Lahan Gembala Menyempit, Petani Mulai Kandangkan Ternak

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Peternak di Lampung Selatan merubah sistem usahanya dengan kandang. Hal itu menjadi pilihan karena semakin menyempitnya lahan penggembalaan ternak ruminansia di wilayah tersebut.

Sistem kandang dipergunakan menghindari ternak milik warga masuk ke lahan pertanian dan merusak tanaman. Salah satu peternak kambing di Desa Kelau Kecamatan Penengahan Sukirman (30) menyebut, dalam setahun peternak hanya bisa meliarkan ternak saat petani belum mengolah lahan.

Sukirman,salah satu peternak di kecamatan Penengahan mencari rumput untuk pakan ternak kambing miliknya [Foto: Henk Widi]
Penggembalaan ternak ruminansia jenis kambing, kerbau, sapi sangat bergantung pada penggunaan lahan pertanian. Pada masa tanam, proses penggembalaan bisa dilakukan selama dua bulan. Yaitu setelah padi dipanen hingga menjelang masa pengolahan lahan.

Belum lancarnya pasokan air irigasi membuat petani memilih membiarkan lahan pertaniannya ditumbuhi rumput. “Saya memiliki lahan seluas satu hektar sengaja dibiarkan ditumbuhi rumput sehingga bisa dimanfaatkan untuk menggembalakan ternak kambing, syaratnya jangan disemprot pestisida,” terang Sukirman saat ditemui Cendana News, Rabu (6/6/2018).

Sukirman menyebut, sejak 2010 sejumlah lahan sawah dan kebun jagung di daerahnya sering dijadikan sebagai lahan penggembalaan. Namun, sebagian lainnya sudah beralih fungsi menjadi perumahan. Imbasnya petani sekaligus peternak seperti dirinya terpaksa memanfaatkan lahan sawah milik sendiri untuk menggembalakan ternaknya.

Hal itu mendorong para peternak mulai berinovasi menciptakan pasokan pakan melalui cara penanaman bahan pakan jenis rumput odot dan gajahan. Lahan penggembalaan bahkan sudah dipagar oleh pemilik, sehingga pemilik ternak tidak bisa meliarkan ternak sembarangan.

Perubahan lingkungan paska panen dari lahan pertanian menjadi lahan penggembalaan juga terimbas masa pengolahan tanah, yang dipengaruhi belum adanya pasokan air memadai. Hal itu membuat sebagian petani memilih mengistirahatkan lahan setelah masa tanam pertama.

“Jerami yang tidak dibakar kami biarkan membusuk menjadi kompos ditambah kotoran ternak kambing, kerbau dan sapi yang membuang kotoran berfungsi sebagai penyubur tanah,” beber Sukirman.

Menyempitnya lahan penggembalaan disiasati dengan melakukan penanaman pakan tambahan. Pakan tambahan tersebut ditanam oleh Sukirman di lahan tegalan. Biasanya tanaman tersebut berfungsi sebagai penahan longsor. Saat dipanen tanaman jenis rumput gajah bisa dipergunakan sebagai pakan hijauan pada ternak yang dikandangkan.

Proses pengandangan ternak dilakukan saat tanaman padi, jagung mulai ditanam. Selain menghindari ternak merusak lahan pertanian, paparan pestisida pada ternak juga bisa membahayakan. Saat ternak mulai dikandangkan, Sukirman yang memiliki 15 ekor kambing dan dua ekor sapi setiap hari mencari rumput hijau hingga ke wilayah kecamatan lain. Sistem ternak dengan kandang disebutnya lebih efesien karena pengawasan ternak lebih mudah dilakukan.

Lihat juga...