Kemenag Minta Pembagian Zakat Secara Massal Ditinggalkan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

271

JAKARTA — Kementerian Agama meminta umat islam untuk meninggalkan metode pembagian zakat secara massal dan diubah dengan cara menyalurkan melalui organisasi resmi.

“Kebiasaan pembagian zakat yang mempertontonkan kemiskinan agar dihentikan dan diubah dengan cara menyalurkan zakat melalui Badan Amil Zakat Nasional dan Lembaga Amil Zakat,” kata Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasa melalui pesan tertulis di Jakarta Pusat, Selasa (12/6/2018).

Pembagian secara massal akan menyebabkan ribuan warga miskin harus mengantri dan berdesakan, bahkan sejumlah orang lanjut usia dan anak-anak harus siap terhimpit di tengah kerumunan.

“Kalau seorang pembayar zakat (muzaki) ingin memberikan zakat hartanya langsung kepada fakir miskin di lingkungan sekitarnya, seyogyanya diantar langsung ke tempat mereka,” ungkapnya.

Fuad mengatakan cara pembaguan zakat seperti itu menurutnya beresiko terjadinya kekisruhan. Tanpa sengaja juga telah merendahkan martabat orang miskin.

Mantan anggota dan Wakil Sekretaris Baznas ini menilai organisasi pengelola zakat telah memfasilitasi kemudahan dalam layanan pembayaran zakat, infak dan sedekah. Dimana memudahkan mekanisme pendistribusian dan pendayagunaan zakat kepada orang yang berhak menerimanya.

“Organisasi pengelola zakat telah memiliki indeks pengukur keberhasilan program pendayagunaan zakat yaitu IZN atau Indeks Zakat Nasional yang disusun oleh BAZNAS dan juga telah dirumuskan Had Kifayah sebagai dasar penentuan kriteria mustahik zakat,” jelasnya.

Lanjut Fuad, pembagian zakat secara massal dalam jumlah berapapun tidak menyelesaikan masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial. Sebaliknya, hal itu cenderung menambah orang yang merasa miskin lantaran dipancing dengan adanya pembagian zakat secara massal.

“Kita tidak seharusnya menyuburkan mental miskin dan menadahkan tangan secara terbuka di tengah masyarakat,” paparnya.

Baca Juga
Lihat juga...