Mugono Hidupi Keluarga dengan Membuat Kitiran Tradisional

Editor: Satmoko

652

YOGYAKARTA – Keterbatasan fisik tak membuat Wali Mugono (50) warga Karangwuni, Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, berdiam diri. Bapak 3 anak yang menderita penyakit syaraf sejak muda ini tetap mampu bekerja di tengah keterbatasannya.

Dengan kondisi tangan kanan yang tak berfungsi normal, ia membuktikan tetap mampu menghidupi keluarga dari membuat kerajinan berupa kincir angin tradisional.

Berbagai jenis kincir angin atau yang dalam bahasa Jawa disebut kitiran, ia buat seorang diri secara manual. Memanfaatkan kayu triplek, kayu reng dan kaleng susu bekas, ia bahkan mampu menciptakan kreasi baru kitiran tradisional.

“Biasanya kan kitiran seperti ini identik dengan tokoh punawakan Gareng dan Petruk. Tapi saya buat kreasi sendiri, seperti andong khas Jogja, tukang becak, gerobak sapi, orang bersepeda hingga orang naik kuda,” ujarnya saat ditemui di Jalan Wachid Hasyim, Wates, Minggu (10/6/2018).

Mugono mengaku membuat kincir angin tradisional itu secara otodidak. Penyakit dan keterbatasan fisik membuatnya lebih banyak di rumah. Sehingga ia pun mencoba membuat kerajinan dengan hanya melihat dan coba-coba.

“Sejak SMA saya sudah sakit seperti ini. Saya bahkan tidak melanjutkan sekolah karena malu. Akhirnya saya hanya di rumah bekerja seadanya,” kenang Mugono yang merupakan alumni Sekolah Menengah Musik (SMM) Bantul ini.

Menjual secara keliling menggunakan sepeda motor roda tiga, Mugono mengaku biasa menjual 3-5 buah kincir angin tradisional setiap harinya. Namun saat sedang sepi, tak jarang ia harus pulang tanpa hasil. Satu buah kincir angin tradisional sendiri ia jual dengan harga Rp35-50 ribu.

“Sehari paling saya hanya bisa buat 1 kitiran. Mulai dari mendesain, memotong kayu, merangkai sampai mengecat. Memang tidak bisa banyak, maklum karena saya bikin sendiri tanpa dibantu siapa-siapa,” ujarnya.

Mugono mengaku sengaja tidak menjual kerajinan kincir angin tradisional buatannya dengan cara dititipkan ke warung-warung, karena alasan keterbatasan produksi. Dengan keterbatasan yang dimiliki, ia mengaku tak mampu jika harus membuat kitiran dalam jumlah banyak dan dengan waktu singkat.

 

Lihat juga...

Isi komentar yuk