahan, menyimpannya sesaat lalu membuangnya kembali. Lalu ia menguatkan konsentrasinya dengan segera. Menajamkan indra dengarnya lantas menunggu burung gagak itu berbicara kembali.

“Tuan Yao Min benar. Kami yang telah mengucapkannya. Kami tak bermaksud apa-apa, hanya ingin sekadar membantu Tuan.” Gagak yang lain menyambung, berusaha meyakinkan orang yang tengah menyempurnakan penderitaannya dalam pelarian itu.

Tetapi gerombolan gagak itu benar-benar menyadari betapa sengsaranya orang yang mereka temui. “Tuan tak perlu gelisah. Mari ikuti kami. Kami tak akan memaksa Tuan Yao Min untuk meminta tolong, tetapi kami mohon ikutilah perkataan kami.”

Gagak-gagak itu terbang perlahan. Yao Min mengikutinya dengan sekuat tenaga. Mengeluarkan segenap sisa tenaganya demi menuntaskan rasa haus dan keringnya tenggorokan serta perut yang tak berisi sedikit pun makanan. Ia mengingat terakhir kali ia memasukkan makanan dalam mulutnya.

Ia menyuapkan ketela pohon yang diperolehnya ketika melawan orang-orang asing. Didapat dari kawannya di tengah gejolak.

Yao Min mengekori gerombolan gagak-gagak itu. Ia mendengar lekat suara aliran sungai yang cukup deras. Semakin ia berjalan, suara itu semakin jelas. Ia mulai melihat pantulan sinar matahari di permukaan air sungai. Semakin ia berjalan, semakin matanya silau oleh pantulan cahaya itu. Lalu ia melihat air sedikit demi sedikit.

Semakin ia berjalan air itu terlihat semakin luas. Ada aliran sungai yang cukup deras. Sungai yang ainya bening itu cukup lebar. Yao Min melihat air terjun. Tetapi untuk mencapainya, Yao Min terhalang tebing yang agak curam.

Dengan sisa tenaganya, tak mungkin ia bisa sampai di pinggir sungai. Ia hanya mampu mencapai tubir jurang yang tingginya tak seberapa.

Dalam kegembiraannya karena telah menemukan sumber air, Yao Min bergegas mencari piranti yang bisa digunakannya untuk mengambil air tanpa harus menuruni curamnya tebing.

Lantas kepalanya berpikir. Apa yang bisa digunakannya untuk mengambil air. Padahal di sekelilingnya hanya ada pepohonan dan ranting-ranting dengan daun yang meranggas.

Akhirnya ilham turun dari langit, hinggap di kepala Yao Min. Ia mematahkan ranting pohon yang ada dekat dengan dirinya. Lalu ia mencabut rerimbunan rumput yang sudah mulai berwarna kekuningan di sekitarnya lantas mengikatnya di ranting.

Ia berpikir meskipun ranting itu tak bisa berfungsi sebagai gayung, tetapi dengan adanya ikatan rumput, paling tidak ia bisa menyesap air dari rumput-rumput yang ia celupkan ke air sungai dengan ranting itu. Benda yang digunakan Yao Min jadi seperti sapu ijuk.

Dalam percobaannya yang pertama, tangannya menjulurkan ranting ke sungai. Berhasil. Rumputnya tercelup. Ia yakin rumput itu menyerap air. Lalu ia menariknya secara berlahan. Tetapi ketika tarikannya hampir mencapai dirinya, segerombolan gagak-gagak yang menuntunnya ke tepi air terjun itu mengerubunginya.

Gagak-gagak itu mengganggu Yao Min. Mengeroyok tangannya dan mematuk jari-jarinya. Yao Min terperangah. Ia yang semula tak mempedulikan gagak-gagak yang menuntunnya sampai ke tempat itu kembali menyadari keberadaan mereka setelah ia acuhkan. Alhasil, ranting yang digenggamnya terlepas dan jatuh ke air terjun.

Yao Min kembali mengulangi hal yang sama. Ia memantahkan ranting pohon yang ada dekat dengan dirinya. Lalu mencabut rerimbunan rumput yang sudah mulai berwarna kekuningan lantas mengikatnya di ranting. Tangannya kembali menjulurkan ranting ke sungai. Berhasil.

Rumputnya tercelup dan ia tahan agak lama agar menyerap air lebih banyak. Lalu ia menariknya secara berlahan. Tetapi ketika tarikannya hampir mencapai dirinya, segerombolan gagak-gagak yang menuntunnya ke tepi air terjun itu lagi-lagi mengerubunginya. Gagak-gagak itu mengganggu Yao Min. Mengeroyok tangannya dan mematuk jari-jarinya.

“Apa yang kalian lakukan. Apa kalian ingin aku mati kehausan?” Yao Min terpancing emosinya. Ia marah pada gagak-gagak yang menuntunnya ke tepi sungai.

“Tahanlah hausmu barang sebentar, Tuan,” kata gagak-gagak itu.

“Mana mungkin aku bisa menahan rasa hausku jika di depanku sudah ada yang bisa mengusir keringnya tenggorokanku!” suara Yao Min meninggi. Ia benar-benar marah.

Yao Min murka. Ia lantas mematahkan ranting dan mengayunkannya ke gerombolan gagak. Gagak-gagak itu tak mengira jika Yao Min akan melakukannya. Mereka tak sempat menghindar. Gagak-gagak itu terkena sabetan ranting lalu terpelanting. Yao Min yang telanjur marah langsung memukuli gagak-gagak dengan beringas. Alhasil, gagak-gagak itu sekarat.

Yao Min tak lagi mempedulikan gagak-gagak itu. Ia berjalan menyusuri tebing sungai demi bisa mencapai tepian sungai dan mudah mengambil air. Dengan sisa-sisa tenaganya, Yao Min berjalan menuju hulu sungai.

Akhirnya ia berhasil menemukan jalan untuk menuruni tebing. Sesampainya di sana, alangkah terkejutnya Yao Min ketika sampai di hulu sungai yang berupa air terjun itu terdapat banyak pohon upas atau orang-orang mengenalnya dengan pohon ancar.

Tumbuhan beracun itu banyak tumbuh di hulu sungai dan secara tidak langsung mencemari air sungai. Racun pohon itu tentu saja telah membuat air sungai beracun apalagi jika sampai masuk ke tubuh manusia. Jika saja Yao Min memaksa minum air sungai itu, ia pasti tak akan selamat.

Seketika pikiran Yao Min melayang pada gagak-gagak yang telah disiksanya. Air matanya menetes. Matanya telah buta. Lamur karena keserakahannya. ***

Eko Setyawan, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Kuliah di Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret. Buku kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (Bebuku, 2017). Bergiat di Komunitas Sastra Senjanara dan Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Karya fiksinya juga pernah tayang, tersebar di berbagai media baik cetak maupun online.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas yang pasti tidak SARA. Naskah cerpen orisinil, belum pernah tayang di media lain dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan karya beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan

 

Baca Juga
Lihat juga...