Libur Lebaran, Wisatawan Padati Kawasan Mangrove Sriminosari

Editor: Satmoko Budi Santoso

309

LAMPUNG – Kunjungan wisatawan ke objek wisata mangrove Sriminosari Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur sepanjang libur Lebaran mencapai lebih dari 5000 pengunjung.

Menurut Sudarmanto, selaku Ketua Koperasi Konsumen Nelayan Rukun Sido Makmur, kunjungan tersebut terhitung sejak libur Lebaran kedua (16/6) hingga (22/6) dengan rata-rata kunjungan per hari 800 hingga 900 pengunjung.

Kawasan konservasi mangrove di pesisir pantai Timur Lampung yang mudah dicapai tersebut terlihat lebih ramai dibanding libur akhir pekan. Berjarak sekitar 2 kilometer dari akses Jalan Lintas Timur Lampung, objek wisata berkonsep alam tersebut menjadi pilihan wisata keluarga.

Jajaran pohon mangrove dengan luas ratusan hektar tersebut dikelola oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Sriminosari.

Sudarwanto, penanggungjawab objek wisata mangrove Sriminosari Lampung Timur [Foto: Henk Widi]
Pengunjung ke objek wisata tersebut dimanjakan dengan akses jalan seperti jembatan bambu sepanjang dua kilometer. Selain trek jalan kaki jembatan bambu, sejumlah spot swafoto disediakan bagi pengunjung lengkap dengan gubuk-gubuk bernuansa tradisional beratapkan daun nipah.

Jajaran pohon mangrove yang tumbuh secara alami di antaranya jenis api-api, bakau  pada bagian berlumpur dan pada bagian berpasir tumbuh jenis pohon pandan air, cemara, petai china.

“Pengunjung rata-rata berasal dari wilayah kabupaten Lampung Timur dan sebagian dari Lampung Selatan untuk melihat dari dekat suasana alami pepohonan mangrove yang sengaja ditanam oleh Pokdarwis,” terang Sudarmanto selaku penanggung jawab objek wisata mangrove Desa Sriminosari, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (24/6/2018).

Jumlah pengunjung ke objek wisata alam mangrove pernah mencapai 3000 orang pada tahun baru 2018 karena tingginya minat akan wisata alam. Sementara, saat libur Lebaran 2018 (1439 H) sejak Lebaran kedua hingga keenam bisa mencapai 5.867 pengunjung dewasa.

Sementara anak-anak tidak dihitung tiket masuk. Lokasi objek wisata Sriminosari semakin dikenal dengan adanya peran media sosial memperkenalkan objek wisata tersebut.

Tiket untuk masuk wisata mangrove sebesar Rp10.000 disebut Sudarmanto terbilang cukup ekonomis karena pengunjung sudah bisa menikmati berbagai fasilitas. Meski kendaraan roda empat tidak bisa sampai ke lokasi dilanjutkan dengan jalan kaki, namun suasana alami melewati area persawahan menjadi daya tarik pengunjung.

Sejumlah warung di rerimbunan pohon mangrove dilengkapi dengan gubuk-gubuk bahkan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Jalan setapak berupa jembatan bambu menjadi daya tarik wisatawan di antara pohon mangrove [Foto: Henk Widi]
Fasilitas bagi wisatawan untuk menikmati suasana kawasan hutan mangrove melalui alur sungai, pengelola menyediakan speed boat. Speed boat tersebut bisa menikmati suasana vegetasi hutan mangrove yang membentang hingga ke pantai pesisir timur.

Pengunjung cukup membayar Rp5000 untuk naik speed boat melihat suasana alur sungai dengan hijaunya pohon mangrove.

Selama libur Lebaran, omzet dari tiket masuk ke lokasi wisata tersebut bisa mencapai Rp58 juta dan dipergunakan untuk pengelolaan lokasi wisata. Hasil dari penjualan tiket tersebut akan dipergunakan untuk perehaban trek jembatan terbuat dari bambu yang sebagian sudah rusak karena sudah berumur sekitar satu tahun. Sejak awal tahun 2017.

Erni Saputri, salah satu pemilik usaha warung di objek wisata mangrove Sriminosari menyebut, omzet pendapatan selama hari raya Idul Fitri lebih tinggi dibanding hari biasa.

Menjual berbagai makanan dan minuman ringan, Erni menyebut, pada hari biasa dirinya bisa mendapatkan Rp500 ribu hingga Rp700 ribu pe rhari. Saat tahun baru dalam sehari dirinya bisa memperoleh omzet sekitar Rp5 juta, sebaliknya saat libur Lebaran dirinya memperoleh omzet sekitar Rp3 juta.

“Kunjungan yang meningkat ikut menambah omzet bagi pedagang yang sebagian merupakan warga sekitar kawasan wisata,” papar Erni.

Erni Saputri, salah satu pedagang di objek wisata mangrove Sriminosari [Foto: Henk Widi]
Nensi, salah satu pengunjung asal Sribawono menyebut, pertama kali ia datang ke objek wisata mangrove Sriminosari. Lokasi yang nyaman membuat penyuka fotografi tersebut menggunakan kesempatan untuk mengabadikan foto bersama kawan-kawannya. Latar belakang foto dengan suasana hutan bakau cukup menarik dengan trek jalan jembatan bambu.

Meski demikian, ia menyebut, akses jalan masih perlu diperbaiki terutama di akses jalan utama yang masih berupa jalan batu. Ia berharap akses jalan ke lokasi wisata bisa diperbaiki agar wisatawan mempergunakan kendaraan roda empat bisa sampai ke lokasi.

Meski kendaraan roda dua juga bisa masuk ke lokasi, namun saat hujan membuat akses jalan cukup becek dan menyulitkan pengendara motor.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.