Mudik dan Susutnya Bahasa Daerah

OLEH JOKO SANTOSO

478
Joko Santoso. Foto: Istimewa

MUDIK secara sosial adalah aktivitas “pulang”. Secara kuantitas, seharusnya ada penambahan jumlah penduduk di daerah (desa). Namun, ironisnya, seiring bertambahnya penduduk secara endemik, dalam waktu yang bersamaan sangat mungkin terjadi pula penyusutan bahasa (language loss) daerah.

Apa pasal? Pemudik adalah sebagian besar kaum urban yang membawa paradigma global tentang “semesta” ekonomi. Mereka menjadi bagian penting dalam sirkulasi pasar. Apa “sumbangan” pasar global terhadap bahasa? Tentu saja, bahasa pasar (entah, sebenarnya bisa dikatakan “sumbangan” atau bukan).

Bahasa pasar tidak bisa dipastikan sebagai Bahasa Indonesia seutuhnya sebab sangat mungkin dibentuk atau terbentuk secara kreol (campur aduk).

Bahasa pasar ini (yang oleh karena bahasa global juga) termasuk pula dalam fenomena global language scape. Dalam terminologi pascakolonial, dunia mengakui bahasa Inggris sebagai bahasa global, tetapi imbasnya bahasa-bahasa daerah menjadi tidak populer, menyusut, dan hilang.

Fakta yang ditemukan Marry Louise Pratt (pakar pascakolonial) yaitu hanya 22 persen negara di dunia yang tahu bahasa yang digunakan di Papua Nugini (New Guinea) dan Indonesia, dan 13 persen lainnya digunakan di wilayah Amazon.

Dalam konteks Indonesia, Bahasa Inggris barangkali tidak dominan. Namun, bahasa pasar yang dimaksud adalah Bahasa Indonesia yang sifatnya transaksional, berkaitan dengan sirkulasi uang-barang-jasa, mungkin juga politis (berdiri atas kepentingan-kepentingan). Kita bisa menyaksikan gejala-gejala itu di desa tempat para urban kembali ke kampung halamannya. Bahasa pasar bisa terlihat melalui tuturan sehari-hari.

Ada pun sebenarnya, kita bisa berdebat soal bentuk bahasanya, seperti apa. Sebut saja, misalnya, bahasa populer-industrial yang digunakan artis dalam acara talk show, iklan, atau sinetron. Sekiranya banyaklah pemudik yang mewakili kaum urban kota menggunakan macam bahasa tersebut ketika berada di kampung halaman. Yang lebih penting dibicarakan sebenarnya adalah esensi dari bahasa pasar itu sendiri.

Sudah disebutkan sebelumnya, salah satu hal paling esensial dari bahasa tersebut adalah sifatnya yang transaksional. Bahasa pasar menjadi representasi dari status sosial “terkini” oleh penuturnya.

Apalagi, penutur bahasa pasar didukung kondisi material yang cukup representatif untuk mengatakan bahwa kesuksesan didapat dari kota, kesuksesan didapat dari kapitalisme uang, kesuksesan juga melimpah dalam konteks global. Dalam pandangan orang desa, hal demikian amatlah menarik dan mendorong hasrat tinggi.

Bahasa Pasar dan Hiperealitas
Tidak berlebihan kalau bahasa pasar dekat dengan hiperealitas. Atau, istilahnya perlu dipersempit dengan: menjauh dari realitas? Pada dasarnya tetap sama saja. Apabila realitas adalah desa atau kampung, maka sangat mungkin bahasa pasar mendorong menjauh dari desa dan kampung. Realitas kampung didorong masuk dalam realitas urban kota yang hiper. Oleh karenanya, aktivitas mudik tidak lain adalah aktivitas nostalgik atas masa lalu.

Bahasa pasar bisa jadi pengantar awal bahwa “tujuan hidup” ekonomis adalah ciri urban kota. Bahasa pasar memediasi angan-angan orang desa untuk memenangkan hasrat hidup berkecukupan bahkan mewah. Gaung bahasa pasar yang endemik dalam kesempatan yang tidak lama itu cukup jitu melambungkan kekurangan (lackness).

Sebelumnya, kebutuhan primer dan sekunder masih cukup jelas bagi orang kampung. Jika memakai terminologi Jawa, ada konsep nrima yang dalam sekian periode sejarah budaya Jawa cukup ampuh menekan hasrat yang melampaui batas realitas (sebut: hiperealitas).

Namun, bahasa pasar dengan manuver yang lihai menggempur nrima ini berkeping-keping. Stabilitas desa yang sebenarnya sudah mapan menjadi goyah dan labil. Kebutuhan mendadak meningkat. Kepercayaan diri sebagai orang desa menyusut drastis.

Penutur bahasa pasar berbicara dengan gaya dan perangkat sosial yang meyakinkan: mobil baru, kulit bersih (terpapar AC terus), rumah bagus mendekati mewah (di kota dan di kampung), investasi di mana-mana, dan yang terpenting sikap dan gestur kultural necis yang rupawan.

Mudik dan Susutnya Bahasa Daerah
Mungkin problem urbanisasi tidak langsung berkaitan dengan bahasa pasar. Namun, saya yakin, kaum urban kota memberi pengaruh cukup besar untuk meyakinkan bahwa hidup di desa atau kampung adalah hidup yang “seadanya”, dan tidak bisa mengikuti pasar.

Atas dasar kekurangan dan hasrat hiperealitas ini, hal-hal yang berhubungan dengan kampung atau desa tidak lagi semenarik dulu. Dunia dan angan-angan mengenai desa berubah menjadi sempit, sedangkan kota seperti melambai menawarkan harapan besar dan luas.

Pada situasi serupa itu, daerah atau desa bukan lagi penjadi pusat kebudayaan. Desa benar-benar berada pada posisi pinggir sebagaimana wilayahnya yang terpencil. Sebagai “yang bukan lagi pusat kebudayaan”, desa kehilangan penutur dan tuturannya karena bahasa dibawa menuju urban kota, menjadi bagian besar kapitalisme uang, dan menyumbang ruang lebih luas bagi global language scape.

Apa daya bahasa ketika sudah kehilangan penutur dan tuturannya? Bahasa akan susut dan hilang. Bahasa daerah yang hilang memunculkan masalah baru tentang identitas. Desa tidak lagi menjadi landasan historis sebuah identitas. Tujuan hidup manusia seolah selalu diarahkan menuju ruang di mana identitas tidaklah menjadi penentu utama eksistensinya.

Lalu, bagaimana menerjemahkan mudik kaitannya dengan bahasa? Mudik selain sebagai aktivitas nostalgik karena hasrat yang sudah berlainan, juga menjadi ruang untuk reduplikasi-reduplikasi bahasa pasar yang baru dan lebih gres. Sasaran tuturnya pun lebih fresh. Angan-angan hiperealitas akan dirayakan dalam momentum yang singkat, tetapi dengan efek yang cukup memikat.

Jika hal ini memang terjadi, maka kondisi ini sungguh memprihatinkan. Hemat saya, desa adalah pusat identitas diri yang hakiki. Tempat diri menemukan realitasnya yang seimbang. Desa sesungguhnya adalah ladang subur bagi bahasa daerah dan kekuatan kearifan-kearifannya.

Bahasa Indonesia adalah saudara muda bahasa daerah. Sebagai saudara tua, posisi bahasa daerah seharusnya bisa menjadi kontrol sosial, kontrol diri dan hasrat, dan sekaligus (semoga) kontrol iming-iming urban kota. Jangan kalah dengan kota kecil di Mexico Tengah yaitu Purepecha. Kota itu mewajibkan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa daerah Purepecha dan Bahasa Spanyol.

Apabila terjadi harmoni yang “mesra” antara bahasa daerah dan bahasa pasar, hendaknya urbanisasi bisa ditekan. Iming-iming hiperealitas bisa dikurangi. Hendaknya mudik tidak melulu aktivitas berpindah tempat dari urban kota menuju kampung atau desa, tetapi bisa dilakukan sebagai asumsi kesadaran kembali ke diri dan identitas masing-masing.

Oleh karena itu, posisi pasar dan transaksi-transaksi menggiurkan di urban kota tidak selalu menjadi kebutuhan, melainkan pilihan negosiatif yang lunak dan tidak menekan. Jadi, jangan lupa berbahasa daerah yang baik saat tiba di kampung halaman! ***

Joko Santoso, pengamat budaya. Dosen kajian sastra Indonesia di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. 

Redaksi menerima tulisan opini dengan tema tidak mengandung SARA dan memperkukuh tegaknya kedaulatan bangsa. Kirim ke editorcendana@gmail.com

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.