Jelang Lebaran, Warga Kampung Ketupat Panen Pesanan

351
Ilustrasi ketupat - Foto Dokumentasi CDN

BOGOR – Tiga hari menjelang Lebaran Idul Fitri 1439 Hijriah, warga Kampung Ketupat, Cimahpar, Kota Bogor, Jawa Barat sibuk menyelesaikan pesanan ketupat. Setiap perajin bisa mendapatkan pesanan hingga ribuan ketupat.

Erna Susila (40) salah satu perajin ketupat menerima pesanan hingga 2.000 ketupat untuk Rabu (13/6/2018). Tercatat, pesanan terus datang hingga hari Lebaran. Sejak Ramadan, permintaan ketupat meningkat dari hari biasa. Jika sehari bisa membuat satu dandang ketupat, selama Ramadan Erna bisa sampai membuat ketupat hingga tiga dandang. “Satu dandang ini isinya 1.500 ketupat,” katanya, Selasa (12/6/2018).

Erna dan suaminya Endang Subadri (50) sudah merintis usaha jual ketupat sejak 15 tahun silam. Usaha ketupat di Kebon Nanas, Cimahpar, Kota Bogor sudah berlangsung turun temurun. Usaha tersebut dilakukan oleh warga sejak era pemerintah Presiden Soeharto.

Awal mula nama Kampung Ketupat muncul karena warga sekitar berprofesi sebagai pembuat dan penjual ketupat. Kegiatan tersebut pada awalnya, diinisiasi oleh Pak Yahya Almarhum. Pak Yahya adalah ayah dari Endang Subadri, atau mertua dari Erna yang sehari-hari berprofesi sebagai petani dan jualan lontong sayur.

“Awal mulanya bapak itu petani, karena sehari-hari tidak menentu pendapatannya, bapak coba-coba bikin ketupat, sampai sekarang jadi keterusan sama anak-anaknya, diikuti tetangga juga,” katanya.

Ada lima perajin ketupat di Kebon Nanas. Mereka setiap hari membuat dan menjual ketupat. Rata-rata setiap perajin bisa membuat hingga 1.500 biji ketupat. Untuk membuat 1.500 ketupat dalam sehari, Erna dan perajin lainnya mengupah pembuatan ketupat ke tetangga mereka. 100 ketupat kosong diupah Rp2.500 di hari biasa.

Karena permintaan meningkat, upah naik menjadi Rp5.000 untuk 100 ketupat kosong. Ketupat yang dijual Erna adalah ketupat yang sudah masak, atau siap makan. Harganya jualnya, dari Rp7.000 naik menjadi Rp10 ribu untuk 10 ketupat ukuran kecil. Sedangkan ukuran besar bisa mencapai Rp25 ribu untuk 10 ketupat.

Ketupat yang sudah matang dijual di Pasar Anyar. Pembelinya adalah pelanggan tetap Erna yang sudah memesan sejak awal. Di Ramadan kali ini Erna, sedikit kewalahan memenuhi permintaan pelanggan. Selain karena keterbatasan tenaga kerja, serta keterbatasan peralatan usaha. Saat ini Erna hanya memiliki dua unit dandang untuk memasak ketupat.

Satu unit dandang untuk memasak 1.500 ketupat, membutuhkan waktu memasak hingga tujuh jam dengan menggunakan kompor gas. Walau masih usaha kecil-kecilan, usaha ketupat milik Erna terus berlanjut di tengah banyaknya perajin ketupat yang gulung tikar karena tidak menjaga kualitas dan komitmen.

“Kebetulan kami tetap menjaga kualitas, kalau masak memang harus tujuh jam tidak boleh kurang, dan beras yang kami pakai beras IR64 yang kualitas bagus, jadi pelanggan puas,” katanya.

Erna ingin usahanya terus berlanjut. Dia berharap suatu saat bisa memiliki ruko untuk menjual ketupat. Tetapi karena biaya tinggi, ia mengalokasikan anggaran untuk pendidikan anaknya. “Kalau jualan di pasar, yang namanya PKL itu sering kena gusur. Maunya saya punya ruko, bisa enak jualannya. Tapi biaya mahal,” kata ibu tiga anak ini. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...