KPK Masih Belum Bersikap Terhadap Vonis Fredrich

Editor: Mahadeva WS

428
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah saat jumpa pers di Gedung KPK Jakarta - Foto Eko Sulestyono

JAKARTA – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta telah memvonis penjara tujuh tahun kepada Fredrich Yunadi. Namun vonis kepada mantan kuasa hukum Setya Novanto tersebut lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sebelumnya, JPU KPK menuntut terdakwa penghalang-halang penyelidikan tersebut 12 tahun penjara. “Jika dibandingkan dengan tuntutan JPU sebelumnya dalam persidangan, vonis tersebut lebih rendah atau hanya 3/4 dari yang seharusnya, terkait vonis 7 tahun tersebut pihak jaksa untuk sementara mengaku masih pikir-pikir,” ungkap Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Kamis (28/6/2018).

KPK hingga saat ini disebut Febri, belum menentukan sikap atas vonis tersebut. Diprediksikannhya, minggu depan KPK baru akan mengambil sikap terhadap putusan tersebut. Walaupun masih pikir-pikir, secara umum KPK tetap menghargai dan menghormati vonis tersebut.

Hakim dalam persidangan tersebut telah membuktikan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perintangan penyidikan. Fredrich dinilai telah melanggar peraturan yang berhubungan dengan  profesinya sebagai advokat atau pengacara.

Frederick dianggap telah melakukan berbagai cara secara tidak benar hanya karena ingin melindungi kliennya Setya Novanto yang saat itu menjadi Ketua DPR RI. Fredrich sengaja menghalang-halangi penyidik KPK yang akan melakukan pemeriksaan terhadap Setnov dalam perkara dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP.

Setnov dicari-cari penyidik KPK karena mangkir dari pemeriksaan sebagai tersangka penerimaan suap atau gratifikasi terkait proyek e-KTP. Penyidik bahkan sempat mendatangi rumah kediaman pribadi Setnov yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pelarian Setnov berakhir saat mobil Toyota Fortuner warna hitam yang ditumpanginya menabrak trotoar dan tiang listrik. Akibat kecelakaan tersebut Setnov sempat mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau di Jakarta.

Fredrich diduga bekerjasama dengan Bhimanesh Soetarjo yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam untuk merekayasa penyakit dan kondisi kesehatan Setnov. Hal itu dilakukan agar penyidik KPK tidak jadi menangkap mantan Ketua Komisi II DPR RI periode 2009 hingga 2014.

Lihat juga...

Isi komentar yuk