Lebaran, Mengumpulkan Saudara dan Menjaga Obor Keluarga

Editor: Satmoko Budi Santoso

344

LAMPUNG – Tradisi berkumpul bersama keluarga saat Lebaran Idul Fitri menjadi kebiasaan positif.

Lebaran menurut Sumardiono (70) warga Desa Gandri Kecamatan Penengahan sebagai momen ngumpulke balung pisah atau reuni keluarga. Istilah bahasa Jawa yang menjadi filosofi dalam kekerabatan keturunan Yogyakarta yang merantau di Lampung tersebut, bahkan masih tetap dijalankan tanpa kecuali saat hari Lebaran Idul Fitri.

Ngumpulke balung pisah menurut Sumardiono yang asli Wonosari Gunung Kidul tersebut, diakuinya bermakna mengumpulkan kerabat, saudara dalam ikatan darah. Keluarga inti yang tediri dari kakek, nenek dan anak-anak sebagian disebutnya masih tinggal dalam lingkungan yang dekat.

Namun dengan adanya pernikahan, pekerjaan membuat sebagian anggota keluarga terpisah oleh jarak dan waktu dan bisa berkumpul saat momen istimewa.

Sumardiono salah satu warga asal Yogyakarta yang menetap di Lampung mengumpulkan keluarga saat hari raya Idul Fitri [Foto: Henk Widi]
Menurut Sumardiono pula, saat Lebaran keluarga besar dengan jumlah anak 10 orang, cucu 25 orang dari keluarga ibunya yang bernama Remi (89), tidak bisa berkumpul seluruhnya. Pasalnya, ada dua anak beserta cucu yang tinggal di Papua Barat dan Kalimantan yang pada Lebaran tahun ini tidak bisa mudik.

Kedua anak yang tinggal di pulau berbeda, tidak mudik ke kampung halaman di Lampung setelah tahun sebelumnya sudah mudik saat Lebaran.

“Ongkos mahal untuk pulang kampung kami maklumi sehingga mudik kumpul keluarga bisa dua tiga tahun sekali. Namun kerabat yang tinggal dalam satu provinsi atau beda provinsi masih terjangkau bisa berkumpul pada Lebaran tahun ini,” terang Sumardiono, putra tertua dalam keluarga yang mengumpulkan anggota keluarga saat hari raya Idul Fitri 1439 H, Sabtu (16/6/2018).

Sumardiono memastikan, saat hari raya Idul Fitri kerabat tertua dalam keluarga akan menjadi tempat untuk berkumpul. Anggota keluarga lebih muda di antaranya adik-adik bersama anak-anak akan dibawa serta.

Sungkem tanda hormat kepada yang tua, memohon maaf atas khilaf dan dosa menjadi tradisi saat Lebaran agar keluarga menjadi fitri dan bersih setelah satu bulan berpuasa. Beberapa di antaranya bahkan pulang dari Jakarta setelah satu tahun bekerja untuk reuni keluarga.

Keluarga mengunjungi makam untuk nyekar dan mengetahui silsilah keluarga saat Idul Fitri [Foto: Henk Widi]
Sebelum kumpul keluarga, bentuk hormat kepada keluarga yang sudah meninggal, anggota keluarga terlebih dahulu melakukan tradisi nyekar. Sumardiono menyebut bagi keluarga yang dekat, nyekar ke makam kerabat dan leluhur yang sudah meninggal kerap dilakukan pada hari ke-25 Ramadan. Sebagian setelah salat Idul Fitri.

Bagi yang jauh nyekar bisa dilakukan pada hari kedua Lebaran dengan tujuan mendoakan kerabat yang sudah meninggal sekaligus memperkenalkan keturunan akan keluarga yang sudah meninggal.

“Pada kunjungan ke makam anak dan cucu memberikan silsilah siapa saja yang sudah meninggal dan urutan kekerabatan dalam keluarga. Ini diteruskan secara turun temurun agar generasi seterusnya bisa tahu urutan kekerabatan,” papar Sumardiono.

Selain tradisi berkumpul, ngumpulke balung pisah disebut Sumardiono sekaligus merupakan momen “nguripi obor keluarga” atau menjaga nyala obor keluarga. Kegiatan tersebut diakuinya mengantisipasi adanya kejadian “kepaten obor” atau ketidaktahuan akan silsilah keluarga termasuk hubungan dalam kekerabatan.

Sebab sebagian keluarga yang berasal dari Yogyakarta rata-rata masih satu kerabat. Melalui pertemuan keluarga saat Lebaran, anak, cucu, cicit hingga canggah bisa saling mengenal.

Kepaten obor diakui Sumardiono kerap terjadi akibat generasi muda tidak tahu silsilah keluarganya. Imbasnya beberapa orang bahkan bisa menikah meski masih satu kerabat dekat dalam hubungan darah.

Pada saat pertemuan keluarga, proses penjelasan tersebut kerap diberikan oleh generasi paling tua. Menerangkan silsilah keluarga sehingga generasi yang muda bisa mengenal kerabatnya. Bahkan yang selama ini tidak diketahui sebagai bagian dari keluarga.

“Kegiatan ngumpulke balung pisah juga kerap terjadi saat ada kerabat yang menikah. Tapi ini jarang terjadi. Sementara Idul Fitri kan momen rutin setiap tahun,” beber Sumardiono.

Kegiatan positif berkumpul bersama keluarga ngumpulke balung pisah atau berkumpulnya keluarga yang terpisah sekaligus menyalakan obor keluarga kerap dipadukan dengan arisan keluarga.

Arisan keluarga tersebut menjadi bentuk upaya membantu keluarga yang memiliki kebutuhan membangun rumah atau kebutuhan lain. Arisan keluarga dengan jumlah 20 keluarga dengan rata-rata per keluarga Rp1 juta bisa mengumpulkan uang hingga Rp20 juta.

Hasil arisan tersebut juga bisa dipergunakan sebagai dana memenuhi kebutuhan keluarga. Dukungan finansial tersebut sekaligus bentuk gotong royong membantu keluarga.

Selain itu tradisi memberikan uang baru bagi anak-anak kecil juga masih berlangsung hingga sekarang. Sebagian diberikan oleh anggota keluarga yang bekerja di luar daerah dan pulang kampung saat Lebaran sebagai bentuk THR.

Ria (kiri) salah satu anggota keluarga yang pulang kampung dari Jakarta saat hari raya Idul Fitri
[Foto: Henk Widi]
Ria (20) salah satu cucu dari keluarga besar mbah Remi menyebut, ia baru bisa mudik setahun sekali hanya saat Lebaran. Berkumpul bersama keluarga menjadi momen istimewa saat Lebaran karena ia bisa bertemu dengan misan, sepupu dan kerabat lainnya.

Pada zaman modern ini ia bahkan menyebut tanda persaudaraan sudah semakin kuat dengan adanya grup WhatsApp keluarga.

Ngumpulke balung pisah zaman sekarang dalam keluarga bisa terbantu dengan adanya grup whatsapp keluarga sehingga mudah berkomunikasi,” papar Ria.

Kegiatan kumpul keluarga memang cukup terbantu perkembangan teknologi bahkan bisa terbantu dengan adanya gawai. Saat kumpul keluarga pertemuan dengan keluarga bisa dijadikan momen foto bersama, swafoto sebagai kenangan.

Saat ada keluarga yang jauh di pulau lain bahkan sebagian kerja di Hongkong dan Taiwan, fasilitas aplikasi video WhatsApp bisa digunakan untuk berbincang secara langsung meski terpisah jarak dan waktu.

Ngumpulke balung pisah dan nguripke obor keluarga bahkan terbantu kecanggihan teknologi.

Baca Juga
Lihat juga...