Majma Fiqh Irak Shaikh Puji Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Editor: Koko Triarko

288
JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Muhyiddin Junaidi, mengatakan, bahwa kehidupan umat beragama di Indonesia ini terdiri dari ragam agama. Selain itu, umat Islam di Indonesia dikenal sangat toleran terhadap penganut agama lain. Indonesia ini mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia, lebih dari 215 juta.
“Kami di Indonesia terdiri dari ragam agama. Agama resmi ada enam, berbagai paham dan aliran, serta 79 Ormas Keagamaan. Kami yang mayoritas muslim bisa hidup berdampingan, bertoleransi terhadap beragam perbedaan, seperti minoritas Hindu di Bali yang menutup Bandara dan mematikan listrik sehari saat Nyepi,” kata Muhyiddin, melalui pesan singkatnya dari Konferensi Islam Wasathiyah, di Baghdad, Irak, yang diterima di Jakarta Pusat, Selasa (26/6/2018).
Ia mengatakan, lagi jika pihaknya tetap ada perbedaan seperti aliran pemikiran keagamaan, mazhab fikih, maupun cara berdakwah. “Namun, mayoritas mengikuti mazhab Syafii,” katanya.
Sementara itu, Mukhlis Hanafi, menambahkan, bahwa banyak madrasah, pesantren dan sekolah agama di Indonesia. Menurutnya jumlahnya tersebut mencapai puluhan ribu, baik negeri maupun swasta. Selain itu, keberadaan lembaga pendidikan agama dan keagamaan ini sangat membantu dalam penerapan moderasi Islam.
Pasalnya, Anggota Dewan Tertinggi Majma Fiqh Irak Shaikh, Abdul Sattar Abdul Jabbar, mengapresiasi keberhasilan Indonesia dalam mengelola kerukunan dan kehidupan umat beragama.
“Kami mengakui, bahwa Indonesia lebih maju dari kami dalam mengelola kehidupan umat beragama. Indonesia mampu menyatukan berbagai perbedaan agama, baik Islam, Hindhu, Buddha, Kristen dan lainnya. Kami sangat senang Indonesia bisa hadir dalam Konferensi Internasional tentang Islam Wasathiyah ini,” kata Abdul Sattar.
Menurut Abdul Sattar, seharusnya Islam bisa bersatu, khususnya menghadapi berbagai perbedaan internal. Perbedaan itu baik yang terkait Sunni dan Syiah, maupun perbedaan lainnya.
“Islam seharusnya bisa mengelola segala perbedaan, menyatukan berbagai mazhab, aliran, seperti Sunni, Syiah dan lainnya di seluruh dunia. Tentu, semua itu bisa dilakukan dengan penerapan Islam wasathiyah yang mengedepankan al-i’tidal (keseimbangan) dan tasamuh (toleransi),” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran Indonesia sangat penting karena dapat menyampaikan pengalamannya dalam penerapan moderasi Islam. Pihaknya siap melakukan kerja sama dengan pemerintah Indonesia dengan memberikan beasiswa S1 maupun S2 bagi para mahasiswa, melakukan pertukaran ulama kedua negara, dan pengembangan wisata religi.
Delegasi Indonesia juga bertemu dengan Ketua Dewan Sunni Irak, Abdul Latief Al-Hamiem. Kepada Mukhlis Hanafi dan KH Muhyiddin Junaidi, Abdul Latief menyampaikan terima kasih atas kehadiran delegasi Indonesia pada konferensi ini.
Konferensi Islam Wasathiyah akan berlangsung dua hari,  26 – 27 Juni 2018. Konferensi ini akan diikuti oleh para delegasi dari 20 negara.
Pada hari pertama tiba di Irak, delegasi Indonesia difasilitasi wisata religi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Irak. Agenda ini sengaja diagendakan pada hari pertama, mengingat padatnya jadwal konferensi pada dua hari ke depan.
Dalam kesempatan itu, delegasi berziarah ke makam Shaikh Abdul Qadir Al-Jailani atau Al-Kailani, Imam Abu Hanifah, Shaikh Junaid Al-Baghdadi, Nabi Yusya’, serta Shaikh Bahlul Ibnu Amir Al-Tashrify.
Delegasi Indonesia terdiri dari tujuh orang, yakni Ketua Delegasi Mukhlis M Hanafi sekaligus mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, MUI Muhyiddin Junaidi, Alumni Al Azhar Ikhwanul Kiram Masyhuri, UIN Malang dari NU Saiful Mustafa, Alumni Syam Fathir H Hambali, Muhammadiyah atau UMT Auliya Khasanofa dan Kementerian Agama Thobib Al Asyar.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.