Kejayaan Islam Menggema di TMII

Editor: Satmoko

334

JAKARTA – Suasana Sasono Utomo Taman Mini Indonesia (TMII) begitu khidmat, mana kala drama kolosal bertajuk “Berkarya untuk Kejayaan Islam dan Indonesia” ditampilkan dalam acara buka bersama akbar 2018, Minggu (3/6/2018) sore.

Dikisahkan, kehidupan Raja Buluk dan Ratu Lebay pada drama kolosal ini. Raja Buluk, yang kaya tidak peduli dengan kehidupan rakyatnya. Dia hanya memikirkan dirinya, dan berbahagia di atas penderitaan rakyatnya.

Nasihat para ulama yang menyejukkan agar seorang raja harus berbakti kepada rakyatnya dengan cara menyejahterakan. Namun, hati Raja Buluk tetap tak peduli pada rakyatnya. Hingga putrinya, yakni Naya turut menasihati ayahnya agar bersikap bijaksana dan adil kepada rakyat, apalagi sebagai Muslim.

Ustad Umar Makka pada acara buka bersama akbar 2018 di Sasono Utomo TMII, Jakarta, Minggu (3/6/2018) sore. Foto : Sri Sugiarti.

Namun nasihat Naya, tak dipedulikan sang Raja. Hingga Naya pun tak tahan dengan sikap ayahnya. Kemudian secara diam-diam, Naya meninggalkan istana untuk lebih mendekat dengan rakyat. Setiap hari dia berkeliling kampung menemui para petani.

Tentu Naya mendapati kehidupan baru dengan melihat langsung rakyatnya dalam keseharian. Hingga suatu saat, Naya bertemu dengan seorang raksasa yang baik hati. Dia mengeluhkan sikap sang ayah yang tak peduli pada rakyatnya. Padahal Islam mengajarkan untuk saling membagi.

“Saya heran dengan ayah yang tak peduli dengan rakyatnya padahal berlimpah harta,” ucap Naya.

“Oh, ayah putri kaya tetapi tidak menggambarkan raja bijak berjiwa Nusantara,” jawab Raksasa itu.

Raksasa terus menghibur putri Naya dengan memperlihatkan ragam kreasi rakyat yang bagus. Naya pun tertarik dan bangga atas kreasi itu yang mengambarkan keimanan Muslim.

Ustad Umar Mikka, yang tampil dalam buka bersama akbar mengatakan, drama ini menggambarkan seorang raja yang memiliki putri yang gundah karena melihat ayahnya yang tidak memperhatikan rakyatnya.

“Seandainya, Raja Buluk itu tahu dan membaca sejarah pemimpin-pemimpin Islam terdahulu, bagaimana Umar Bin Khatab memperhatikan rakyatnya, misalnya,” kata Ustad Umar.

Suatu hari, jelas dia, Umar Bin Khattab keluar dari rumahnya untuk melihat kondisi rakyatnya. Ketika keliling di sebuah perkampungan di kota Madinah, beliau mendapati seorang ibu yang rumahnya masih menyala padahal sudah tengah malam.

Umar Bin Khattab, kata dia, mengucapkan salam dan memohon agar ibu itu mengizinkan dirinya masuk ke rumahnya. Ibu itu pun mengizinkan Umar Bin Khattab asalnya membawa kebaikan.

Umar Bin Khattab bertanya, “Kenapa tengah malam ibu masih menyalakan api, sementara anak-anak merintih kelaparan?”.

Sang ibu menjawab,” Sesungguhnya aku sedang masak air. Demi Allah, saya akan menuntut Umar Bin Khattab yang tidak memperhatikan rakyatnya.”

Umar Bin Khattab, kata dia, kembali menjawab: “Bagaimana Anda mendoakan jika  tidak mengetahui kondisi rakyat”. Sang ibu itu pun membalas tegas: “Bagaimana mungkin dia berani jadi pemimpin kami, kalau dia melalaikan kewajiban dan melalaikan rakyat.”

Umar Bin Khattab pun pulang dan kembali ke rumah ibu itu dengan membawa sekarung gandum. Lalu, beliau memasak hingga memberi makan gandum itu kepada ibu dan anak-anaknya. “Umar Bin Khattab adalah pemimpin yang adil dan amanah yang selalu memuliakan Allah SWT,” ujar Ustad Umar.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Dekorasi dan Jasa Indonesia (Sekjen ASPEDI), Dhani Firmantara menambahkan, makna penting yang terkandung dalam drama ini adalah Islam itu pernah berjaya di masanya. Mungkin sekarang Islam banyak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Tapi itu semua menurutnya adalah suatu pandangan yang salah.

“Maka kami menampilkan drama kolosal Berkarya untuk Kejayaan Islam dan Indonesia. Indonesia dan Islam itu adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” tegas Dhani kepada Cendana News.

Menurutnya, apabila Indonesia maju, maka umat Islam dengan sendirinya akan maju. Islam maju, Indonesia akan jaya. “Kita tidak bisa memisahkan antara Islam, Indonesia dan Nusantara,” ucapnya.

Apalagi kata dia, saat ini kita tahu umat Islam banyak difitnah. Kita tidak ingin melihat seperti itu karena punya kejayaan Islam di masa lalu. Dan harapannya, di masa depan adalah Islam lebih berjaya lagi baik di Indonesia maupun dunia.

Drama kolosal ini sebut dia, adalah bentuk edukasi kepada anak-anak tentang kejayaan Islam. Mengingat selama ini kalau melihat di media, digambarkan Islam adalah berbau kekerasan dan sebagainya.

Lewat drama ini, Dhani berharap anak-anak semakin terbuka mata hatinya bahwa Islam adalah agama damai. Maka sejak dini harus ditanamkan harus bangga sebagai umat Islam.

“Harus punya kepercayaan diri karena kita adalah umat Islam masa lalu dan masa kini. Islam adalah agama rahmatan lil alamin,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...