Khatib: Kejayaan Runtuh Karena Abaikan Qur’an Sunnah

286
Ilustrasi - Jamaah salat Ied. foto: ME. Bijo Dirajo

DHARMASRAYA, SUMBAR — Islam pernah berjaya selama 1300 tahun (13 abad) dan menguasai 2/3 dunia, tetapi lalu runtuh ketika umat Islam meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan hidup.

Khatib Shalat Idul Fitri 1439 H di Masjid Agung Babussalam Dharmasraya, Jumat, Bustami Nurdin, memaparkan peradaban Islam yang mempengaruhi semua bidang, agama, ilmu pengetahuan, kesusastraan gaya hidup dan akhlak manusia.

Islam yang lahir dari tanah gersang dan terpencil, di tengah bangsa jahiliah (bodoh, rusak dan amoral serta penyembah berhala) berubah total menjadi bangsa yang beradab dan penyembah Allah yang Maha Esa.

Perlahan, setelah 13 abad –terlama dalam sejarah peradaban manusia– kejayaan Islam pudar karena umatnya cinta dunia dan mengabaikan akhirat.

Ustadz Bustami juga menjelaskan strategis Masjid sebagai pusat pengajaraan dan peradaban karena semua dimulai dari rumah Allah tersebut. Dia juga mengingatkan bahwa Nabi Muhammad Salallahu Alaiwassalam membangun masjid ketika hijrah dan baru tiba Madinah.

Di mulai dari pembangunan Masjid Quba lalu Masjid Nabawi. Masjid Nabawi menjadi pusat pengajaran yang lalu memyebar ke seluruh dunia.

Karena itu, dia mengimbau umat Islam untuk kembali memakmurkan masjid. “Jadikan masjid sebagai pusat pengajaran, membina akhlakul kharimah dan mempererat ukhuwah,” ujar Bustami di shalat Ied yang dihadiri Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan di isteri.

Sebagai makhluk Allah, Bustami juga mengingatkan agar selalu menjaga hati dan fikiran kepada Allah. “Matilah sebagai muslim karena saat sakratul maut, setan berupaya sekuat tenaga agar manusia alpa pada Allah dan mati dalam kekafiran,” ucap Bustami.

Karena itu tempaan Ramadhan dalam sebulan penuh hendak dijaga dalam kehidupan setelahnya. “Karena ajal manusia milik Allah dan setiap manusia harus siap menghadapinya,” kata khatib kepada jamaah shalat Ied yang melimpah hingga ke halaman masjid.

Dia juga mengingatkan bahwa manusia gagal adalah manusia yang masuk neraka selamanya (kekal), sedangkan yang sukses adalah yang meraih surga tanpa hisab (perhitungan). “Saat itu tak ada perbaikan, insyaf atau janji tidak mengulangi kesalahan. Semua sudah final,” ucap khatib asal Jakarta itu.

Nama Dharmasraya diambil dari manuskrip yang terdapat pada prasasti Padang Roco yang menyebutkan Dharmasraya sebagai ibukota dari kerajaan Melayu. Kerajaan ini muncul setelah kejatuhan kerajaan Sriwijaya pada abad 13-14. Kabupaten ini adalah pemekaran dari Kabupaten Sitiung, Sumbar.[ant]

Baca Juga
Lihat juga...