Nasi Bandeng Sambal Dabu, Sajian Kunjungi Wisata Mangrove Sriminosari

Editor: Satmoko Budi Santoso

306

LAMPUNG – Sajian kuliner khas satu wilayah kerap berhubungan dengan sumber bahan baku yang melimpah sebagai sumber olahan untuk makanan yang lezat.

Wilayah Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur (Lamtim) yang berada di pantai timur Lampung menjadi sentra perikanan tangkap dan budidaya sebagai sumber bahan baku boga bahari.

Supami Eva (40), salah satu anggota koperasi konsumen nelayan Rukun Sido Makmur menyebut, hasil tangkapan ikan nelayan menjadi sajian khas di objek wisata yang hanya berjarak dua kilometer dari Jalan Lintas Timur Sumatera tersebut.

Salah satu sajian khas yang menjadi kuliner favorit pengunjung dan disediakan warung di Sriminosari adalah nasi bandeng presto, sambal dabu-dabu lengkap dengan cumi goreng, ikan bakar.

Sajian khas tersebut, menurut Supami Eva, bisa dinikmati sembari bersantai di saung-saung tepat di atas kawasan hutan mangrove. Penyedia warung kuliner disebut Supami Eva menyediakan beberapa saung sebagai tempat bersantai dan menikmati makanan serta minuman segar.

Supami Eva salah satu anggota koperasi nelayan Rukun Sido Makmur memperlihatkan menu nasi bandeng kuliner khas objek wisata mangrove Sriminosari [Foto: Henk Widi]
Ikan bandeng, disebut Supami Eva, kerap diperoleh dari produsen rumahan yang mendapat bahan bandeng dari sejumlah tambak dan menjadikannya bandeng presto.

Bandeng presto, disebut Supami Eva, bahkan kerap dibuat dengan bahan ikan bandeng, jeruk nipis lengkap dengan bumbu bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, jahe, garam, penyedap rasa.

“Saya kerap membuat bandeng presto untuk dikemas dan dibekukan, lalu disajikan dengan cara digoreng saat ada yang ingin menu tersebut,” terang Supami Eva, salah satu anggota Pokdarwis Desa Sriminosari kepada Cendana News, baru-baru ini.

Bandeng segar yang sudah dibuang insang dan kotorannya tanpa dihilangkan sisiknya, setelah dibersihkan lalu diberi perasan jeruk nipis untuk menghilangkan rasa amis bandeng.

Agar bau amis hilang bandeng yang sudah ditaburi air jeruk nipis didiamkan selama satu jam. Setelah itu semua bumbu yang dihaluskan dibalurkan ke dalam badan bandeng. Selanjutnya, alat presto dialasi dengan daun pisang lalu ditaburi dengan sejumlah bumbu pelangkap.

“Bandeng yang sudah ditata direndam dengan air hingga mendidih dengan alat presto. Selama satu jam tulangnya sudah lunak bisa diangkat dan didinginkan,” terang Supami Eva.

Setelah bandeng presto selesai dibuat, penyajian bandeng bisa dilakukan dengan menggoreng menggunakan kocokan telur. Bandeng presto bisa diolah juga dengan cara dipepes menggunakan daun pisang atau sekedar digoreng untuk diolah dengan berbagai menu sesuai selera.

Semua proses dan bahan pengolahan bandeng tersebut, diakui Supami Eva, diperoleh dari hasil pelatihan untuk pemberdayaan wanita agar bisa berjualan kuliner khas pesisir pantai di objek wisata.

Sajian bandeng presto yang sudah digoreng, diakui oleh Supami Eva, kerap disajikan bersama menu lain di antaranya cumi-cumi goreng dan ikan bakar. Namun saat musim terang bulan, sulitnya mencari ikan membuat menu ikan bakar bisa diganti dengan cumi-cumi.

Bandeng presto pun bisa disantap menggunakan sambal dabu-dabu. Sambal dabu-dabu merupakan sambal khas Manado yang sudah dikenal masyarakat pesisir pantai wilayah tersebut sebagai teman makan ikan bakar.

Bahan pembuatan sambal dabu-dabu cukup sederhana, di antaranya cabai merah, cabai rawit, bawang merah, tomat merah, daun kemangi, jeruk nipis, garam dan gula pasir.

Semua bahan yang sudah dipotong kecil-kecil di antaranya cabai merah, tomat dan daun kemangi dimasukkan dalam wadah khusus. Tambahkan garam, gula, perasan jeruk nipis dan diaduk hingga merata. Sambal dabu-dabu yang tidak ditumis sehingga terjaga kesegarannya bisa menjadi teman makan nasi lengkap dengan ikan bandeng maupun cumi goreng.

Hasan (50) salah satu pengunjung di objek wisata mangrove Sriminosari menyebut, sajian nasi bandeng, cumi goreng lengkap dengan sambal dabu-dabu cocok dinikmati saat siang.

Angin sepoi-sepoi khas pesisir pantai timur Lampung sembari menyantap kuliner boga bahari itu menjadi pelengkap setelah menyusuri objek wisata tersebut. Rasa gurih dari ikan bandeng presto yang disantap tanpa khawatir terkena duri, disebut Hasan, akan nikmat saat dicocol dengan sambal dabu-dabu.

“Rasa gurih bandeng dengan nasi hangat dipadukan kesegaran sambal dabu-dabu sangat cocok dinikmati setelah lelah berkeliling di trek bambu wisata mangrove,” papar Hasan.

Bandeng yang sudah dipresto tersebut, diakui Hasan, sangat nikmat disantap dengan nasi dalam kondisi hangat. Tambahan cumi goreng crispy dan tahu goreng yang bisa dicocol dengan sambal dabu-dabu bahkan mampu membuat berkeringat.

Suasana santai menikmati sajian kuliner hasil laut menjadi pilihan pengunjung [Foto: Henk Widi]
Selain bisa memesan sambal dabu-dabu bagi penyuka menu sambal lain jenis sambal terasi juga disediakan oleh pengelola. Harga yang ditawarkan untuk setiap porsi lengkap dengan nasi, sambal, es jeruk cukup terjangkau dikantong, mulai dari Rp25.000 hingga Rp30.000.

Hasan menyebut, dengan adanya daftar harga untuk berbagai kuliner yang disajikan membuat pengunjung bisa menakar kebutuhan dan daya beli. Namun semua jenis kuliner yang disajikan di warung berkonsep saung tersebut cukup beragam.

Selain nasi bandeng, ikan bakar, cumi goreng, di lokasi tersebut Hasan menyebut kerap disediakan menu minuman hasil laut di antaranya es rumput laut yang segar diseruput saat kondisi cuaca panas.

Baca Juga
Lihat juga...