Mengenal Budaya Lampung di TMII

Editor: Koko Triarko

309
JAKARTA – Anjungan Lampung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan dua rumah adat sebagai bangunan induknya. Yaitu, rumah adat Nuwou Balak dan Nuwou Sesat. 
“Kedua rumah adat tersebut biasanya digunakan untuk pertemuaan para tokoh adat dan masyarakat Lampung, untuk memperkenalkan berbagai aspek budaya tradisional,” kata Staf Tata Usaha Anjungan Lampung TMII, Suparwoto, kepada Cendana News, Jumat  (8/6/2018).
Dia menjelaskan, Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal bagi kepala adaT, yang dalam bahasa Lampung disebut Balai Keratun.
Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu lawang kuri atau gapura, pusiban atau tempat tamu melapor,  ijan geladak, yakni tangga naik ke rumah, dan anjung-anjung, yaitu serambi depan tempat menerima tamu, serta serambi tengah atau tempat duduk anggota kerabat pria. Lapang agung atau tempat kerabat wanita berkumpul,  dan kebik temen atau kebik perumpu atau kamar tidur anak penyimbang batin atau anak ketiga.
Tapi, sebut dia, di anjungan Lampung ini ruangan tersebut digunakan untuk tempat peragaan berbagai aspek budaya daerah. Di ruangan ini dapat pengunjung saksikan perpaduan atau tempat duduk sang penyimbang adat bila sedang memimpin sebuah upacara adat.
Terdapat pula kutamara, yakni pelaminan bagi anak gadis penyimbang yang akan menari, dan bermacam siger atau mahkota yang diletakan dalam vitrin kaca dengan benda seni yang lain.
Ditampilkan  pula pakaian adat pengantin Lampung, tempat tidur pengantin, dan tempat tidur orang tua.
Nuwou Balak, rumah adat provinsi Lampung di Anjungan Lampung TMII, Jakarta. -Foto: Sri Sugiarti.
Sedangkan rumah adat Nuwou Sesat, jelas Suparwoto, adalah  bangunan di atas tiang yang megah itu merupakan balai pertemuan adat, tempat para purwatin atau penyimbang mengadakan musyawarah.
“Rumah adat ini disebut Sesat, karena itu balai agung,” ujarnya.
Bagian-bagian dari bangunan ini adalah Ijan Geladak, tangga masuk yang dilengkapi dengan atap yang disebut Rurung Agung. Anjungan, serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, Pusiban yakni  ruang tempat musyawarah resmi.
Ada ruang Tetabuhan tempat menyimpan alat musik tradisional. Alat musik Lampung dinamakan Talo Balak (Kulinttang). Ruang Gajah Merem, yaitu tempat beristirahat bagi penyimbang.
Menurutnya, kekhasan rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya atau rurung agung berwarna putih, kuning dan merah. Ini melambangkan tingkat kepenyeimbangan bagi masyarakat Lampung Pepaduan.
Mengingat Lampung adalah daerah yang luas, kaya dan subur, kata Suparwoto, masyarakat tradisonalnya terdiri dari dua golongan, yaitu Lampung Pepaduan yang tinggal di pedalaman dan memegang teguh ajaran adat.
Sedangkan golongan lain adalah Lampung Peminggir, yakni masyarakatnya tinggal di pesisir.
Namun demikian, kata dia,  masyarakat Lampung sudah tidak demikian lagi. Provinsi ini merupakan daerah transmigrasi pertama di Indonesia, yang terjadi di awal abad 20.
Kini, penduduk Lampung terdiri dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Maka, masyarakatnya digolongkan menjadi dua golongan, yaitu Lampung asli dan Lampung pendatang. Ini sesuai dengan slogan dari lambang pemerintah daerahnya “Sang Bumi Ruwa Jurai”.
Staf Tata Usaha Anjungan Lampung TMII, Suparwoto. -Foto: Sri Sugiarti.
Kembali ke anjungan. Suparwanto menambahkan, anjungan Lampung mempromosikan seni budaya tradisional dalam pagelaran. Seperti tarian Cangget, Melinting, Nyambai dan upacara adat. Bahkan, juga produk-produk Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) unggulan Lampung.
Namun, kata dia, karena terkendala anggaran menjadikan pentas seni budaya Lampung di anjungan ini tersendat. “Lampung dan daerah Sumatera lainnya itu terkendala anggaran. Kita surati pemerintah daerah, anjungan mau gelar pentas. Jawabannya nggak ada anggaran,” ujarnya.
Memang, menurutnya, tidak seperti anjungan Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur yang setiap pekan ada pagelaran seni budaya daerah secara bergiliran dari kabupaten atau kota.
Rutinnya gelaran itu karena  jarak wilayah tersebut menuju TMII, dekat dan biaya transportasi dan akomodasi lainnya juga ringan. “Kalau Lampung, tiga bulan sekali pentas juga belum tentu,” ujarnya.
Namun demikian, pihaknya bersyukur karena pelestarian seni budaya Lampung bisa dipromosikan lewat diklat seni anjungan, yang diadakan setiap Sabtu-Minggu pukul 14.00-17.00 WIB.
Kini, pesertanya tercatat 100 orang, mayoritas anak-anak yang tidak hanya asli Lampung, tapi dari berbagai daerah di Indonesia. “Alhamdulillah, peserta diklat seni anjungan Lampung, banyaknya 100 orang dari berbagai daerah. Tapi khusus Ramadan ini, mereka libur berlatih. Nanti setelah lebaran aktif lagi,” ujarnya.
Suparwoto juga bersyukur, karena anjungan Lampung selalu ramai pengunjung. Tak hanya masyarakat, tapi juga siswa sekolah hingga mahasiswa dan turis mancanegara.
Dalam sebulan, tercatat sekitar 500 orang lebih yang singgah ke anjungan Lampung untuk mengenal seni budaya tradisional daerah ini. Salah satu pengunjungnya adalah Arinka dan Dinta. Keduanya adalah siswi SMA yang sedang ngabuburit di TMII, dengan melihat-lihat anjungan Lampung.
“Sekolah lagi libur, ya jalan-jalan saja ke TMII sambil ngabuburit dapat ilmu. Jadi tahu budaya daerah Lampung dan provinsi lainnya,” kata Arinka.
Baca Juga
TMII Terus Lestarikan Keindahan Budaya Gorontalo JAKARTA - Anjungan Gorontalo, salah satu provinsi termuda di Indonesia yang hadir di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), diresmikan oleh Gubernur Goron...
Festival Dalang, Ciptakan Regenerasi Dalang Masa D... JAKARTA - Guna melestarikan budaya Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menggelar Festival Dalang Bocah dan Dalang Muda 2018. Festival ini ber...
Rumah Betang, Kebersamaan Suku Dayak Kalimantan Te... JAKARTA - Anjungan Kalimantan Tengah di kawasan wisata budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan adat betang dengan dua rumah adat, yaitu R...
Ragam Jenis Reptil Ada di Museum Komodo TMII JAKARTA --- Museum Komodo dan Taman Reptilia Taman Mini Indonesia Indah (TMII), menjadi pilihan wisata untuk mengenal ragam jenis fauna dari seluruh p...
Harmoni Nusantara Menggema di TMII JAKARTA --- Gerak gemulai penari dengan tampilan busana daerah nan gemerlap terbalut ragam tarian tradisi dalam rangkaian 'Harmoni Nusantara' yang dis...
TMII Beri Penghargaan Atlet Pencak Silat Peraih Me... JAKARTA - Taman Mini Indonesia Indah (TMII), memberikan penghargaan kepada Puspa Arumsari atau Dara, atlet pencak silat peraih medali emas Asian Games...
Belajar dan Mengenal Jenis Burung di Taman Burung ... JAKARTA --- Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menampilkan keragamaan budaya dan juga flora fauna. Salah satunya Taman Burung yang terletak di bagian t...