MUI Soroti Program TV Belum Senafas Ramadan

302
Ilustrasi -Dok: CDN
JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia menyoroti sejumah program televisi yang mengusung tema Bulan Puasa justru belum senafas dengan Ramadan.
Penanggung Jawab Tim Pemantau Tayangan Televisi Ramadhan MUI 1439 H/2018 Masehi, Asrori S. Karni, di Gedung MUI Pusat Jakarta, Selasa (5/6/2018), mengatakan, program seperti Pesbuker Ramadan, Sahurnya Pesbuker, Ramadan di Rumah Uya, dan lainnya, justru isi acaranya tidak seiring dengan Bulan Puasa.
“Secara garis besar, ada tiga jenis acara yang patut disoroti. Pertama program televisi belum senafas dengan Ramadan, meski ada komitmen tinggi dari televisi untuk menyajikan siaran berkualitas di Bulan Puasa,” kata dia.
Pada poin pertama tersebut, dia mencontohkan acara Brownis Sahur di Trans TV yang menyajikan konten jauh dari nilai Ramadan, seperti adanya goyangan Geboy Mujaer, Perawan atau Janda dan Goyang Dumang. Gerakan yang disajikan cenderung erotis, dan tidak sesuai dengan nilai-nilai Ramadan.
Kedua, kata dia, televisi cenderung menyajikan konten Ramadan, tapi berisi tayangan yang tidak sehat, dengan diwarnai tindakan saling menghina, membongkar aib, caci maki, mempublikasikan pertikaian rumah tangga, pergaulan bebas dan tindakan lainnya yang tidak senafas dengan Islam.
Asrori mencontohkan, acara di Trans TV, yaitu Ramadan di Rumah Uya yang berisi tentang relasi percintaan, perselingkuhan, dan persoalan rumah tangga lainnya. Hal itu diperparah dengan adegan-adegan pertengkaran, saling mencaci, menuduh, menghina, dan membongkar aib.
Ketiga, lanjut dia, sejumlah tayangan Ramadan televisi patut dikritik karena kontennya belum senafas dengan Bulan Puasa. Tetapi, acara-acara itu memiliki iktikad baik untuk diperbaiki.
Dia mencontohkan, acara yang dimaksud seperti Semesta Bertilawah yang tayang di MNC TV. Secara konten sudah baik, tapi perlu perbaikan seperti adanya komentar pembawa acara Ari Untung terhadap peserta kontes tilawah bermana Adlani (9 tahun) dari Majalengka.
Dalam episode 18 Mei 2018, Ari mengomentari Adlani, “Adlani kayak lagi marah ke mic. Sudah dipotong burungnya?”. Dalam penggalan kalimat pembawa acara dinilai MUI sebagai pertanyaan tidak relevan dan bersifat privasi.
Asrori mengatakan, contoh-contoh tayangan Ramadan yang ada itu baru sedikit dari yang telah diamati oleh MUI. Secara garis besar, konten yang tidak senafas dengan Ramadan adalah tiga poin di atas.
Kendati begitu, dia memberi apresiasi kepada sejumlah televisi yang telah menyajikan tayangan Ramadan yang baik pada Bulan Puasa. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...