Malamang, Tradisi Warga Pesisir Selatan Sambut Lebaran

Editor: Koko Triarko

187
PESISIR SELATAN — Ramadan telah sampai di penghujung bulan. Saatnya menyambut hari kemenangan bagi orang yang beriman dan berhasil melalui sebulan penuh ibadah puasa. 
Berbagai hal dilakukan umat muslim untuk menyambut datangnya Idul Fitri. Seperti halnya di daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.  Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Sutera, melakukan tradisi memasak lemang atau yang di Minangkabau disebut malamang.
Bakaruddin, warga Kenagarian Aur Duri Surantih, mengatakan, malamang adalah bentuk tradisi yang sudah lama dijalani sebelum memasuki Idul Fitri. Malamang adalah menghidangkan sajian makanan untuk tamu yang datang ke rumah. 
Lemang yang tengah dipanggang di atas suhu api yang panas. Proses memasak ini diperkirakan akan menghabiskan waktu selama dua jam/Foto: M. Noli Hendra
“Lemang adalah sajian makanan yang sudah terkenal di Sumatera Barat, begitu juga di Pesisir Selatan. Dikarenakan banyak keluarga yang merantau pulang ke kampung halaman pada lebaran, jadi sangat disayangkan jika tidak dihidangkan di meja tamu,” katanya, Kamis (14/6/2018). 
Ia menyebutkan, ada dua jenis lemang yang dimasak, pertama lemang basolow, kedua lemang pisang, yakni lemang yang dibaluti daun pisang saat dimasukkan ke dalam bambu.
Menurutnya, kedua jenis lemang itu memiliki rasa yang berbeda. Hal ini disebabkan ada aroma harum lemang untuk lemang yang memiliki daun pisang. Lalu, untuk lemang basolow lebih khas daerah aroma beras ketannya, serta memiliki kerak yang enak dimakan.
Dua jenis lemang ini, proses membuat dan memasaknya hampir sama. Untuk lemang basolow kulit bambu dibuang dan dibuat hingga tipis, supaya beras ketan cepat matang. 
Sedangkan untuk lemang yang dibalut daun pisang, akan dipilih bagian bambu yang lebih tipis atau di bagian tengah hingga bagian ujung bambu. Selebihnya untuk proses memasak memakan waktu yang sama. 
“Kedua jenis lemang ini dimasak secara bersamaan. Kalau kondisi api dalam keadaan bagus, diperkirakan lemang akan masak dalam waktu dua jam,” jelasnya. 
Bakar menyebutkan, malamang dilakukan pada pagi hari, karena pagi adalah saat ketika alam masih segar dan tidak mudah membuat lelah. Hal ini mengingat, saat memasak lemang masih dalam keadaan berpuasa.
Dalam memasak lemang itu, harus berhadapan dengan kobaran api yang begitu besar. Hal inilah yang membuat, butuh tenaga yang ekstra memasak lemang. 
Bakar juga menyatakan, lemang yang baru masak paling enak dimakan menggunakan tapai beras ketan hitam. Rasa asam tapai beras ketan hitam, akan membuat rasa lemang lebih lezat. 
“Setiap orang memiliki pilihan tersendiri, berapa banyak lemang yang hendak dimasak, dan lemang yang dimasaknya menggunakan beras ketan putih atau beras ketan hitam,” ujarnya. 
Baginya, lemang yang lebih enak itu ialah lemang beras ketan putih. Karena rasa lemang beras ketan putih tetap enak dimakan, meski tidak dicampur apa pun. Kalau lemang beras ketan hitam, akan lebih lezat jika dicampur dengan tapai atau durian. 
“Jadi, begitulah cara kami menyambut perantau pulang dalam momentum datangnya Idul Fitri,” katanya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.