Keripik Singkong dan Pisang Mulai Diminati di Sikka

Editor: Koko Triarko

260
MAUMERE – Penjualan keripik singkong dan keripik pisang di Kabupaten Sikka, mulai mengalami peningkatan. Masyarakat lokal sudah mulai banyak mengkonsumsinya, dan mulai banyak pula kelompok tani dan pribadi yang memproduksinya.
“Saat ini penjualan keripik mengalami peningkatan pesat. Dalam seminggu, saya bisa tiga-empat kali produksi. Apalagi, kemarin saat kampanye banyak sekali yang membelinya,” ungkap Margareta Setia Rahayu, Selasa (26/6/2018).
Perajin keripik ini menyebutkan, dengan membuat tiga varian rasa, yakni bawang, manis dan pedas manis, keripik buatannya semakin berkembang pesat dan banyak disukai wisatawan untuk dijadikan oleh-oleh.
Stevania Reginaldi (kiri) bendahara kelompok Tunas Harapan di Desa Egon, Kecamatan Waigete. -Foto: Ebed de Rosary
“Saat ini saja sudah banyak restoran dan mini market yang mulai memesan untuk dijual di tempat mereka. Kalau bahan baku kita tidak kesulitan, sebab pisang dan singkong mudah dibeli di pasar,” ujarnya.
Ia mengaku, memang suka memberikan pelatihan kepada kelompok-kelompok masyarakat agar bisa menekuni usaha pembuatan keripik, agar bisa mendatangkan penghasilan tambahan bagi keluarga.
Menurutnya, usaha pembuatan keripik memang menjanjikan sekali, karena mudah membuatnya dan bisa disimpan lama.
“Banyak kios di pinggir jalan juga sudah mulai menjualnya, dan banyak masyarakat yang beli juga, sebab harganya tergolong murah. Satu plastik dijual seharga seribu rupiah saja. Selain itu, masyarakat juga mulai suka bertamasya setiap hari libur,” tuturnya.
Hal senada juga disampaikan Stevania Reginaldi, bendahara kelompok Tunas Harapan di Desa Egon, Kecamatan Waigete. Kelompok yang terdiri 20 orang anak muda ini, juga  memproduksi keripik pisang untuk dijual dengan cara menitipkannya di kios-kios yang ada di desa dan di Kecamatan Waigete.
“Memang permintaannya selalu meningkat, sebab produk yang kami hasilkan juga sudah mulai disukai masyarakat. Harganya pun tergolong murah, sehingga biasanya anak-anak sekolah juga suka membelinya,” ungkapnya.
Kelompok ini, kata Neldi, sapaannya, memang belum terlalu berkembang dan rutin berproduksi. Namun, dengan adanya berbagai pameran yang diikuti, produk keripik pisang olahan mulai diminanti, tentunya anak-anak muda ini akan mulai rutin berproduksi.
“Kalau sudah mulai ramai, maka minimal dua hari sekali kami sudah mulai berkumpul untuk memproduksi keripik pisang dan aneka pangan lokal lainnya, dengan kemasan yang memang sudah lebih bagus dan memenuhi standar kesehatan,” katanya.
Menurut Neldi, bahan baku pisang kapok banyak tersedia di sekitar wilayah mereka dan dijual dengan harga yang murah. “Dari pada dibawa oleh pengusaha ke luar daerah, lebih baik diolah menjadi keripik, agar harga jualnya pun lebih mahal”, pungkasnya.
Lihat juga...