Museum TMII Benteng Pertahanan Budaya Bangsa

Editor: Satmoko Budi Santoso

242

JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah benteng pertahanan kebudayaan Indonesia. Selain pemerintah harus lebih memaksimalkan peran untuk pengembangan TMII, masyarakat juga harus segera sadar, kalau mau belajar kebudayaan seluruh Indonesia, datang saja ke TMII.

Demikian disampaikan Koordinator Museum dan Hubungan Kelembagaan TMII, Sigit Gunardjo, kepada Cendana News, Minggu (30/6/2018).

“TMII benteng pertahanan kebudayaan Indonesia. Salah satunya, museum merupakan pusat budaya edukasi kemajuan peradaban warisan leluhur yang hadir di TMII,” kata Sigit.

Dia menjelaskan, di antara museum-museum yang ada di Jakarta yang jumlahnya 60 lebih, sekitar 21 museum itu hadir di TMII. Di antara museum tersebut, sebagian berada di bawah pengelolaan kementerian dan lembaga.

Koordinator Museum dan Hubungan Kelembagaan TMII, Sigit Gunardjo. Foto: Sri Sugiarti.

Sigit berharap museum di TMII bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para pengunjung. Karena menurutnya, dengan mengunjungi museum, mereka tidak hanya mendapat hiburan tapi juga sarana edukasi sejarah budaya bangsa.

Dalam museum terdapat nilai-nilai sejarah, kepahlawanan, perjuangan, dan kebudayaan bangsa Indonesia. “Museum di TMII adalah sarana edukasi rekreasi dengan visi pelestarian khazanah budaya bangsa,” ujar Ketua Asosiasi Museum Indonesia Kawasan (AMIKA) TMII ini.

Sebagai pengelola, pihaknya selalu berupaya meningkatkan kualitas setiap museum yang ada di TMII. Mulai dari pemugaran bangunan, memodernisasikan fasilitas dan melengkapi koleksi-koleksi budaya sejarah.

Untuk menarik masyarakat mencintai museum, pihaknya juga menggelar berbagai kegiatan. Di antaranya, Gebyar Pesona Museum Nusantara (GPMN) dalam merayakan HUT Museum Indonesia pada Oktober 2017 lalu. Juga pemeran museum se-Indonesia ke 6 yang digelar pada perayaan HUT TMII ke 43 di Sasana Kriya, April lalu.

Selain itu, juga menggelar pameran museum bersama di luar TMII. Tujuan pameran ini, menurut Sigit, pertama untuk mensosialisasikan atau edukasi masyarakat tentang museum yang ada di TMII.

“Tujuan kedua, diharapkan mereka yang sudah kita edukasi tertarik mengunjungi museum yang ada di TMII,” kata Sigit.

Selain AMIKA gencar mengadakan acara, jelas dia, secara individu museum-museum di TMII juga membuat program yang menarik bagi pengunjung. Seperti memamerkan koleksi dan juga kunjungan ke sekolah-sekolah mengedukasi para siswa akan pentingnya museum sebagai sarana pembelajaran budaya bangsa.

Dari kunjungan tersebut, kata dia, banyak sekolah yang kemudian datang ke museum-museum yang ada di TMII untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah budaya.

Namun demikian, Sigit mengakui bahwa dalam pengembangan museum masih ada kendala, yakni minimnya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Pihaknya berharap SDM di museum TMII itu betul-betul diandalkan kemampuan promosinya dengan membuat program menarik bagi pengunjung.

Namun Sigit menyadari untuk sebuah program promosi itu membutuhkan dana banyak. Untuk memaksimalkan SDM, Sigit mengatakan, pihaknya terus berupaya menyiasati dan menjalin komunikasi dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi.

Misalnya, sebut dia, kerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) yang mempunyai jurusan Museumlogi.

“Itu kita coba kreasikan dengan program, untuk optimalkan SDM. Itu yang kita perjuangkan dan tidak bisa jalan sendiri. Perlu promosi. Promosi itu mahal,” tukasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.