Mahasiswa Gagas Modul Deradikalisasi

267
Ilustrasi -Dok: CDN
SURABAYA – lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, menggagas modul deradikalisasi yang diterapkan untuk anak SMP dengan pendekatan yang humanis dan persuasif.
Salah satu mahasiswa, Diaz Syafrie, mengatakan bersama Akbar Reza, Hafizh A. Sodali, Dian Dakwatul, dan Athya Ulya, menyusun modul sebagai bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM).
“Mengapa dipilih anak SMP? Setidaknya ada dua alasan. SMP itu usia tanggung, dikatakan anak, ya sudah remaja. Dikatakan remaja, ya masih anak-anak,” kata Diaz yang bertindak sebagai ketua PKMM itu, Rabu (20/6/2018).
Menurut dia, anak jenjang SMP sebagai usia kritis. Mereka lebih menurut kepada orang lain ketimbang orang tuanya sendiri.
“Ya, kalau yang di dekatnya itu orang baik, kalau tidak? Bisa-bisa mereka ketularan radikal,” kata mahasiswa asal Lamongan itu.
Yang kedua, katanya, alasan hormonal. Pada usia tersebut, hormon remaja mulai meningkat, sehingga mereka mempunyai kelebihan energi.
Jika kelebihan energi tidak disalurkan kepada hal-hal yang positif, lanjut dia, berpotensi menjadi negatif, termasuk radikalisme, bahkan aksi teror.
Koordinator lapangan PKMM, Hafizh A. Sodali, menambahkan, modul deradikalisasi memiliki tiga aspek, yakni kreativitas, nasionalisme, dan spiritualisme, sedangkan yang terpenting, yakni mengasah empati anak-anak.
“Empati semacam perekat untuk tiga aspek tadi. Deradikalisasi hanya bisa ditangkal jika empati seseorang sudah terasah sejak muda, sedangkan tiga aspek itu adalah sarana menyalurkan kelebihan energi anak-anak,” tuturnya.
Dosen pembimbing PKMM, Dr. Handayani, menyebut modul deradikalisasi itu merupakan jawaban dari kegelisahan bangsa selama ini.
Dia menilai, pola pikir utama warga Nahdliyin adalah rahmatan lil alamiin, sehingga berlarut-larut mencari siapa yang salah justru membuat situasi makin rumit.
“Dengan semangat itu pula, kami tidak ingin melawan kekerasan dengan kekerasan. Maka, modul ini harus sepersuasif dan sehumanis mungkin,” ujar Dekan FK Unusa itu. (Ant)
Baca Juga
Batik Ciprat, Sarana Pembelajaran Wirausaha Bagi S... JEMBER – Batik menjadi pilihan sebagian masyarakat Indonesia, dalam pengembangan ekonomi kreatif. Tidak terkecuali oleh para penyandang disabilitas, s...
Jember Tempatkan CPNS Disabilitas di Daerah Terpen... JEMBER - Hanya tujuh slot atau formasi yang disediakan untuk penyandang disabilitas dari 795 formasi kuota dalam penerimaan CPNS Jember tahun 2018. Fo...
UMM-Singapore Polytechnic Bantu UMKM Peralatan Dap... MALANG - Program rutin Learning Express International Relation Office Universitas Muhammadiyah Malang, menggandeng mahasiswa Singapore Polytechnic, me...
46 SD Negeri di Pamekasan Disegel Pemilik Lahan PAMEKASAN - Kegiatan belajar mengajar di 46 Sekolah Dasar Negeri di Pamekasan, Jawa Timur, terganggu akibat aksi penyegelan yang dilakukan oleh pemili...
UB Dukung Penguatan Pembangunan Berkelanjutan MALANG – Pembangunan berkelanjutan, sangat penting untuk mengatasi masalah kemiskinan, perubahan iklim dan degenerasi lingkungan. Oleh karenanya, seba...
Siswa SMK NU Tenggarang Dilatih Wirausaha Sejak Di... BONDOWOSO – Komitmen SMK NU Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, untuk melahirkan entrepreneur muda patut diapresiasi. Meskipun sekolah digrat...
Paradigma Pendidikan di Indonesia Alami Perubahan MALANG – Paradigma pendidikan pembangunan di Indonesia mengalami perubahan yang sangat mendasar. Revolusi industri 4.0, mendorong terjadinya banyak pe...