Indahnya Alam di Bukit Cendana Kulonprogo

Editor: Koko Triarko

492
YOGYAKARTA — Arak-arakan awan putih seakan terlihat lebih dekat dari atas Bukit Cendana. Pemandangan mempesona khas alam pegunungan, terhampar seluas mata memandang. 
Dari sisi sebelah barat hingga utara, jajaran perbukitan Menoreh nampak menghijau memukau mata. Berpadu dengan pemandangan indah Waduk Sermo di sisi sebelah timur, dan Samudera Hindia di sebelah selatan.
Edi Susanto, pengelola wisata Bukit Cendana. –Foto: Jatmika H Kusmargana
Terletak di Dusun Tegiri II Hargowilis, Kokap, Kulonprogo, Bukit Cendana menjadi salah satu lokasi tepat menghabiskan waktu liburan di Yogyakarta. Tak seperti tempat wisata lain seperti Kalibiru, Bukit Cendana menawarkan sesuatu yang berbeda.
Salah satu puncak Bukit Cendana yang bernama puncak Kayangan, menyimpan cerita rakyat yang tak lekang zaman. Konon, di lokasi inilah dulu salah satu Wali di tanah Jawa pernah melakukan tapa.
Sejumlah petilasan berupa sumur tua serta rerimbun pohon bambu, hingga kini masih dilestarikan, karena dipercaya sebagai penanda sejarah awal keberdaan desa tersebut.
“Konon, dulu seorang wali memecah batu di atas bukit Cendana. Pecahan batu itu terlempar ke suatu tempat. Dan, di situlah muncul sumur mata air yang hingga kini tak pernah kering airnya,” ujar salah seorang warga setempat, Edi Susanto.
Edi juga menyebut, di salah satu lokasi sekitar Bukit Cendana, terdapat rerumpun bambu yang dipelihara dan tak pernah ditebang warga. Bila ditebang, warga percaya musibah akan datang menimpa desa mereka.
“Ceritanya dulu ada seorang wali menancapkan tusuk sate ke tanah. Dari tanah itu kemudian tumbuh pohon bambu. Karena dipercaya akan menimbulkan bencana bila ditebang, sampai sekarang warga tetap menjaganya,” katanya.
Dibangun secara swadaya oleh warga sejak 2017, Bukit Cendana dikonsep sebagai tempat wisata dengan sejumlah spot foto dan gardu pandang. Berbagai fasilitas pendukung nampak sudah tersedia di lokasi.
Mulai dari sejumlah gazebo, pendopo aula pertemuan, kamar mandi, lokasi parkir, hingga sejumlah spot foto menawan, di antaranya jembatan gantung, hingga ayunan di atas ketinggian berlatar pemandangan menakjubkan.
“Nama Bukit Cendana dipilih karena di bukit ini banyak tumbuh pohon Cendana,” ujar Edi Susanto, yang juga merupakan salah satu pengelola wisata Bukit Cendana.
Meski tak seramai Kalibiru, jumlah pengunjung Bukit Cendana selama masa libur Lebaran, meningkat. Setiap hari, 400-500 wisatawan tercatat berkunjung ke lokasi ini. Meningkat signifikan dibanding hari biasa yang hanya dikunjungi puluhan orang saja.
Salah satu kendala utama yang menghambat pengembangan tempat wisata Bukit Cendana ini adalah akses jalan menuju lokasi. Selain sempit dan berupa tanjakan curam, akses jalan juga masih belum diaspal, sehingga cukup berbahaya.
“Karena dikelola secara swadaya, kita belum memiliki dana untuk memperbaiki akses jalan masuk. Padahal, itu merupakan faktor utama pengunjung mau datang ke sini,” ujarnya.
Baca Juga
Lihat juga...