MEMERANGI LEPROPHOBYA (1): MENEPIS KERAGUAN

(Oleh: Siti Hardijanti Rukmana)

886

Suatu hari di pertengahan tahun 1987, saya mendapat surat dari RS Sitanala yang menyatakan bahwa mereka menginginkan saya ikut menangani bekas penyandang kusta, dengan memerangi LEPROPHOBYA (takut terhadap Kusta). Pada saat itu kusta sangat menjadi momok dalam mitos masyarakat.

Terus terang pada saat itu yang pertama terfikir dari benak saya, adalah ‘kalau aku menangani apa tidak tertular kusta?’.

Lalu anak-anakku masih kecil, bagaimana kalau mereka tertular?. Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang menakutkan.

Namun di sisi lain hati saya, mengatakan ingin sekali membantu mereka. Apalagi dikatakan mereka tersisih dan terbuang dari masyarakat. Akibat ketidaktahuan masyarakat tentang kusta.

Di antara kebimbangan yang berkecamuk di hati, akhirnya saya putuskan untuk bertanya pada bapak, sebelum saya menolak ataupun menerima tawaran tadi.

“Bapak, saya mendapat tawaran dari Rumah Sakit Kusta Sitanala, untuk membantu menangani bekas penyandang kusta, dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat.” Saya mulai menyampaikan masalah saya, bapak terlihat mendengarkan dengan seksama.

Saya lanjutkan melapor : “Sejujurnya bapak, ada keinginan di hati membantu mereka, tapi di lain pihak ada rasa takut kalau saya tertular nanti bagaimana. Ada yang mengatakan pula kalau sudah dinyatakan sembuh tidak akan menular lagi pak. Kata mereka yang lebih kasian anak-anak mereka yang terlahir sehat walafiat, tidak diterima di sekolah umum karena murid-murid dan orang tuanya serta para guru takut tertular. Jadi sebaiknya bagaimana pak, saya terima atau saya tolak saja.”

Bapak sambil memandang saya menjawab : “ini Rumah Sakit yang di Tangerang tho”

“Inggih pak (iya pak)”, saya mengiyakan.

Ngene wuk (begini nak), memang kusta penyakit yang sangat menakutkan, karena ketidaktahuan masyarakat tentang hal ini. Bapak memaklumi kekhawatiranmu. Tapi mereka juga perlu bantuan dari masyarakat lain yang sehat. Coba kamu bayangkan, mereka sudah sakit jasmaninya, juga harus tertekan perasaannya, karena dikucilkan masyarakat lain. Tidak ada dari mereka yang mau terkena penyakit kusta,” Bapak berhenti sebentar sambil menghela nafas.

“Jadi kalau kamu mau membantu mereka,” lanjut bapak, “Itu akan sangat baik sekali. Tapi bapak sarankan kamu cari tahu dahulu mengenai penyakit kusta itu bagaimana cara penularannya, kenapa bisa terkena kusta, apakah sudah ada obatnya, apakah akan kambuh lagi, dan yang lain-lain yang berkaitan dengan penyakit kusta ini. Kamu sebaiknya menghadap Menteri Kesehatan Prof. Adiyatma, beliau ahli penanganan penyakit kusta. Kamu belajar dari beliau seluk beluk penyakit kusta ini.”

Masya Allah. Kalau begini ucapan bapak, berarti ini bukan satu pilihan, melainkan sudah menjadi perintah.

Singkat cerita, saya menghadap bapak Adiyatma dan menyampaikan niat saya untuk membantu penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit kusta, sehingga akan hilang leprophobia (rasa takut pada lepra atau kusta). Beliau menyambut gembira sekali dan akan mentutor saya bahkan akan mendampingi saya untuk memperkenalkan langsung dengan penyakit kusta itu sendiri di Sitanala.

“Mbak Tutut, sebenarnya kusta ini tidak seseram yang orang bayangkan selama ini. Yang kita lihat seram bentuknya itu, seperti lepas jari-jari tangan ataupun kaki kulit hancur, itu karena penderita tidak menyadari dia terkena kusta, sehingga telat penanganannya, sebenarnya kalau ditangani secara cepat, sedini mungkin, tidak akan menimbulkan cacat bahkan bisa sembuh. Jadi penyuluhan kepada masyarakat sangatlah penting. Kalau mbak Tutut mau melakukan penyuluhan, ini akan sangat membantu.”

Siti Hardijanti Rukmana
RS Kusta Sitanala

“Maaf bapak Menteri, izin akan banyak tanya ini. Apakah kalau kita bersalaman dan duduk bersebelahan di meja makan misalnya, akan tertular pak?” saya tanya penasaran.

“Tidak mbak. Sedangkan anak-anak mereka saja tidak akan ketularan, asal tidak bersinggungan langsung dengan kulit tiap hari. Biasanya bayi yang disusui ibunya tiap hari, pipi mereka akan terkena, karena pipinya nempel ke kulit susu ibunya dan timbul bercak putih seperti panu. Namun apabila diobati secara cepat, akan sembuh 100 persen dan tidak menimbukan kecacatan.”

“Sebenarnya apa penyebab utama terkena kusta ini pak?”

“Kusta disebakan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Biasanya tumbuh pesat di bagian tangan, wajah, kaki, dan lutut karena daerah itu bersuhu lebih dingin. Kusta ini penyakit menahun mbak, dan yang diserang kulit, syaraf tepi, dan organ tubuh manusia, yang lama kelamaan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, juga bisa menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa. Selain itu, tempat tinggal yang tidak memadai, air yang tidak bersih, bahkan sangat kurang air, dan juga gizi yang rendah merupakan faktor utama munculnya kusta.”

“Berarti pak, kalau taraf hidup dan perbaikan imunitas masyarakat meningkat, akan kecil kemungkinan terjangkiti kusta?”

“Betul sekali mbak”

“Lalu mengapa kok kaki sampai luka tidak bisa sembuh, jari-jari kaki lepas?” penasaran saya bertanya.

“Begini mbak, orang yang terkena kusta itu akan mati rasa. Jadi bila dia misal jalan, kemudian terinjak paku atau paku payung atau beling, ataupun barang tajam lainnya, mereka tidak merasa sakit sama sekali, dan tidak tahu kalau ada luka di kakinya yang akhirnya menyebabkan infeksi dan lama-lama membusuk. Sehingga bakteri yang di dalam tubuh tersebut akan cepat menyerang pasien, dan terjadilah cacat seperti yang kita lihat.”

“Bagaimana mengetahui orang terkena kusta pak?” masih penasaran saya bertanya.

“Biasanya akan timbul bercak-bercak putih mbak, seperti panu atau bercak merah. Di daerah itu akan mati rasa. Untuk mengetahui apakah itu kusta atau panu, ambil selembar tissue, lalu pelintir ujungnya, usap-usap di bercak putih tersebut, bila tidak merasa apa apa, sudah pasti itu kusta, segera ke puskesmas dan akan diberi segera obat supaya segera sembuh. Dijamin tidak akan cacat.”

“Mbak Tutut tidak usah takut tertular, karena masa inkubasi penularannya antara empat hingga tujuh tahun. Dan itupun kalau tiap hari bertemu. Saran saya mbak, sehabis bertemu mereka, kita bersih diri, cuci tangan, sampai rumah mandi. Insya Allah tidak akan tertular. Nanti di Rumah Sakit Sitanala saya akan jelaskan secara langsung. Mbak Tutut sudah siap sekarang.”

“Insya Allah siap pak. Kapan pak ke Sitanala, sekarang juga saya siap pak.” He he mentang mentang sudah tau sedikit nantangin deh.

(Bersambung…)

Pagi hari, Jakarta 20 Juni 2018

———————–
Catatan: Pada saat mendampingi penderita kusta, saya menulis sajak “MEROBEK SILAM YANG KELAM

Baca Juga
Lihat juga...