Namuei, Lestarikan Budaya Kalimantan Tengah di TMII

Editor: Mahadeva WS

230

JAKARTA – Gerak gemulai penari usia belia berpadu iringan musik gandang garantung, alat musik khas Kalimantan Tengah (Kalteng), di Anjungan Kalimantan Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jumat (29/6/2018) tampak indah dinikmati.

Wajah-wajah ceria dengan gerak lincah yang sesekali diselingi gerakan memutar sambil memainkan alat musik ditangan menjadi hiburan yang menarik. Gerakan gemulai itu berperan melestarikan seni budaya bangsa, tarian tradisional Gangereng dari Kalteng.

Penari kecil tersebut merupakan, peserta latihan menari di Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Seni Budaya Sanggar Namuei, Anjungan Kalteng, TMII. Mereka rutin melakukan latihan setiap Rabu dan Jumat pukul 16.00-18.00 WIB.

Novi Nurhayati, salah satu penarinya menyebut,  baru dua bulan belajar tari di sanggar Namuei ini. “Saya ini orang Padang, Sumatera Barat, tapi tertarik tari khas Kalimantan Tengah,” kata siswi kelas 9 SMPN 34 Bekasi, Jawa Barat ini kepada Cendana News, Jumat (29/6/2018) sore.

Ketua Sanggar Namuei Anjungan Kalimantan Tengah TMII, Aat Nanyan. Foto : Sri Sugiarti.

Ketua Sanggar Namuei, Aat Nanyan menjelaskan, sanggar tersebut berada di bawah binaan UPT Anjungan Kalteng TMII. Sanggar didirikan pada 2008. Adapun nama Namuei  mengandung arti perantau. Sehingga anggota sanggar ini tidak hanya orang Kalteng,  tapi juga dari berbagai daerah, seperti Sumatera, Sulawesi, Jawa dan daerah lainnya.

Pesertanya-pun berjumlah ratusan. Namun sebagian dari mereka yang sudah berlatihan lama dan mumpuni menguasai tari tradisional Kalteng, sudah menjadi pelatih tari di luar sanggar. “Alhamdulillah mereka ada yang jadi pelatih tari di sekolah dan perguruan tinggi, bahkan melatih di  luar negeri mengharumkan bangsa. Yang sore ini berlatih ada 35 orang, mereka penari pemula,” jelas Aat.

Penari pemula ini sedang berlatih menari Gangereng. Filosofi tarian tersebut, menggambarkan kebersamaan dan gotong royong serta rasa syukur karena hasil panen berlimpah. “Tarian ini untuk acara pesta panen. Tapi bergesernya waktu, tarian ini bisa dibuat untuk tari persembahan atau pembuka selamat datang,” kata Aat.

Selain Gangereng, diajarkan pula tari Mandau, Ngaju, Baleas Dadas, Kayau, dan tarian lainnya Kalteng. Antusias anak-anak yang bergabung sangat luar biasa. Mereka bisa menyerap dan menerima kebudayaan daerah. Tari khas Kalteng terdiri dari beberapa tingkatan, mulai dasar hingga tahap tertinggi.

Latihan menari tersebut digelar agar, pengembangan dan pelestarian budaya Kalteng bisa terjaga. Hal tersebut, sesuai dengan visi dan misi Kalteng mengangkat kearifan lokal yang salah satunya budaya yang harus dilestarikan.

Adapun prestasi yang pernah diraih sanggar Namuei, adalah juara dua Parade Musik TMII, Penampil Terbaik Festival Seni antar Sanggar se-DKI Jakarta, dan juara the best performance di ajang seni di beberapa acara. Bahkan saat sanggar Namuei tampil di luar negeri, tepatnya di negara Eropa dan Asia menjadi the best performance.

Aat mengaku bangga bisa tampil di luar negeri bersama penari sanggarnya. Tampil di negara lain mewakili Indonesia mempromosikan seni budaya bangsa agar lebih dikenal lagi. Kebanggaan yang tak mungkin dilupakan adalah kepuasaan hati bisa maksimal tampil berkesenian di negara lain. “Tampil di mancanegara lebih merasa tarian yang kita bawakan itu dihargai dan dinikmati warga sana,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kalteng dan managemen TMII diharapkannya, dapat lebih bersinergi dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya Kalteng. Sehingga anjungan Kalteng dengan ragam budayanya dapat lebih dikenal dan menarik lagi. Tidak hanya bagi pengunjung masyarakat Indonesia, tapi juga turis mancanegara.

TMII sebagai miniatur budaya Indonesia mempunyai peran penting untuk melestarikan budaya nusantara melalui sarana edukasi. Sehingga dengan berlatih seni budaya di anjungan Kalteng adalah kenyamanan sarana edukasi bagi generasi milenia Indonesia.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.