banner lebaran

Jalan Alternatif Pesisir Pantai Kota Maumere Kian Sebabkan Polusi

Editor: Koko Triarko

213
MAUMERE – Debu yang beterbangan hingga ke jalan negara hingga mencapai radius 500 meter dari jalan alternatif di pesisir Pantai Kota Maumere, tak hanya mengganggu penglihatan dan keamanan serta kenyamanan pengendara, namun juga menyebabkan polusi dan mendatangkan penyakit bagi masyarakat sekitar dan pengendara itu sendiri.
“Kontraktor dan Satker Jalan Nasional harus segera mengatasi permasalahan ini dengan melakukan penyiraman rutin jalan tanah di pesisir pantai yang menjadi jalan alternatif, agar tidak menyebabkan polusi yang kian meluas, dan menganggu kenyamanan warga sekitar jalan,” ungkap Carolus W. Keupung, Dewan Pembina WALHI NTT, Kamis (21/6/2018).
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka, Wilhelmus Sirilus. -Foto: Ebed de Rosary
Mantan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi NTT ini menilai, pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek jalan nasional seolah masa bodoh dan tidak menanggapi keluhan warga, sehingga jembatan yang terancam putus pun dibiarkan saja. Bahkan, katanya, jalan tanah yang semakin berdebu pun tidak diindahkan.
“Pemilihan jalan alternatif harusnya yang lebih layak, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang besar bagi pengendara dan warga sekitar. Kalau hanya membangun dan mengalihkan arus lalu lintas ke jalan alternatif lalu tugasnya selesai, maka ini tidak benar,” sesalnya.
Menurutnya, pembangunan jembatan Nangameting merupakan proyek nasional yang dibiayai dari dana APBN, sehingga seharusnya pihak PPK Satker Jalan Nasional Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengalokasikan dana tambahan untuk pembangunan atau perbaikan jalan alternatif.
“Coba dibayangkan, kalau pembangunan ini bisa selesai dalam enam bulan, maka tentu dampak polusi akan semakin besar. Baru sebulan saja debu sudah sangat mengganggu dan menyebabkan polusi, dan amarah warga dan pemilik tempat usaha di sekitar lokasi jalan,” tegasnya.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka, Wilhelmus Sirilus, menjelaskan, memang pihaknya diminta bantuan oleh Satker Jlalan Nasional untuk mengatur arus lalu lintas yang melewati jalan alternatif di pesisir pantai, agar tidak ada pengendara yang menerobos masuk dari wilayah timur kota Maumere melewati jalan alternatif di pesisir pantai.
“Kalau petugas kami sudah tidak bertugas, maka pengendara kembali bebas menggunakan jalan alternatif yang seharusnya untuk satu arah, tetapi dibuat dua arah sehingga menyebabkan kemacetan dan meningkatkan polusi akibat banyak kendaraan yang melintas,” ungkapnya.
Jalan alternatif di pesisir pantai ini, kata Sirilus, sangat sempit sekali dan dua jembatan darurat yang dibuat sudah mulai rusak parah dan timbunan tanahnya pun sudah berantakan, akibat diterjang gelombang laut.
“Bila tidak segera diperbaiki, maka akan mengacam keselamatan pengendara, apalagi saat malam hari lokasi sepanjang jalan alternatif tidak ada penerangan. Jalan tanah pun sudah mulai amblas akibat sering dilewati kendaraan berat,” pungkasnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.