banner lebaran

Ini 10 Inovasi Persiapan Penyelenggaraan Haji

Editor: Mahadeva WS

144

JAKARTA – Kementerian Agama mengeluarkan sepuluh inovasi dalam penyelenggaraan ibadah haji 1439 H/2018 M. Inovasi tersebut muncul pasca kunjungan hampir sepekan di Arab Saudi yang digelar di kantor Daerah Kerja (Daker) Mekah.

Menteri Agama Lukman Saifuddin mengatakan, persiapan haji 1439H/2018M sudah hampir final. “Cek akhir persiapan haji 2018 berjalan lancar. Bersyukur secara keseluruhan layanan sudah siap 90-95 persen. Tinggal finalisasi kontrak beberapa hotel di Madinah dan penyelesaian kontrak katering,” ungkap Lukman Saifuddin, Selasa (12/6/2018).

Menag mengatakan ada beberapa inovasi yang diterapkan di musim haji 2018. Yang pertama adalah perekaman biometriks jemaah sudah bisa dilakukan di semua embarkasi haji di Indonesia. Sejak 2016 lalu, Kementerian Agama terus mengusahakan agar rekam biometrik yang mencakup data 10 sidik jari dan foto wajah jemaah haji bisa dilakukan di Indonesia.

Upaya tersebut baru bisa direalisasikan tahun ini. “Inovasi ini akan memotong antrian dan masa tunggu yang sangat panjang saat pemeriksaan imigrasi jemaah, baik di Bandara Madinah maupun Bandara Jeddah. Dari sebelumnya bisa 4-5 jam, tahun ini diharapkan antrian jemaah di kedua bandara di Saudi itu hanya sekitar satu jam,” jelasnya.

Setelah itu, nantinya saat tiba di Madinah dan Jedah, jemaah hanya tinggal melakukan proses clearance (verifikasi akhir), melalui perekaman sidik jari dan stempel paspor kedatangan. Bahkan, khusus embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG), Jakarta-Bekasi (JKS) dan embarkasi Surabaya (SUB) seluruh proses imigrasi baik biometrik maupun clearance sudah dilakukan di Indonesia.

“Jadi, sampai bandara di Madinah atau Jeddah,  jemaah yang berangkat dari tiga embarkasi ini bisa langsung menuju bus untuk diantar ke hotel,” katanya.

Inovasi selanjutnya, mengenai QR Code pada gelang jemaah yang berisi rekam data identitas jemaah. Keberadaan data yang dapat diakses melalui aplikasi haji pintar tersebut akan memudahkan petugas haji dalam mengidentifikasi dan membantu  jemaah yang membutuhkan pertolongan.

Sedangkan inovasi ketiga adalah, sistem sewa akomodasi satu musim penuh di Madinah. Selama ini sistem sewa seperti ini hanya diterapkan di Makkah. Kemudian di Madinah sewa akomodasi dilakukan secara blocking time. Di tahun ini, 52,02 persen jemaah akan ditempatkan di 32 hotel yang disewa satu musim penuh.

Artinya, hotel menjadi hak jemaah Indonesia secara penuh tidak dibagi dengan negara lain. Dengan begitu, pemindahan jemaah dari Madinah ke Makkah atau sebaliknya dapat dilakukan dengan memperhatikan kenyamaan jemaah.  “Kita tidak lagi khawatir dengan masalah batas waktu tinggal di hotel, seperti pada sistem blocking time,” tutur Lukman.

Selanjutnya adalah, penggunaan bumbu masakan dan juru masak asal Indonesia. Kemenag meminta seluruh perusahaan katering menggunakan bumbu asli dari Indonesia. Hal itu untuk menjaga cita rasa khas kuliner Indonesia, sekaligus meningkatkan ekspor Indonesia ke luar negeri. Selama ini, bumbu masak di Saudi di dominasi dari negara lain. “Kami juga wajibkan penyedia katering untuk mempekerjakan juru masak asli Indonesia,” tambahnya.

Kelima mengenai layanan katering bagi jemaah haji Indonesia selama di Makkah ditambah. Sebelumnya hanya 25 kali, pada tahun ini menjadi 40 kali. Ada pula penambahan pemberian kelengkapan minuman dan makanan berupa teh, gula, kopi, saos sambal, kecap dan satu potong roti untuk setiap jemaah.

“Dana sebesar SAR1500, tetap diberikan penuh sebagaimana biasa sehingga bisa digunakan jemaah untuk keperluan lainnya. Jemaah haji yang diberangkatkan pagi hari dari hotel di Makkah pada 8 Dzulhijjah atau fase puncak haji, akan mendapat tambahan makan siang di Arafah,” sambungnya.

Selanjutnya dilakukan, penandaan khusus pada paspor dan koper, serta penggunaan tas kabin. Untuk memudahkan pengelompokan, paspor dan koper jemaah tahun ini diberi tanda warna khusus disetiap rombongan setiap kloternya. Tanda warna menunjukan sektor atau wilayah hotel dan nomor hotel tempat tinggal jemaah.

Inovasi ini untuk mempermudah identifikasi paspor dan menghindari tertukarnya koper jemaah. Tahun ini layanan hotel juga ditambah dengan jasa angkut sehingga jemaah tidak perlu lagi membawa kopernya hingga sampai pintu kamar. Sebelumnya, koper jemaah sering bercampur karena sulit diidentifikasi dan mereka juga membawa kopernya sendiri ke kamar.

Tahun ini, tas kabin jemaah juga diubah dari sebelumnya berbentuk tas jinjing atau tenteng menjadi tas beroda sehingga mereka tinggal menariknya. Kemudian kebijakan pengalihan porsi bagi jemaah wafat kepada ahli waris. Tahun ini, Kemenag telah mengeluarkan regulasi baru bahwa jemaah wafat boleh digantikan ahli warisnya.

Penggantian dilakukan dengan syarat, jemaah tersebut wafat setelah ditetapkan sebagai jemaah berhak lunas pada tahun berjalan. Untuk tahun ini, mereka adalah jemaah yang wafat setelah 16 Maret 2018. Dimana pada tahun sebelumnya, porsi jemaah wafat tidak bisa digantikan sehingga uangnya ditarik kembali oleh ahli waris.

Jika akan digunakan untuk mendaftar, maka ahli waris terhitung dalam antrian baru. Pencetakan visa yang saat ini sudah bisa dilakukan oleh Kemenag menjadi inovasi kedelapan. Inovasi ini sangat signifikan dalam mempercepat proses penyiapan dokumen keberangkatan jemaah. Sebelumnya, Kemenag harus menunggu visa dari Kedutaan Saudi sehingga tidak jarang prosesnya menjadi lebih lama.

Sedangkan ke sembilan, adalah mengintensifkan layanan bimbingan ibadah,  Kemenag tahun ini menempatkan satu konsultan di tiap sektor. Selama ini, konsultan ibadah hanya ada di kantor daerah kantor (Daker) Mekah. Konsultan ini diharapkan bisa bersinergi dengan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) yang ada di tiap kloter.

Kesepuluh, Kemenag membentuk tim Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH). Tim ini terdiri dari petugas layanan umum yang memiliki kemampuan medis. Diisi oleh petugas dari rumah sakit haji, prodi kedokteran UIN Jakarta, serta rumah sakit TNI/Polri.

Tim ini disiapkan untuk mendukung layanan kesehatan pada puncak haji, utamanya pada hari pertama lontar jumrah. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, banyak jemaah yang membutuhkan pertolongan kesehatan di areal Jamarat menuju Mina.

“Sepuluh inovasi ini merupakan upaya Pemerintah untuk terus meningkatkan pelayanan bagi jemaah. Harapannya, mereka bisa beribadah dengan tenang, memperoleh kemabruran, serta kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat,” ucap Menag.

Lukman menyebut, Dia harus bisa memikirkan detail kecilnya untuk para jemaah selama di Mekah dan Madinah. “Kami coba memikirkan hingga detail kecil. Bahkan, jemaah kloter awal tahun ini tidak diundi hotelnya. Mereka akan ditempatkan di radius terdekat dengan Masjidil Haram. Tujuannya, memudahkan mereka melakukan tawaf wada’ saat bus shalawat belum beroperasi dan mereka harus segera bersiap pulang ke Tanah Air,” pungkasnya.

Diketahui Menag melakukan kunjungan ke Arab Saudi pada Kamis 7 Juni lalu. Setibya di Jedah, Menag langsung memimpin rapat bersama jajaran Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, tim penyedia layanan serta Konjen RI di Jedah dan tim kantor urusan haji (KUH). Pada rapat tersebut membahas mengenai kesiapan layanan haji tahun ini. (baca: https://www.cendananews.com/2018/06/menag-layanan-haji-sudah-siap.html).

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.