Lebaran, Jipang dan Jenang, Jarang Muncul

Editor: Satmoko Budi Santoso

377

LAMPUNG – Hari raya Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia kerap identik dengan kuliner ketupat dan opor ayam serta kue khas lainnya. Meski demikian sejumlah daerah juga memiliki kuliner khas khusus untuk hidangan bagi tamu yang bertandang saat hari raya.

Perkembangan zaman membuat sejumlah kue hidangan banyak dibeli dari produksi pabrikan, sisanya hasil proses membuat secara manual oleh keluarga yang merayakan Lebaran.

Jenis kue tradisional khas Lebaran dan momen khusus yang mulai jarang muncul di antaranya kue jipang dan jenang. Pada hari raya Lebaran dari sekitar ratusan rumah yang dikunjungi Cendana News di Lampung Selatan, kue jenis bolu, nastar dan kue berkonsep modern dominan dihidangkan di sejumlah rumah. Namun jenis kue jipang dan jenang hanya ditemukan di dua rumah di Desa Gandri Kecamatan Penengahan.

Kue jipang yang sudah dicetak siap disajikan dalam wadah toples tertutup [Foto: Henk Widi]
Sumardiono (70) salah satu warga asal Gunung Kidul Yogyakarta yang menetap di Lampung menyebut, jipang dan jenang mulai jarang ditemui. Kedua jenis kuliner khas tradisional warisan dari tempat asalnya tersebut merupakan kue yang selalu muncul saat hari raya Idul Fitri, setidaknya sekitar sepuluh tahun sebelumnya. Setelah itu mulai jarang warga yang membuat kue tersebut.

“Proses pembuatan yang lama, butuh keahlian khusus kemungkinan membuat warga memilih  kue jenis lain yang praktis. Tapi bagi keluarga kami, jipang dan jenang masih jadi kue wajib untuk dibuat,” terang Sumardiono, saat ditemui Cendana News pada hari kedua hari raya Idul Fitri 1439 H, Sabtu (16/6/2018).

Sumardiono juga memastikan, kue jipang dan jenang mengandung filisofi Indonesia yang sebenarnya. Warna jipang dengan dominasi warna putih dan jenang dengan warna merah menyimbolkan bendera merah putih.

Pada kue jipang warna merah putih bahkan disebutnya sudah sangat terlihat menyerupai bendera Indonesia. Jenis kue tersebut menurut Sumardiono juga muncul kala hajatan pernikahan sebagai simbol mempererat persaudaraan.

Simbol mempererat persaudaraan pada hajatan dan hari raya Idul Fitri diakui Sumardiono dari bahan pembuatnya, beras ketan. Beras ketan, yang lengket dan mudah menyatu serta dibentuk, diakui Sumardiono sekaligus menyimbolkan persaudaraan saat tradisi saling kunjung anta keluarga dan kerabat.

Proses pembuatan jipang dan jenang dilakukan minimal satu hari dengan proses persiapan bisa satu pekan sebelumnya.

“Kedua kue memiliki ciri khas, kue jipang renyah dan kue jenang lebih lembut. Meski kedua bahan terbuat dari beras ketan, soal rasa keduanya sama-sama manis,” terang Sumardiono.

Elny menyiapkan bahan-bahan pembuatan kue jipang dan jenang untuk sajian hari raya
(Foto :Henk Widi]

Sang pembuat kue jipang dan jenang, Elny (24) menyebut, dirinya sengaja membuat kue jipang dan jenang saat Lebaran. Ia beralasan jenis kue buatan pabrik sudah mendominasi pada beberapa kali Lebaran, sementara kue tradisional mulai tergeser.

Berniat melestarikan kue tersebut, ia menyediakan sebanyak dua kilogram beras ketan untuk kue jipang serta dua kilogram untuk bahan jenang.

Pembuatan kue jipang, disebut Elny, diawali dengan proses penyucian beras (pemususan), setelah dicuci beras ketan dikukus. Beras ketan yang telah dikukus dan matang selanjutnya dijemur pada para para bambu beralaskan plastik.

Sehari proses penjemuran pada sinar matahari yang terik, beras akan menjadi karak yang keras. Selanjutnya karak digoreng hingga mengembang dan dimasukkan dalam wadah plastik kedap udara.

Setelah digoreng, karak akan mengembang dan bahan perekat disiapkan dari asam jawa atau buah ciremai. Kedua buah bahan yang dicairkan tersebut dicampur dengan gula putih dan gula jawa, sementara pewarna merah bisa diambil dari pewarna merah alami daun suji.

Beras ketan yang sudah digoreng diberi tambahan kacang tanah atau kacang mede. Semua bahan yang dicampur selanjutnya dimasukkan dalam cetakan kayu khusus membuat jipang.

“Karak yang digoreng dan tercampur gula, air asam jawa serta ciremai dihamparkan di cetakan, dipres dengan plastik lalu diiris dengan pisau berbentuk persegi panjang kecil,” tutur Elny.

Suasana Lebaran di Lampung Selatan dengan tradisi kunjungan [Foto: Henk Widi]
Kue jipang yang sudah jadi selanjutnya diwadahi plastik atau toples agar awet dan terjaga rasa krispi. Kue tersebut oleh Elny dipergunakan sebagai kue hantaran bagi sang mertua dan kerabat yang tidak membuat kue berasa manis dan krispi tersebut. Sebagian dihidangkan bersama kue jenis lain saat Lebaran.

Selain jipang, jenang juga dibuat dengan beras melalui proses yang panjang. Setelah beras ketan direndam semalaman, ketan ditumbuk secara manual atau digiling menjadi tepung (glepung).

Selanjutnya tepung ketan akan diolah menjadi jenang dengan proses memasak dalam wajan khusus. Jenang yang menyerupai dodol dibuat dalam waktu sehari. Bahan pelengkap di antaranya santan kelapa dan gula merah pencipta rasa manis.

“Semua bahan dimasukkan dalam santan rebus, aduk hingga mengental dan diberi taburan wijen hingga tercampur sempurna,” beber Elny.

Jenang atau dodol khas Yogyakarta tersebut setelah matang dicetak dalam nampan dan dipotong kecil-kecil. Selain disajikan dalam bentuk utuh, kue jenang tersebut bisa dibungkus menggunakan daun jagung kering atau disebut klobot. Rasa legit dan manis menjadi ciri khas jenang untuk sajian saat hari raya Idul Fitri.

Christeva (12) mengaku, jarang menemui jipang dan jenang pada hari biasa dan hanya bisa menikmati saat hari raya. Bentuknya yang unik dengan rasa krispi seperti kue coklat bertabur kacang sehingga rasanya renyah.

Kue tersebut kini hanya bisa ditemui di beberapa rumah yang menghidangkan jipang dan jenang pada momen Lebaran ditemani sejumlah kue khas Lebaran lain.

Baca Juga
Lihat juga...