Kue Rambut, Memikat Dijadikan Oleh-oleh

Editor: Satmoko

210

LARANTUKA – Kue rambut atau di Flores Timur dikenal dengan sebutan Bolo Kekera atau Kue Monyet sebelum tahun 1990-an sangat terkenal di Kabupaten Flores Timur, khususnya di Lembata dan Alor dan sering dijadikan oleh-oleh buat para tamu yang berkunjung ke daerah ini.

“Dulu kue ini selalu diberikan kepada para tamu yang akan pulang sebagai oleh-oleh selain ikan sembe atau ikan asin khas Larantuka. Jarang sekali orang membuat kue ini dan hanya beberapa pedagang saja yang menjualnya di pasar,” sebut Emanuel Diaz, warga Larantuka, Sabtu (9/6/2018).

Sekilas memandang, kue ini memiliki bentuk yang unik menyerupai bihun yang digoreng kering berbentuk agak bergelombang seperti rambut keriting. Harga jualnya pun, kata El sapaannya, tergolong murah. Sebuah kue rambut dijual seharga seribu rupiah.

Maria Magdalena perempuan asli Larantuka kabupaten Flores Timur yang biasa memberikan oleh-oleh kue rambut kepada tamunya. Foto : Ebed de Rosary

 

Selain di Flores Timur, terang El, khususnya di Kabupaten Lembata dan Alor yang masih termasuk etnis Lamaholot, kue ini selalu diperjualbelikan di pasar. Juga disuguhkan kepada para tamu saat minum kopi dan teh, juga dijadikan oleh-oleh kepada para tamu.

“Dulu setiap acara adat atau pesta nikah atau acara istimewa, kue ini selalu dihidangkan kepada para tamu. Kalau membeli dalam jumlah yang banyak biasanya harus dipesan terlebih dahulu,” terangnya.

Maria Magdalena, warga Larantuka lainnya yang ditanya Cendana News menjelaskan, kue ini berwarna cokelat keemasan dengan bentuk segitiga serta memiliki aroma yang khas. Campuran antara aroma tepung yang digoreng dengan wangi gula merah atau gula aren.

Untuk membuatnya, jelas Maria, tepung beras ditumbuk hingga halus di lesung lalu diayak untuk mendapatkan tepungnya. Gula aren atau gula merah disiapkan beberapa lempeng sesuai kebutuhan lalu dihaluskan terpisah.

“Masukkan tepung beras dan gula aren ke dalam wadah lalu adonan diaduk sambil masukkan juga santan kelapa, air nira, garam, minyak goreng dan air secukupnya. Aduk adonan hingga merata dan jangan terlalu kental agar mudah saat ditiriskan,” terangnya.

Minyak goreng dimasukkan ke dalam wajan dengan takaran seliter atau lebih tergantung kebutuhan dan dipanaskan. Adonan pun dimasukkan ke dalam tempurung kelapa yang sudah dibersihkan dan diberi lubang-lubang kecil atau biasa juga menggunakan kaleng bekas susu yang diberi lubang di bagian bawahnya.

“Adonan dimasukkan ke dalam kaleng atau tempurung kelapa dan ditiriskan di atas minyak panas di dalam wajan berulang-ulang lalu menggunakan sutil atau sendok goreng, adonan dilipat atau dibentuk,” ungkapnya.

Angkat kue tersebut, ucap Maria, dan tiriskan di penyaring hingga benar-benar kering. Lalu kue tersebut diletakkan di atas nampan atau nyiru yang sudah diberi alas kertas koran atau kain untuk menyerap minyak goreng yang menempel.

“Kalau dulu jarang ada yang membuat dan menjual. Hanya satu dua orang saja sehingga kalau membeli dengan jumlah banyak kami biasanya pesan terlebih dahulu. Kue rambut biasanya lebih enak dan gurih kalau menggunakan tepung beras,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.