Libur Panjang, Pariwisata Sumbang Peningkatan Ekonomi Daerah

Editor: Satmoko Budi Santoso

253

LAMPUNG – Libur panjang cuti bersama, Idul Fitri 2018 (1439 H) dan libur siswa sekolah memberi dampak positif pada sektor ekonomi bidang pariwisata.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Imam Bukhori, penanggungjawab Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Barokah dan pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ragom Helau Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni.

Kunjungan wisatawan dan okupansi penginapan berkonsep homestay meningkat di atas 100 persen dibandingkan hari biasa.

Imam Bukhori yang juga kepala desa Totoharjo menyebut, sektor wisata ikut mendukung perekonomian masyarakat di wilayah tersebut. Pasalnya ada sebanyak empat spot wisata bahari yang bisa dikunjungi sekaligus oleh wisatawan di antaranya pantai Karang Indah, pantai Belebug, pulau Sekepol, dan pulau Mengkudu.

Imam Bukhori, penanggungjawab Bumdes Barokah dan Pokdarwis Ragom Helau Desa Totoharjo [Foto: Henk Widi]
Partisipasi warga melalui keanggotaan Pokdarwis dan Bumdes bahkan difasilitasi melalui penyiapan lokasi berjualan suvenir, makanan bagi wisatawan. Sebagian warga menawarkan homestay atau penginapan bagi wisatawan yang menginap.

Bagi para pemuda, pengelolaan objek wisata dilakukan dengan menangani lahan parkir serta keamanan di lokasi wisata. Bagi nelayan yang sehari-hari melaut, penyewaan perahu menjadi alternatif usaha saat liburan.

Biaya masuk objek wisata Rp5.000 per orang, naik perahu keliling pulau Rp15.000 per orang dan penjualan makanan khas, oleh-oleh, meningkat drastis dibanding hari biasa.

“Sejauh ini perbandingan kunjungan wisata saat libur panjang Lebaran dengan hari biasa peningkatannya signifikan. Baik dalam jumlah wisatawan yang datang, pendapatan penjualan tiket hingga pendapatan ekonomi warga,” terang Imam Bukhori saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (24/6/2018).

Sepanjang libur Lebaran dengan rata-rata kunjungan per hari 500 orang selama hampir 10 hari, omzet kotor Bumdes bisa mencapai Rp25 juta. Hasil tersebut diakuinya menjadi modal bagi Bumdes dan Pokdarwis guna pengembangan objek wisata.

Pengunjung Menara Siger meningkat saat libur Lebaran [Foto: Henk Widi]
Termasuk penambahan fasilitas saung, alat keselamatan, kano dan sebagian untuk honor anggota Pokdarwis. Selain dari jasa wisata yang diberikan, sebagian warga yang berdagang bahkan memperoleh hasil yang lumayan rata-rata Rp300.000 hingga Rp500.000 per hari.

Imam Bukhori menyebut, pertumbuhan ekonomi dari sektor wisata di tempat tersebut ikut mendorong kreativitas warga. Pemilik lahan yang semula tidak dimanfaatkan mulai membuat homestay yang bisa dipergunakan untuk peningkatan pendapatan warga.

Sebagian pemilik kolam ikan air tawar jenis gurame dan nila bahkan bisa menjual ikan untuk digunakan sebagai sajian kuliner disamping hasil tangkapan ikan laut.

Selain bagi destinasi wisata pantai Belebug, libur panjang Lebaran hampir selama dua pekan berimbas positif bagi sejumlah penginapan. Homestay Kedas salah satunya yang juga memiliki kafe dengan menyajikan beragam kuliner khas. Ikut terimbas positif dari menggeliatnya sektor wisata pada hari libur Lebaran.

Ida Ayu sebagai kasir kafe Kedas menyebut, saat hari biasa kunjungan ke tempat tersebut hanya berkisar 50 hingga 100 orang. Namun meningkat selama libur Lebaran.

Ida Ayu Kartika,salah satu karyawan di Kafe Kedas dan homestay [Foto: Henk Widi]
Okupansi hunian homestay dengan jumlah lebih dari 10 homestay bahkan sudah dipesan 1 bulan sebelum musim libur Lebaran. Selain wisatawan, reservasi kamar homestay banyak diminta oleh sejumlah jurnalis dan aparat keamanan yang ditugaskan di Bakauheni.

Berjarak sekitar 3 kilometer dari pelabuhan Bakauheni dan dekat objek wisata Menara Siger, pantai Minangruah, pantai Belebug, pantai Batu Alif dan pintu masuk tol membuat kafe Kedas dan homestay jadi rujukan.

“Peningkatan kunjungan wisatawan berdampak hunian kamar penuh dan kunjungan ke kafe juga lebih tinggi dibanding hari biasa,” cetus Ida Ayu.

Meski tidak menyebut secara pasti nominal omzet, dari jumlah pengunjung ke Kafe Kedas sejak pagi hingga malam diakuinya cukup banyak. Pemandangan alam Gunung Rajabasa dan dekat sejumlah objek wisata di lokasi strategis, membuat Kafe Kedas dan homestay menjadi pilihan.

Belum banyaknya penyedia homestay sejenis membuat reservasi dilakukan jauh hari agar bisa mendapatkan kamar.

Pemilik homestay lain bernama Rian Haikal, di objek wisata pantai Minang Rua juga menyebut libur Lebaran bisa meningkatkan ekonomi warga. Pemilik homestay berkonsep tradisional tersebut menyebut harga berkisar Rp350.000 untuk ukuran medium dan Rp750.000 untuk ukuran large. Keduanya ikut menyumbang pendapatan pemilik homestay.

“Hasil perolehan dipotong bagi uang kas Pokdarwis Minangruah dan sebagian untuk biaya perawatan serta operasional,” terang Rian Haikal.

Sektor ekonomi yang terbantu dengan peningkatan kunjungan wisata juga dialami oleh Menara Siger. Sigit selaku penjaga Menara Siger dan Satpol PP Provinsi Lampung menyebut, pada hari biasa kunjungan ke Menara Siger bisa mencapai 300 orang namun saat libur Lebaran mencapai 1000 orang per hari.

Selain memberi dampak positif bagi pengelola, sejumlah pedagang di sekitar objek wisata Menara Siger juga mendapatkan omzet lebih tinggi dari biasanya. Jumlah kunjungan tersebut diakui Sigit akan berangsur menurun seiring berakhirnya libur Lebaran.

Lihat juga...

Isi komentar yuk