Nilai Tukar Petani NTB, Meningkat

Editor: Koko Triarko

237
Kepala BPS NTB, Endang Tri Wahyuningsih (tengah)/Foto: Turmuzi
MATARAM – Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada  Mei 2018 tercatat sebesar 106, 69 persen, naik 0,61 persen dibandingkan bulan April 2018 yang hanya 106, 04 persen.
“Kenaikan tersebut menunjukkan kemampuan daya beli masyarakat mengalami peningkatan, karena kenaikan harga produksi relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga input produksi dan kebutuhan konsumsi rumah tangga”, kata Kepala Badan Pusat Statistik NTB, Endang Tri Wahyuningsih, Senin (4/6/2018)
Indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,75 persen dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) juga naik 0,14  persen. Kemampuan daya beli petani di NTB pada tiga subsektor juga berada di atas 100 alias cukup baik.
Tiga subsektor tersebut antara lain terdiri subsektor peternakan sebesar 124,26 persen, subsektor tanaman pangan 108,54 persen dan subsektor perikanan 106,19 persen,
“Sedangkan subsektor lainnya memiliki kemampuan daya beli yang rendah atau NTP di bawah 100, yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat 93,62 persen dan subsektor hortikultura 83,15 persen”, jelas Endang.
Ditambahkan, indeks harga yang diterima petani semua subsektor mengalami peningkatan, kecuali subsektor hortikultura yang turun 1,00 persen.
Peningkatan  paling tinggi  terjadi di subsektor peternakan sebesar 1,25 persen, dan yang terendah adalah subsektor tanaman pangan yang hanya meningkat 0,79 persen.
Subsektor tanaman pangan padi dan palawija pada Mei 2018, NTPP mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,61 persen dan 1,26 persen, hal ini disebabkan meningkatnya  harga penjualan kacang tanah, jagung dan gabah hasil produksi petani.
Subsektor  perkebunan  rakyat meningkat sebesar 0,76 persen, dari 92,91 persen menjadi 93,62 persen, disebabkan meningkatnya  harga jual hasil produksi tanaman perkebunan rakyat, antara lain kelapa, kopi, kakao, cengkih, tembakau, biji jambu mete dan kemiri.
“Demikian juga dengan subsektor peternakan mengalami peningkatan 1,11 persen, karena meningkatnya harga jual ternak maupun hasilnya seperti sapi potong, kerbau, kuda, kambing, domba, babi, itik, burung merpati, ayam buras dan ayam ras pedaging”, katanya.
Endang menambahkan, untuk subsektor perikanan mengalami peningkatan 0,77 persen, karena harga penjualan hasil tangkapan seperti udang, baronang, bawal, belanak, biji nangka, cakalang, julung-julung, kakap, kapasan, kembung, kerapu, kuniran, kurisi, layur.
Baca Juga
Lihat juga...