MUI Imbau Para Khatib Jauhi Tema Khotbah Bernuansa Politik Praktis

Editor: Koko Triarko

433
JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan tausiah berkaitan dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah.
“Insyaallah Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah tahun ini, penetapan perayaannya sama pada Jumat 15 Juni 2018,” kata Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin, mengawali tausyiahnya di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (12/6/2018).
Menurutnya, dengan tidak ada perbedaan, secara umum dapat mengurangi ketegangan dan tentunya kondisi Hari Raya Idul Fitri akan lebih baik.
“Hari Raya ini menjadi momentum silaturahmi umat Islam pada khususnya. Sebab Hari Raya Idul Fitri adalah yaumul marhamah atau hari kasih sayang,” tegas Ma’ruf.
Melalui momentum Idul Fitri, Ma’ruf mengajak seluruh pihak untuk tidak lagi saling mengedepankan ego kelompok, membenci, saling caci-maki, dan berprasangka buruk.
Selain itu, MUI mengajak kepada umat Islam untuk menyempurnakan puasa dengan mengeluarkan zakat fitrah, zakat harta, infaq, wakaf dan sedekah yang pelaksanaannya hendaknya dilakukan dan direncanakan secara baik dan benar, tanpa menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan.
Menurutnya, dengan mengedepankan kepedulian sesama khususnya, yatim, duafa dan kaum miskin, para ulama mengatakan, bahwa hal tersebut merupakan fardu kifayah. Sehingga tujuan berpuasa sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT benar-benar dapat tercapai, yaitu terbentuknya pribadi yang saleh.
Ma’ruf mengatakan, MUI mengharapkan agar pemerintah, khususnya pihak kepolisian dapat menjamin keamanan dan kenyamanan umat Islam, dalam merayakan Idul Fitri, baik pada saat perjalanan pergi dan pulang mudik, malam takbiran maupun pada saat pelaksanaan salat Idul Fitri, baik di lapangan, di masjid, surau, dan atau tempat lainnya.
MUI juga mengimbau para khatib salat Idul Fitri senantiasa menyampaikan pesan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, menebarkan salam perdamaian, baik kepada masyarakat yang di dalam negeri maupun dunia internasional.
“MUI mengimbau para khatib menjauhi tema-tema khotbah yang bernuansa politik praktis yang bisa menimbulkan perpecahan umat Islam,” ujar Ma’ruf.
Terlebih, menurutnya, Idul Fitri tahun ini dekat dengan agenda politik nasional berupa pemilukada, pemilihan legistatif dan pemilihan presiden 2019. Maka, perbedaan aspirasi politik harus dipandang sebagai rahmat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Semangat Idul Fitri diharapkan dapat mendorong terbangunnya pemilu yang lebih damai dan saling memahami, yang dilandasi nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesantunan, dan keadaban,” tegas Ma’ruf.
Ma’ruf mengingatkan, agar para khatib dalam tausiah Idul Fitri mengajak umat Islam melantunkan doa untuk seluruh umat Islam Indonesia maupun dunia. Terkhusus doa untuk umat Islam di Palestina, Rohingya, Kashmir dan Syiria yang mengalami berbagai penderitaan dan tragedi kemanusiaan.
Rais Aam PBNU ini juga mengingatkan, agar umat Muslim meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya narkoba, minuman keras dan segala bentuk perbuatan mungkar lainnya yang dapat merusak akhlak dan moral anak bangsa.
Ma’ruf menjelaskan, MUI juga mengajak dan mengimbau Umat Islam, agar memperbanyak silaturahmi dan merajut ukhuwah untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan sesama warga bangsa, sehingga dapat mengantisipasi kemungkinan yang memecah-belah bangsa.
MUI juga mengingatkan kepada masyarakat, khususnya saat menggunakan media sosial (medsos) untuk tidak menyebarkan informasi yang berisi kehobongan atau hoaks, ghibah, fitnah, naminah, aib, ujaran kebencian dan lainnya.
Baca Juga
Lihat juga...