Karang Taruna Lamtim Berdayakan Masyarakat di Lokasi Wisata

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

184

LAMPUNG — Masyarakat dusun Silemjaya desa Sriminosari kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur mulai kehilangan pekerjaan akibat dihentikannya tambang pasir. Sejak tiga tahun terakhir sektor tambang sebagai sumber usaha warga yang berprofesi sopir truk, buruh cangkul, pengepul dan pelaku usaha.

Supriadi (38), ketua Karang Taruna Timur Sejahtera menyebutkan, sejumlah wanita yang bekerja membuka warung bahkan harus beralih profesi menjadi buruh tanam karena aktifitas penambangan pasir terhenti.

Potensi usaha sektor wisata menjadi pilihan bagi pemuda dan warga yang sempat menjadi pengangguran. Sebanyak 16 anggota mulai swadaya mengumpulkan modal awal masing-masing Rp200 ribu.

“Awalnya kami prihatin, banyak kamu muda tidak memiliki pekerjaan sementara di tempat lain sektor usaha wisata alam cukup menjanjikan dan bisa memberdayakan masyarakat secara ekonomi,” terang Supriadi kepada Cendana News baru baru ini.

Modal patungan mulai diaplikasikan dengan penataan lokasi wisata. Program mengentaskan kemiskinan dan mengatasi pengangguran mulai diterapkan di lokasi wisata yang kini dikenal dengan taman wisata mangrove dusun Silemjaya Sriminosari.

Supriadi, ketua karang taruna Timur Jaya memberdayakan masyarakat yang semula menganggur dengan usaha wisata taman mangrove [Foto: Henk Widi]
Penataan lokasi dilakukan dengan memperbaiki akses jalan masuk, membuat jembatan, trek pejalan kaki, sejumlah warung kuliner, area parkir, saung, spot foto dan fasilitas toilet.

“Usaha yang kami lakukan menjual jasa wisata, sapta pesona untuk menarik pengunjung menjadi sumber penghasilan dari usaha yang dilakukan oleh para pemuda,” papar Supriadi.

Sambutan positif warga juga diakui oleh Wisnu Saputra, wakil ketua karang taruna Timur Sejahtera. Warga yang dominan bekerja sebagai nelayan tangkap, petani dan pembudidaya udang tambak ikut merasakan sisi positif.

Kaum ibu mulai bisa berjualan di lokasi yang disediakan, para pemuda bisa bekerja mengelola objek wisata, bahkan sebagian hasil dari tiket masuk bisa disisihkan untuk kegiatan sosial.

Wisnu Saputra menyebut saat libur panjang siswa sekolah, Idul Fitri dan cuti bersama, pengunjung bisa mencapai lebih dari 3.500 orang dengan tiket masuk hanya Rp7.000 per orang.

Hasil penjualan tiket mulai dikembangkan lagi untuk modal penambahan fasilitas serta perluasan kawasan wisata. Izin dari kelompok konservasi mangrove dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan diperoleh setelah sektor wisata terbukti memberi pemasukan bagi warga.

“Omzet bagi karang taruna kita jadikan modal yang diputar, peningkatan pelayanan dan sarana, sekaligus memberi kesempatan warga membuka usaha,“ papar Wisnu Saputra.

Kendala akses jalan yang masih sulit dilalui kendaraan roda empat tengah diusulkan ke pemerintah desa. Sementara puluhan warung yang menyediakan makanan dan minuman ringan saat hari biasa bisa beromzet ratusan ribu per hari. Bahkan saat libur hari raya Idul Fitri omzet bisa mencapai jutaan rupiah. Wisnu menyebut sebagian ibu rumah tangga yang semula menganggur mulai mendapatkan pemasukan secara berkelanjutan.

“Inovasi terus kita lakukan agar objek wisata taman mangrove tidak monoton dan terus dikunjungi wisatawan,” terang Wisnu.

Sugeng, salah satu nelayan dari Kelompok Usaha Bersama Sriminosari menyebutkan, sektor usaha wisata ikut memberi nilai tambah baginya. Sebagai nelayan ia menyebut saat pengunjung sepi dirinya bisa melaut mencari ikan.

Saat jumlah kunjungan meningkat dengan minat menyusuri sungai, ojek perahu dengan konsep safari susur sungai memberi penghasilan. Tiket naik perahu sebesar Rp5.000 bahkan bisa menghubungkan sejumlah spot menarik dan memberi penghasilan ratusan ribu bagi nelayan selama tak melaut.

“Usaha jasa sewa perahu dan pedagang di kawasan wisata sekaligus pengelolaan telah menciptakan usaha baru bagi warga dan mengurangi pengangguran,” papar Sugeng.

Hal yang sama juga dialami oleh Erni Saputri, ibu rumah tangga yang memiliki warung terapung pink. Ia mulai mendapatkan omzet cukup lumayan dengan hasil sekitar Rp500 ribu perhari saat hari biasa, libur lebaran Rp3 juta dan libur tahun baru Rp5 juta. Omzet tersebut diakuinya cukup membantu bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya dengan berjualan makanan dan minuman ringan bagi wisatawan di objek wisata hutan mangrove. Hal yang sama juga dialami bagi sejumlah pedagang di taman mangrove Silemjaya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk