Lambang Sari, Kue Tradisional Berbahan Pisang, Khas Lampung

Editor: Satmoko Budi Santoso

475

LAMPUNG – Kuliner olahan berbahan tradisional masih menjadi menu pilihan bagi generasi kekinian.

Hal tersebut diakui Aghitia Ryane (21) salah satu mahasiswi semester enam di salah satu satu universitas swasta di Bandarlampung Provinsi Lampung. Ia menyebut tren kekinian generasi muda saat ini dalam pemilihan kuliner modern yang disajikan di beberapa gerai kuliner modern tidak lantas membuatnya lupa kuliner tradisional.

Salah satu warisan kuliner tradisional yang sudah diajarkan oleh sang bunda salah satunya pembuatan kue lambang sari. Kue lambang sari disebutnya menjadi satu sajian khas dalam kegiatan pertemuan keluarga, acara adat, resepsi pernikahan hingga sejumlah acara resmi dengan kue menjadi hidangan.

Lambang sari atau naga sari, diakui Gita, sapaan akrabnya, merupakan sejenis kue terbuat dari tepung beras dengan isian irisan pisang di dalamnya.

Aghitia Ryane, mengangkat kue lambang sari yang sudah matang setelah dikukus [Foto: Henk Widi]
Proses pembuatan yang mudah, bahan baku melimpah di kebun membuat ia bisa mengolah kue bercita-rasa lembut di lidah tersebut. Sebagai kue wajib yang ada saat pertemuan keluarga serta acara santai, pembuatan lambang sari dilakukan dengan varian olahan pisang.

Selain digoreng juga direbus. Variasi rasa dan tampilan bisa menjadi daya tarik agar kue lambang sari bisa dinikmati dalam suasana santai bersama keluarga.

“Kalau sedang liburan di rumah berkumpul dengan keluarga, saya membuat bersama bunda. Sebab bahan baku pisang bisa diperoleh dari kebun atau membeli di pengepul pisang,” terang Aghitia Ryane, salah satu remaja asal Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Sabtu (30/6/2018).

Bahan baku satu sisir buah pisang jenis kepok yang sudah matang menjadi bahan utama pembuatan kue lambang sari. Selain pisang kepok, beberapa jenis pisang di antaranya janten, ambon, pisang tanduk dan pisang matang, sesuai selera bisa dibuat menjadi lambang sari.

Bahan pelengkap yang tidak lupa disiapkan di antaranya tepung beras, tepung sagu, gula pasir, garam secukupnya, daun pandan, santan kelapa. Bahan pembungkus daun pisang disiapkan terlebih dahulu dengan proses melayukan di sinar matahari setelah dibersihkan dengan kain.

Setelah semua bahan tersebut disiapkan proses pertama yang harus dilakukan dengan membuat adonan. Tepung beras yang sudah disiapkan di baskom selanjutnya dicairkan mempergunakan santan kelapa. Sebagian santan yang disisakan diberi daun pandan dan garam.

Kue lambang sari dalam kondisi hangat siap disantap bersama teh hangat sembari bersantai [Foto: Henk Widi]
Selain itu cairan tepung beras yang sudah diadoni diaduk hingga kental dan diberi tambahan tepung sagu dengan proses pengadukan agar tepung tidak terlalu matang.

Setelah adonan tercampur sempurna, irisan pisang yang sudah disiapkan di wadah khusus siap disatukan. Daun pisang yang sudah disiapkan dengan lipatan diisi adonan tepung.

Diisi sebanyak empat hingga lima iris pisang lalu dilipat segi empat. Semua bungkus daun pisang berisi adonan tepung dan pisang langsung ditata di dandang untuk proses pengukusan.

“Penataan di dandang posisinya dibalik agar lipatan daun tidak terbuka karena daun pisang tidak diikat,” beber Gita.

Setelah dikukus selama kurang lebih setengah jam dengan menggunakan api sedang kue lambang sari yang matang bisa diangkat. Kue lambang sari disebut Gita cocok disajikan dalam kondisi hangat ditemani secangkir teh.

Aroma wangi pisang ambon dipadukan harum daun pandan sebagai pewarna dan aroma alami membuat kue lambang sari nikmat disantap saat kondisi cuaca musim penghujan.

Gita yang menyukai hobi memasak tersebut mengaku saat ini berbagai kue modern berbahan pisang juga mulai marak. Kue sejenis banana roll, bolu banana, serta olahan pisang yang dijual di gerai modern tidak lantas membuatnya melupakan kue tradisional terutama lambang sari.

Meski bahan tradisional dengan tampilan hanya memakai daun pisang namun Gita menyebut warisan kue tradisional tersebut tetap bisa dibuatnya.

“Meski banyak varian kue kekinian yang banyak disukai anak muda generasi milenial, tapi saya diajarkan tetap mencintai kue tradisional,” tegas Gita.

Memasak dan mencoba berbagai resep kuliner tradisional menjadi sebuah cara untuk rekreasi. Sebab di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa farmasi tersebut memasak berbagai kuliner tradisional bisa menjadi cara menerapkan sejumlah resep baru.

Disamping itu kue tradisional jika tidak dipelajari diakuinya akan jarang dikenal terutama oleh generasi muda saat ini yang lebih mengenal kuliner modern.

Baca Juga
Lihat juga...